Oleh: Shaykh Abdalhaqq Bewley, di Kellat M’gouna – Maroko, April 2017.

Betapa pentingnya pertemuan antara Ian Dallas – yang segera menjadi Shaykh Abdalqadir as-Sufi – dan Shaykh Muhammad ibn al-Habib al-Amghari al-Idrisi pada bulan Juni tahun 1968 tak bisa bisa dilebih-lebihkan.

Saya sudah pernah berbicara panjang lebar di kesempatan lain tentang bagaimana selama empat ratus tahun terakhir terjadi perubahan mendasar pada sebagian besar insan manusia memahami kehidupan. Pada kesempatan di sini pada waktu ini bukanlah saatnya untuk merincinya namun memadai jika dikatakan bahwa pada rentang waktu tersebut cara pandang duniawi yang disebut sebagai materilialisme saintifik yang secara umum didasarkan kepada spekulasi-spekulasi teoretis filosof Rene Descartes dan teori-teori matematis Isaac Newton, telah teresap dalam kesadaran insan di seluruh penjuru dunia. Atas nama modernisme cara pandang itu telah dikembangbiakkan di seluruh persada dunia melalui adopsi global sistem pendidikan. Secara khusus itu merusak pengamalan Din Islam karena cara pandang itu mengacaukan asas-asas keyakinan Islam, pemahaman yang sahih atas keahadan, pengesaan Allah, tauhid.

Pengacauan itu dilakukan melalui pengertian ketergantungan sedemikian besarnya pada kasualitas – hubungan sebab akibat. Diktum populer Francis Bacon ‘Tuhan bekerja di alam semesta hanya melalui penyebab-penyebab sekunder’  dan hukum gerak ketiga-nya Newton ‘Untuk setiap usaha terdapat reaksi yang setara dan berlawanan’ – menjadi dasar dari hampir seluruh eksperimen dan penemuan ilmiah setelahnya – menyisihkan Ilahiah dari keterlibatan di alam dunia.  Ini secara mutlak menyangkal Ketetapan Qur’ani tentang bagaimana berbagai hal berlangsung. Banyak ayat-ayat Kitab Allah menjelaskan bahwa terjadi keterlibatan langsung Ilahiah atas segala sesuatu yang berlangsung di alam dunia. Menetapkan bahwa akibat-akibat bergantung pada penyebab-penyebabnya adalah syirik tersembunyi. Suatu pemahaman sahih atas tauhid menampakkan bahwa akibat-akibat itu berdampingan dengan penyebab-penyebabnya; akibat tidaklah terjadi karena penyebabnya. Dalam tiap-tiap kejadian tak ada aktor yang berperan selain Allah.   

Seperti khalayak pada umumnya, Muslimin juga telah diindoktrinasi dengan materialisme saintifik  dan dari satu sudut pandang berada dalam kondisi yang lebih parah daripada kalangan non-muslim. Muslimin mengira, karena mereka telah menyebutkan ikrar tauhid di lidah-lidahnya, mereka menjadi kebal dari dampak-dampak tersembunyi yang berbahaya itu.  Hanya saja muslimin terbukti sama rentannya terhadap berbagai kilah tersebut sebagaimana kalangan non-muslim. Muslimin pun secara tegas berpendapat bahwa kebenaran sains itu berbeda dari kebenaran agama. Seperti hampir setiap orang, muslimin moderen pun telah memisahkan Ilahiah dari keterlibatan langsung dalam berbagai proses alaminya, memandang keterlibatan Ilahiah semata-mata dalam pengertian keterlibatan penyebab sekunder. Ia pun menatap kehidupan melalui teleskop ala Galileo dan melihat sebuah alam semesta yang mekanistik seperti cara pandang Newton dengan benak yang terlumuri dualismenya Cartesius.

Dalam konteks inilah perjumpaan antara Shaykh Abdalqadir as-Sufi dan Shaykh Muhammad ibn al-Habib terbukti amat mustahak bagi Islam di masa ini. Ketika penjajah kolonial Perancis mulai menguasai Maroko di tahun 1912, Shaykh Muhammad ibn al-Habib sudah separuh baya. Seluruh pendidikan tradisional Islami-nya sungguh-sungguh tidak terpengaruh sama sekali oleh materialisme saintifik. Pendidikan yang dijalani beliau sudah berusia seribu tahun lebih dan bisa secara langsung disusuri jejaknya kembali kepada Madinah-nya Imam Malik dan sebelumnya hingga kepada Rasulallah dan Sahabat-Sahabat Baginda. Dengan kata lain beliau sepenuhnya tidak terkontaminasi oleh wawasan dunianya para modernis. Ini terpancar dari kitab Diwan-nya dan pada daras-darasnya yang masih terpelihara dan karena itulah sedemikian banyak pengajaran beliau menekankan bahkan menuntut-mewajibkan perlunya tauhid yang tahir. 

Di sisi lain, Shaykh Abdalqadir as-Sufi, sepenuhnya terdidik dalam etosnya para modernis. Hanya saja beliau tidak merasa puas berdiam dalam kungkungan dinding-dinding yang memenjarakan itu, dan kemudian telah  menjebolnya dan dengan sepenuh hati menerima berbagai terobosan-terobosan dalam sains dan filosofi yang telah menolak dan di banyak hal telah menjungkirbalikkan berbagai asas aturan hukum yang menjadi dasar konstruksi bangunan besar tempat berdirinya materialisme saintifik itu. Penolakan dan penembusannya atas wawasan dunia ala Cartesius/Newton itu memampukannya untuk menyerap dan menerusedarkan pemahaman sahih atas tauhid yang diterimanya dari Shaykhnya. Kitabnya The Way of Muhammad memberikan penjelasan jalan setapak yang telah ditempuhnya menuju pemahaman sahih itu dan pada kitabnya The Book of Tawhid(KITAB TAUHID –telah diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia oleh penerbit ”MAHKAMAH’, 2020)– terkandung contoh ketahiran dari kepahamannya itu. Seluruh karya tulis dan pengajarannya, dilandasi dan didukung oleh kesahihan ilmunya itu.

Pertemuan mereka itu terjadi di sebuah kota bernama Kenitra, yang dalam bahasa Arab berarti “Jembatan”, dan memang itulah sebuah jembatan, sebuah jembatan yang mengatasi tiga abad proyek para modernis dan tipu daya separuh sahihnya tentang sifat alami kehidupan. Perjumpaan antara Shaykh Muhammad ibn al-Habib dan Shaykh Abdalqadir as-Sufi secara langsung menghubungkan keyakinan tauhid, inti sari pengajaran din Allah yang tradisional dan murni tak tercampur apapun  kepada suatu pemahaman otentik asli terbarui tentangnya yang merekah lewat berbagai penemuan-penemuan terkini mengenai sifat-sifat alami kehidupan. Sejak awal mulanya, ilmu tentang tauhid adalah daya penggerak Islam. Itulah yang memampukan masyarakat generasi pertama menaklukkan separuh dunia dalam satu generasi, dan itu pulalah yang menjadi landasan tiap-tiap regenerasi Islam sesudahnya.

Tak diragukan bahwa transmisi otentik perihal kenyataan tauhid itulah yang merupakan pusat inti sari pengaruh Shaykh Abdalqadir as-Sufi di Afrika dan, tentu saja di berbagai penjuru dunia dimana pengaruhnya terasakan. Sesungguhnya terdapat dua negeri di Afrika dimana pengaruh beliau terasakan sedemikian langsung dan nyata. Yang pertama adalah di Nigeria. Sekelompok kecil muridnya telah diutus ke bagian tenggara negeri itu di akhir tahun 1970-an. Mereka menetap di sana selama setahun, berdakwah kepada masyarakat di tempat itu untuk kembali kepada Islam.  Tak lama kemudian sekelompok pemuda Muslim dari utara Nigeria datang untuk belajar di Norwich, Inggris tempat Shaykh Abdalqadir as-Sufi tinggal saat itu. Mereka menjadi murid-muridnya dan, ketika mereka kembali ke tanah airnya, membangun sebuah masyarakat berdasar pengajarannya, yang terus berlanjut hingga kini. Cukup sulit untuk mengukur dengan tepat berapa besar pengaruh tersebut, yang pasti penerjemahan karya-karya ulama dan mujahid besar Fulani, Shaykh Uthman dan Fodio, berawal dari hal itu, telah memberikan pengaruh amat besar dan terus menerus hingga kini baik di Nigeria maupun di seluruh negeri berbahasa Inggris di dunia.

Negeri lainnya adalah di Afrika Selatan, dimana Shaykh Abdalqadir as-Sufi menetap sejak tahun 2000 hingga awal tahun ini [saat daras ini disampaikan di akhir April 2017, Sayyidina Shaykh Abdalqadir as-Sufi telah tinggal di Perancis sejak awal tahun; beliau kini kembali menetap di Cape Town, Afrika Selatan]. Selama menetap di negeri itu, selain berbagai karya tulis dan program pengajarannya, beliau juga telah membangun dua kolese berharkat – kolese Dallas dan Lady Aisha – dan Masjid Jumu’a Cape Town. Aktivitas dakwahnya, sepanjang kehadiran beliau di sana, amat produktif dan telah berhasil mewujudkan terbentuknya berbagai kumpulan di tiap-tiap strata sosial di seluruh penjuru negeri Afrika Selatan itu. Bahkan sesungguhnya bisa jadi komunitas Muslimin yang direkatkannya itu adalah satu-satunya arena dimana seluruh rintangan pembatasan sosial, ekonomi dan politik yang didirikan selama sistem apartheid sungguh-sungguh telah dirobohkan. Komunitasnya Shaykh Abdalqadir as-Sufi benar-benar menyatupadukan seluruh kelompok-kelompok heterogen yang ada – suatu keberhasilan, yang  sangat disayangkan telah gagal dicapai berbagai inisiatif lain.

Demikianlah beberapa contoh pengaruh nyata Shaykh Abdalqadir as-Sufi di Afrika, dan tentu saja amatlah sukar mengukur pengaruhnya dalam perihal yang tak terlihat. Sewaktu Dr. Aziz El Kobaiti, ilmuwan Maroko, melakukan riset untuk tesis doktornya tentang pengaruh Sufisme Maroko dalam Islam di Amerika Serikat [https://www.amazon.com/Islamic-Sufism-West-Kobaiti-Idrissi/dp/1908892072], lalu mendalami sumber-sumber di berbagai kelompok yang ditelitinya ia mendapati bahwa Shaykh Abdalqadir as-Sufi amat erat terlibat dalam kemunculan dari tiap-tiap kelompok tersebut. Hanya saja hampir semua anggota baru kelompok-kelompok tersebut tidak menyadari peran penting yang telah dijalani beliau dalam terbentuknya kelompok tersebut. Yang ingin saya katakan adalah bahwa pengaruh Ahli Allah begitu jauh jangkauannya melampaui dari apa yang nampak di permukaan, sehingga tidak mungkin bisa diketahui secara pasti sejauh apa pengaruh Shaykh Abdalqadir as-Sufi terhadap Islam di benua Afrika di masa ini.

Apa yang dapat kita ketahui secara pasti, di satu sisi, adalah betapa tingginya aspirasi beliau terhadap Muslimin di Afrika. Hal ini demikian nyata terlihat dan diungkapkan melalui bukunya, Letter to an African Muslim. Karena itu saya akan menyampaikan beberapa kutipan dari karya penting itu. Beliau mengawali buku itu dengan sebuah analisis sangat tajam dan mendalam tentang lanskap politik dan ekonomi Afrika di masa kolonial dan pasca-kolonialnya. Lalu beliau mengungkapkan tentang Islam di Afrika di bagian akhir buku. Beliau mengawali dengan menyatakan bahwa masa depan Islam di Afrika berada di tangan-tangan ahli Sufi. Beliau menulis: “Melalui kebangkitan kembali dengan penuh gairah dari tarekat Sufi maka Islam akan merevitalisasi Afrika. Faktor paling penting adalah tidak boleh ada rasa bersaing atau rasa permusuhan yang muncul di antara berbagai tarekat… Hanya para Sufi yang mampu menciptakan suasana saling percaya dan persaudaraan yang tanpanya tak akan memunculkan kebangkitan kembali Islam.”

Beliau melanjutkan: “Kita harus berusaha untuk memadukan khalayak yang mencintai Allah… Kaum Muslimin seluruhnya memiliki dua elemen atas hidupnya: satu, perilaku lahiriahnya, yang tidak hanya sekedar saleh dalam ibadah namun juga santun, ramah, tersenyum, menerima dengan hangat, berharap yang terbaik bagi insan manusia dan mendoakan dengan hati yang baik untuk terus berkembang dan terpenuhinya apa yang mereka idamkan; dua, perilaku batiniahnya yang akan benerang melalui tafakur dan zikir, melalui bimbingan menuju keyakinan mendalam atas tauhid, ia akan menjadi seorang rijal yang mencintai si miskin, yang lebih mengutamakan majelisnya rijal ahli Allah dari pada sekumpulan orang penggemar ilusi kekuasaan sementara, dengan melalui ini, orang-orang akan mencintainya, mempercayainya dan meneladaninya.”

Shaykh Abdalqadir as-Sufi kemudian menganjurkan mazhab Maliki  sebagai sarana terbaik untuk mencapai tujuan ini, dengan berkata, “Jalannya Malik itu perwujudan perilaku. Ia didasarkan pada perangai, perangai tingkah laku Ahli Madinah. Ini adalah sebuah kisi-kisi jejaring hukum yang didirikan berdasarkan pola yang diambil dari masyarakat kota Nabi selama masa Sayyidina ‘Umar dan juga’ Aisha… Ini, bisa kita katakan, sumber asal sistem kemasyarakatan Islami, cetak biru aslinya.” Beliau mengakhiri bagian ini dengan menulis: “Maka kami simpulkan bahwa kini bisa untuk menggairahkan Islam di Afrika melalui adopsi dengan segera kalamnya al-‘Ashari, fikihnya Malik, dan tasawufnya al-Junayd… yang tak lain adalah tradisi besar dan utama Islam di Afrika. Ambil dan gunakanlah.”

Beliau mengakhiri bukunya dengan ajakan kepada tarekat zikir kepada Allah. Beliau menjelaskan wirid baku dari tarekat Shadhiliyyah Darqawiyyah lalu berkata: “Dengan cahaya-cahaya yang terkandung dalam bacaan ini Allah akan membimbingmu kepada majelis seorang Shaykh yang bisa menginisiasimu ke dalam berbagai keberkahan, cahaya-cahaya dan sir hatimu sendiri melalui ilmu-ilmu halal dan terpuji. Dan ilmu tertinggi adalah ilmu tentang Allah. ‘Bertakwalah kepada Allah dan Allah akan memberimu ilmu.’ Sebagaimana Shaykh Muhammad ibn al-Habib, semoga Allah meridainya, berkata dalam Diwannya:

Mereka semua yang telah memperoleh ilmu dan kecakapan

Hanyalah memperoleh itu semua dengan menemani seorang rijal yang rendah hati

Yang saya maksud adalah Sang Shaykh yang cahayanya melimpah ruah

Dan telah membawa berbagai sir dan kekayaan dengannya.

Jika engkau mengidamkan cahaya-cahaya dan terbukanya basirah

Maka tirulah dia dalam memuliakan Allah dan berpalinglah dari konflik.

Beliau juga berkata, dan inilah kata penutupnya, insha’Allah:

Ya Rabb rahmatilah Rasul selama Surat al-Mathani terus dibaca dan bagi Keluarganya dan seluruh Sahabatnya selama orang-orang memperoleh keuntungan karena beriman.

Saya memohon kepada Al Haqq kebahagiaan bagi semua orang yang tercakup dalam usiaku.”

Diterjemahkan oleh: Malik Hermanadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *