Oleh: Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi

Ini adalah judul kuliah yang diberikan pada tahun 1990 di University of Malaya, Malaysia.

Saya mengambil judul ‘Pasangan Kolaboratif’ dari Al-Qur’an, di mana Allah mengisahkan tentang orang-orang yang memasuki ‘taman’-Nya dengan berfirman: “Mereka datang dengan sendirian maupun berpasang-pasangan”. Saya merasa bahwa ini memuat pengetahuan yang luar biasa besar, jika kita hendak mengambil pelajaran darinya.

Karenanya, saya ingin berbagi pandangan dengan anda tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai cita-cita penting yang memandang pasangan (couple) sebagai entitas spiritual. Mengingat watak masyarakat dewasa ini serta kerangka kerja dan pendidikan intelektual yang mencetak manusia saat ini, dapat dikatakan bahwa dari mana pun mereka berasal, mereka telah diberikan jaringan pendidikan yang sama. Oleh karenanya, mereka memiliki cara berpikir yang sama.

Sebelum saya lanjutkan, saya hendak mengetengahkan sebelumnya bahwa kita tidak hidup pada masa di mana segala sesuatunya berjalan sebagaimana fitrahnya. Siapa pun yang membayangkan bahwa apa yang telah terjadi selama dua puluh lima tahun terakhir ini entah bagaimana akan terus bergulir, telah benar-benar keliru. Kita sedang berada pada penghujung siklus besar suatu zaman. Tidak syak lagi bahwa seluruh fondasi intelektual yang mendasari keberadaan abad mengerikan ini sudah berakhir dan sirna tersapu. Harus anda pahami bahwa fondasi dan metodologi taktis yang pada level sekian dikenal sebagai studi akademis itu telah didevaluasi, dihancurkan, dan berakhir. Orang-orang yang terakhir mengetahui hal ini adalah orang-orang yang menghasilkan tesis dan sudut pandang berdasarkan metode dialektika pemikiran barat selama seratus tahun terakhir. Mari kita katakan bahwa kondisi manusia hari ini sedang berada pada malam menjelang berakhirnya negara-dunia. Kita sudah hidup dalam masyarakat pasca-literat. Ini harus anda pahami, dan jangan lagi terjerat oleh ilusi-ilusi, sebab anda seorang literat. Anda sudah lekat dan lumrah dengan apa yang anda sebut sebagai pendekatan metodologis. Anda mengambil zona nyaman di dalam masyarakat yang ‘aman’ dengan cara berperan-serta di dalamnya. Dunia modern ini telah sampai pada keputusan politik yang berkenaan dengan masa depan. Dan keputusan itu adalah melengserkan kemampuan literasi massa. Elemen komunikasi utama orang-orang modern pada abad mendatang akan berupa komunikasi komputer. Apa yang saya maksud mengenainya adalah sistem permainan paling primitif yang tersedia untuk massa, seperti video, film-film dalam jumlah besar yang tanpa konten spiritual atau imajinatif, kartun, musik mekanistik, pop, rock, dan elektronik. Dunia komunikasi yang mendominasi pada adab mendatang adalah buku-buku komik strip. Ini bukan semacam analisis futuristik. Ini adalah masyarakat urban saat ini.

Pada tahun lalu di Jepang, 60% literatur yang diterbitkan adalah dalam bentuk komik, dan dalam suatu seminar internasional, dinyatakan secara terbuka bahwa pencapaian ini belum cukup baik. Mereka tak akan puas hingga 40% hasil cetak lainnya dikurangi secara radikal. Tak sampai di situ, salah seorang ideolog bangsa mereka mengusulkan bahwa sangat penting untuk tak ada seorang pun yang mengklaim bahwa “masyarakat literat adalah masyarakat yang superior atas masyarakat pembaca gambar.” Masyarakat pasca-literat ini akan menghasilkan makhluk yang di-valiumisasi dalam jumlah besar.

Masyarakat baru tersebut akan memiliki lima aspek. Ini bukanlah futurisme, melainkan memang kondisi manusia modern. Ciri khas pertama dari makhluk massal ini adalah bahwa ia dapat diprogram. Ia akan menerima instruksi sosial mengenai perilaku dan tindakannya secara ter-acu. Contohnya adalah dipilihnya ghetto-ghetto orang kulit hitam di Amerika dengan sengaja untuk menjadi tempat pengembangan tarian breakdance, yang sengaja diprogramkan untuk pemuda mereka, tepat sebelum terjadinya kerusuhan berbahaya di kala musim panas. Ini adalah tindakan politis yang dengan sadar dan disengaja untuk mengalihkan ketidakpuasan sosial komunitas kulit hitam.  Kedua, mereka tidak akan merasakan kesangsian. Dengan kata lain, mereka tak akan mampu bertanya, dalam proses kesadaran aktifnya, kepada siapakah mereka patuh. Mereka tidak bisa melakukan apa yang Socrates lakukan ketika dihadapkan dengan sebuah posisi moral, yakni memeriksanya secara dinamis untuk mencari tahu apakah bahwa justru posisi moral itu adalah sebaliknya. Oleh karenanya, ilmu tentang moral akan dihilangkan.  Ketiga, mereka akan diarahkan ke segala yang luar-diri (lahiriah). Program sosial akan sedemikian kuatnya, baik dalam pekerjaan maupun permainan, untuk meniadakan kemungkinan zona dalam-diri (batiniah). Jika pun ada pendalaman-diri, yang mungkin dapat dilakukan untuk merasakannya adalah dengan obat kimia. Keempat, makhluk massal ini akan menjadi makhluk non-disruptif. Mereka akan dilatih untuk bisa menerima keadaan sosial. Contoh terkait hal ini adalah semacam pertukaran sosial yang terjadi di suatu hotel atau di dalam pesawat terbang dengan segala sesuatu yang “baik-baik saja” (alright), ungkapan terkenal untuk “tidak masalah” (no problem). Kelima, mereka akan menjadi orang-orang yang tunduk patuh terhadap sistem. Ketika mereka digiring ke dalam sistemisasi baru untuk menghilangkan atau mengimbangi perubahan atau krisis sosial, mereka akan tunduk pada program baru tersebut. Jika mereka diperintahkan untuk harus menerima multikulturalisme, maka multikulturalisme pun akan menjadi bagian dari sudut pandang mereka. Apa pun yang ditawarkan kepada mereka, bahkan masalah dialetkika tentang kegembiraan dan debat, dengan tunduk-patuh akan mereka terima. Bagi makhluk massal ini, respon negatif apa pun mengenai program yang diberlakukan terhadap mereka akan terkesan malfungsi. Oleh karenanya, setiap pertanyaan tentang masyarakat akan didefinisikan lewat sudut pandang kriminal atau medis. Pasifikasi massal menyiratkan adanya sekumpulan oligarki kecil. Tak mungkin setiap orang dibuat ‘tenang’ jika obat penenangnya tidak ada. Karenanya, harus kita identifikasi bahwa ada sekumpulan elit di sini; bukan elit rahasia, ataupun elit konspirasional, tetapi sekumpulan elit kekuasaan yang fungsi dasarnya adalah untuk memastikan tidak adanya campur tangan massa terhadap eksploitasi berkelanjutan mereka, yakni pencurian kekayaan dunia dan sumber daya manusia selama berabad-abad.

Realita sosial dewasa ini dapat didefinisikan dengan metafora yang sangat menarik. Dapat kita katakan bahwa kita telah berpindah dari seorang jenius besar dan seorang pengaba musik asal Jerman, Herbert von Karajan, yang baru saja meninggal dunia tahun ini, dan sebagai gantinya, kita memiliki Sony, perusahaan raksasa asal Jepang. Ada hubungan antara keduannya. Karajan adalah seorang yang dalam dirinya bak terdapat makhluk spiritual nan penuh kedinamisan, amat kuat, dan sangat besar. Pertunjukan musik klasik yang ia pimpin adalah peristiwa yang sangat penting! Dalam dirinya, seolah-olah merupakan individu yang berdaulat atasnya, terkandung perwujudan ekspresi para komposer akbar (Beethoven, Strauss, Bach, Mozart), yang ia ejawantahkan menjadi sangat kental dengan ekspresi dirinya sendiri. Anda mendengarkan Mozart, namun yang anda lihat di hadapan anda adalah pria lain yang membuat ekspresi musik Mozart menjadi miliknya sendiri. Kualitas pria ini terwujud dalam caranya mengelola orkestranya – seperti seorang yang memiliki semacam kekuatan mengendalikan angin puyuh. Ia tak mencari pertentangan atau perlawanan dari para musisi berbakat pada umumnya, sebab mereka menciptakan suara yang mereka sendiri tak pernah mendengarnya. Ia menggiring mereka ke dalam dimensi kesadaran yang berbeda. Semua orang (pemusik) yang bermain untuknya menegaskan bahwa mereka tak pernah bermain seperti itu sebelumnya dan mereka seolah tak pernah mendengar musik sampai saat mereka bermain dengannya.

Pada tahun-tahun terakhir dalam hidupnya, pihak Sony memintanya berpartisipasi dalam sebuah proyek untuk mempertunjukkan dan mengabadikan aksi pengabaan musiknya dalam video berkualitas tinggi, dan karena ia sedang berada pada periode peralihan dalam sejarah hidupnya, ia pun menyetujuinya. Pihak Sony akan memfilmkan aksi pengabaan musiknya, dan Karajan sendiri yang akan mengawasi setiap rincian produksinya. Namun sebenarnya, produk akhir dari proyek ini adalah reproduksi mekanis atas peristiwa hidup. Sebelum akhirnya ia meninggal, ia telah membuat serangkaian video. Semua itu merupakan penggalan-penggalan dari dahsyatnya musik-musik  yang telah ia pimpin sebagai pengaba. Oleh karena itu, Karajan sendiri telah menjemput ajalnya, dan Sony pada saat itu telah menggenggam teken kontraknya, sehingga Karajan yang menjadi pengaba orkestrasi musiknya nan gemilang itu menjadi milik Sony. Akan tetapi itu bukan lagi Karajan, melainkan reproduksi mekanis dirinya. Pada tahun di mana ia akan meninggal dunia, mereka datang kepadanya dan mengatakan ‘kita belum akan berhenti di sini’. Mereka memperlihatkan kwartet musik berdawai yang memainkan karya Schoenberg ketika di rumahnya di kota Salzburg, yang tidak ada di sana. Itu berupa hologram. Mereka berkata, “Kita belum selesai, kita akan mulai melakukannya secara holografis dan kita akan memiliki segenap Berlin philharmonic orchestra di ruang tamu kita.” Sehingga kita berpindah dari Karajan ke Sony. Pada titik ini, artinya Sony menjadi pemimpin dunia komunikasi, tiada lagi Karajan yang menjadi pengaba orkestra. Kini segenap dunia musik (klasik) mengakui bahwa jika mereka ingin mengadakan pertunjukan musik dengan intensitas wawasan spiritual seperti yang Karajan lakukan, tidak ada lagi sosok pengaba yang bisa melakukannya. Era luar biasa yang diisi para individu raksasa,  baik atau buruk, terserah penilaian anda tentangnya, telah berakhir, dan era manusia kerdil berdemokrasi pun mencuat. Itu bab pertama. Sekarang yang kedua!

Kita ingin dapat berpikir dan melihat melampaui metode sistematis. Cara berpikir strukturalis, yakni ketika anda berpikir di dalam struktur, sudah menjadi hal yang berbahaya. Hal berbahaya yang kedua adalah metode dialektis – dinamika berpikir anda dengan melalui proses dialektika. Ia sendiri merupakan hal yang mudah diketahui merusak dan menyederhanakan, sebab ia memberlangsungkan ‘dirinya’ dengan menjamin sebuah gerakan maju yang memperkenalkan material baru, seperti tesis, antitesis, dan sintesis, yang menciptakan unsur baru ini dengan mengambil argumen dari dua sisi. Sebagaimana yang kita ketahui, metode (berpikir) dialektis telah menjadi dasar dari semua diskusi politik. Ia mendasari diskusi politik dengan ilusi perubahan. Apa yang hingga kini tersaji sebagai dialektika kanan versus kiri, yang salah satu dari keduanya tentu sudah mengoyak-ngoyak negeri anda menjadi bagian-bagian kecil lalu mereformasinya, telah memindah-tangankan negeri anda ke kekuatan golongan monetaris internasional yang kini berkuasa atasnya. Dialektika kiri-kanan, timur-barat, kini telah dapat dilihat sebagai hal yang sepenuhnya kepalsuan, manakala sebuah kekuatan baru yang muncul mengindikasikan persatuan marxis dan monetaris. Yang ketiga adalah mitos objektivitas, sesuatu yang secara saintifik dianggap superior atas semua bentuk pemikiran lainnya, yang kini telah benar-benar terkuak bahwa objektivitas adalah “mitos”. Ia berarti bahwa anda dapat memandang keluar dari pengalaman manusia dan menganalisis ‘yang-lain’, atau objek, anda dapat membagi-baginya dan menguji atau memeriksanya, menjadikan diri anda seorang pengamat sosiologis.  Menjadikan tipu daya ini sebagai acuan merupakan menyandikan perbudakan materialis sebagai idealisme. Sebagaimana Goethe katakan, “mustahil alam dipikirkan sebagai sistem, alam adalah kehidupan.”[1]

Pembongkaran metode pendidikan yang mencelakakan di zaman ini secara menyeluruh bukanlah persoalan intelektual. Apa yang diperlukan adalah sebuah cara baru dalam melihat, yang terkoneksi dengan energi perasaan dan cinta dalam kehidupan. Jika kita hendak mengatasi masalah ini kita harus membongkar penjara bernama strukturalisme kontemporer. Apabila kita dapat memecahkan sandi mekanisme negara strukturalis dengan tepat, akan kita dapati bahwa ia tidak bergantung pada banyaknya bagian-bagiannya, ataupun bagian intinya, melainkan pada pengendaliannya atas bingkai batiniah kehidupan pribadi manusia, yakni keluarga. Negara modern, yang tak lain ialah tirani, benar-benar sesuatu yang antipati terhadap kondisi manusia serta kebebasannya. Pada hakikatnya ia bergantung dengan pengendalian dan aneksasi keluarga (sebagai institusi, penj.) Bentuk masyarakat modern saat ini sedang berevolusi menjadi negara-negara super. Secara logis, Eropa adalah yang paling sukses dari semua bentuk masyarakat baru ini dalam bergerak menjadi sebuah negara-dunia yang sejak Revolusi Prancis telah mendeklarasikan dirinya demikian. Bersamaan dengan negara-negara super tersebut akan ada mata uang-mata uang tanpa nilai numerik, yang berpindah ke mata uang super, dan berakhir dengan mata uang dunia (global) bersamaan dengan penggantian uang itu sendiri secara mendasar dengan numerologi terkomputerisasi. Ini akan mereduksi uang menjadi token pertukaran kecil (small change tokens) dan masyarakat dunia menuju perbudakan utang (debt enslavement). Semua ini diwujudkan bukan dengan adanya Interpol, ataupun komputer polisi, melainkan dengan mengendalikan model dasar manusia, yakni keluarga, melalui sebuah pola kuno dan sederhana, yakni negara budak (atau keadaan terbudak; slave state) bernama demokrasi liberal. Keadaan kita saat ini sudah tiba pada institusionalisasi drama inses. Yakni Model Oedipus (The Oedipal Model).

Kita memasuki bab ketiga. Di dalam negara modern, anak yang baru lahir memperbaiki hubungan terproyeksi ibunya yang tidak bisa disadari melalui titik-titik berkesadaran rendah (lower centres). Sebagaimana kita ketahui bahwa titik-titik berkesadaran rendah tentang seksualitas mengembangkan tabu. Dengan watak eksistensi keluarga yang kita alami saat ini, anak membuat ibunya terproyeksi ke dalam ranah afektif, sebuah hubungan yang menghambat transferens anak menuju kedewasaan. Dengan kata lain, menghasilkan laki-laki yang gagal dalam melihat orang lain. Karena laki-laki yang lahir ini mampu melanjutkan jalinan hubungan (relationship) efektif dengan sang ibu, dalam tingkat kesadaran tertingginya, sehingga ia menghindari ekspresi pada level seksualnya – sesuatu yang secara naluriah sudah tentu akan ia raih–, hal ini membuatnya terikat dengan hubungan hidup yang frustasi, yang di dalamnya terdapat nilai yang tiada bandingannya dalam jenis hubungan apa pun yang akan ia alami selama hidupnya. Rasa mendamba, rindu, dan bahagia yang besar dalam hubungan ini tak akan pernah ia penuhi, dan tak akan bisa tergantikan oleh apa pun dalam hidupnya, dan ini membuatnya mustahil bertemu atau menghadapi orang lain (encounter with the other). Ia tak akan pernah benar-benar berhadapan dengan orang lain, sebab pemisahan dirinya sebagai anak dari ibunya pun tak pernah terjadi. Alih-alih transferens menuju kedewasaan, yang mengimplikasikan bahwa ia menghadapi orang lain, yakni seorang wanita sebagai mitra hubungannya (partner), yang terjadi adalah korsleting energi dari hal ini berupa dipilih-kembalinya ikatan dengan ibu sebagai contoh ikatan yang ideal. Kehidupan ideal yang seperti ini adalah kehidupan mimpi atau fantasi seorang pria dengan wanita yang ideal atau sempurna namun masih terhubung dengan level emosional akan seorang ibu. Kecemasan perpisahan akan keduanya dihindari dan keadaan terkininya ditundukkan pada sebuah masa depan impian. Pria ini menapaki kedewasaannya dengan tidak pernah memisahkan diri, dalam lingkup afektif, dengan ibunya. Oleh karenanya, pria seperti ini menjadi tak pernah menjumpai seorang wanita yang akan ia peristri sebagai mitra. Sebagaimana yang anda ketahui, dalam banyak kejadian, pada menit ketika anaknya lahir, ia mulai memanggil istrinya sebagai “ibu” (mama, bunda, dll).

Negara melembagakan konflik Oedipal ini dengan membangun sebuah kerangka  yang rigid, statis, serta kondisi neurotik yang menawarkan contoh ideal akan realitas yang maju dan matang, yang akan terjadi di masa depan. Keadaan ideal ini, yang disodorkan oleh para politisi, sedang ditangguhkan, sebab kini segala sesuatu sedang dalam kekacauan, oleh karenanya mereka mengatakan bahwa ‘kami sedang berusaha memberikan anda keadaan ideal itu, anda akan mendapatkannya setelah rencana kami untuk periode lima tahunan ini terlaksana, setelah kami telah menangani masalah ini.’ Sementara demikian, anda menjadi pasif, dan tidak mengurus masalah-masalah esensial ini. Negara yang mengurusnya. Seorang pria menjadi tak memiliki tugas apa pun kecuali dalam keluarganya. Segenap tugasnya membuatnya menjadi seperti tawon dalam kubangan madu, terjebak merindukan hubungan emosional yang tak pernah bisa didapatkan dalam tugasnya itu, dan memang tak pernah bisa terpenuhi dengannya. Masalah ini harus berakhir dengan pria itu menghukum wanitanya karena tak bisa menjadi seorang ibu. Ini bukanlah semacam kondisi neurotik, ini adalah kondisi mendasar masyarakat modern hari ini. Buktinya adalah anda tak bisa memiliki sebuah negara modern dengan tanpa adanya pekerja sosial bagi kaum miskin dan psikiater bagi kaum kaya. Sehingga negara ideal berarti masa depan yang bahagia atau kegembiraan kekanak-kanakan. Persatuan kebahagiaan dengan pasangan yang inses. Liberté didekodekan menjadi lisensi bagi peristiwa yang bersifat inses. Kebebasan personal, yang artinya pun tak pernah jelas, adalah hadiah negara untuk manusia, namun dengan perbudakan sosial menjadi harga yang harus dibayarkannya. Fraternité menjadi peniadaan orang yang berbeda, yang adalah lawan maknanya, dan menjadi hal yang menjamin tidak akan hadirnya wanita dewasa yang independen. Peniadaan keberbedaan ini ditopang oleh mental persaudaraan yang menegaskan kepada anda bahwa di antara manusia tidak ada orang yang berbeda. Dan Egalité bermakna bahwa otoritas orangtua tidak lagi ada. Karenanya, Laius, ayahnya Oedipus, terbunuh, (Raja) Louis XVI dipenggal, dan Ceausescu diculik dan ditembak mati. Dan kemudian etos inses menyamaratakan semuanya.

Dinamika negara totalitarian adalah stasis yang disebabkan oleh riba, oleh utang berbunga. Negara totalitarian yang kita semua merupakan bagian darinya ini sejatinya tidak pernah mengizinkan kebebasan berekspresi, sebab ia tidak akan membiarkan masalah ini benar-benar ditelaah. Utang berbunga berfungsi sebagai penyebab tertundanya perjumpaan seseorang dengan realitas, dengan memunculkan rasa bersalah yang tak terhindarkan ketika melanggar sesuatu yang sejatinya adalah inses terlarang. Rasa bersalah ini mengekspresikan diri sebagai  ketakutan untuk membayar utang berbunga itu. Inses adalah kemewahan yang harus anda bayarkan, tetapi dengan pembayaran yang ditangguhkan. Ekonomi dengan utang yang ditangguhkan ini menyebabkan adanya pembayaran (transaksi) secara tertunda, sebab tiada neurosis yang tanpa disertai perbuatan yang menghadirkan rasa bersalah (atau berdosa; guilt). Dan metode yang digunakan negara totalitarian untuk memunculkan rasa bersalah tersebut adalah praktik riba (usury), yang dapat memberi anda segala sesuatu yang anda inginkan namun dibayar nanti (pay for it later). Ini merupakan sesuatu yang telah menyebabkan kematian jutaan orang di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, dan tiada seorang (pria) pun, di mana pun, yang berdiri menentangnya dan berkata bahwa seharusnya hal ini tidak boleh terjadi. Demikianlah mengapa kita mengangkat topik “Pasangan Kolaboratif”, agar kita dapat melihat bahwa mungkin mereka – para pria – tidak bisa melakukannnya sebab tidak ada wanita-wanita yang berdiri di samping mereka sehingga mereka dapat menyuarakannya.

Karenanya, kekuasaan negara yang ideal beserta program-programnya untuk masa depan, yang tak pernah terbukti memperkaya dan membuat sukses masyarakatnya, adalah sesuatu yang didasari oleh inses, ia hanya proyeksi fantasi, dan masa depat yang tak akan bisa terealisasi. Idealisme terbukti menyetujui kehadiran tirani dan keadaan totalitarian. Sejatinya idealisme hanyalah materialisme yang diputar terbalik dan pembenaran atas kepuasan pribadi semata. Sebagaimana yang dikatakan oleh D.H. Lawrence, “Inses adalah fondasi logika idealisme.” Dan saya hendak menambahkannya, idealisme adalah doktrin demokrasi politik. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kehadiran seorang Menteri Pendidikan merupakan bukti telah dipolitisasinya ilmu pengetahuan, yang kemudian melahirkan legalisasi mekanisme represif serta penyensoran kebebasan berpikir dan berproyek yang tak terhindarkan. Inilah yang perlu diketahui dalam sebuah proyek pembebasan, yang akan mengarah pada pembongkaran tirani dan represi berkedok demokrasi liberal. 

Mengadakan sebuah kumpulan kecil orang-orang merdeka hari ini adalah hal yang nyaris mustahil. Sebab mewujudkannya mengimplikasikan dibutuhkannya transvaluasi semua nilai-nilai. Kita harus memandang pergerakan yang akan terjadi pada abad mendatang dengan pandangan yang Nietzsche, filsuf terbesar abad terakhir, pernah kemukakan, bukan untuk mereka yang sezaman dengannya, tetapi mereka yang ada di masa depan, sebagaimana ia katakan sendiri. Ia memberi petunjuk tentang perpindahan massa manusia melalui suatu jembatan yang dapat memungkinkan para pria dan wanita anak adam untuk keluar dari keadaan sebelumnya dan muncul sebagai yang baru (emerge). Satu-satunya respon dinamis bagi masyarakat pachinko palace yang dikendalikan dengan sistem informasi terstruktur  ini adalah masyarakat yang ter-re-edukasi, masyarakat yang berorientasi pada suatu proyek (atau tugas; project), aktif, dan kolaboratif. Manusia non-Oedipal, yang merupakan manusia pembeda, akan menempatkan tugas hidupnya di atas kehidupan pribadinya.

Dapatkah melihat apa yang saya katakan?  Selama seorang pria menganggap bahwa tugasnya adalah meraup penghasilan, di bawah sistem yang memperbudak ini, yang ia tak bisa mengeluarkan diri darinya, dan karenanya tak pernah bisa keluar dari sistem keluarganya, ia hanya akan menghukum dan merusak istrinya, ia sedang menghancurkan situasi manusia secara keseluruhan. Selama ia tetap mendekam di dalam jebakan ini, ia bukanlah seorang pria. Ia bukan seorang pria, hingga proyek atau tugas hidupnya menjadi tujuan yang lebih tinggi dari kepuasan berkeluarganya (family gratification). Selama kepuasan berkeluarga, yang dasarnya merupakan etos inses itu, adalah fondasi hidupnya, maka wanita akan menjadi korbannya. Hingga seorang pria telah siap untuk bangkit dan melawan demi sesuatu yang lebih luhur dan mulia (dan bukan untuk dirinya sendiri dalam arti kesombongan diri), wanita akan terus menjadi korban. Ini mengimplikasikan adanya sebuah titik pusat yang tenang dalam diri manusia, pria dan wanita, yang peduli dengan makna dan pengetahuan ilahiah.

Jangan berpikir semenit pun bahwa Islam ada di negeri ini. Ia tidak ada di sini, baik secara “syari’at”, “tarekat”, maupun “hakikat”. Sebab jika demikian, tidak akan ada penyembah berhala di sini, wanita-wanita di negeri ini tidak mengalami kondisi yang mereka alami saat ini, dan tidak akan ada praktik riba di pusat kota Kuala Lumpur. Wanita non-Oedipal, wanita yang non-kolusif, akan menjadi wanita yang memikirkan pertumbuhan kehidupan perasaannya secara mendalam. Ini merupakan keberadaan non-proyektif yang hadir dalam titik-titik pusat pengelihatan, sentuhan, dan pendengarannya. Ini bukan perasaan yang terkait dengan saraf (nerve feeling), melainkan pengelihatan, sentuhan, dan pendengaran mendalam yang ekspesinya bersifat asketik, cantik (baik secara batiniah maupun lahiriah), dan berkasih sayang. Inilah kekuasaan, cahaya, serta kekuatan wanita yang tanpanya pria tak akan bisa meraih aspirasi yang luhur. Dan inilah yang sudah korsleting dalam keluarga borjuis. Semua yang tersisa pada wanita dari keluarga seperti itu adalah perasaan berbasis saraf belaka. Realitas yang wanita dapat pahami ketika dirinya menyentuh kelopak bunga; memandangi pantulan cahaya di permukaan air; mendengarkan nyanyi kicauan burung, adalah keberadaan transenden, cahaya maha cahaya. Tanpa itu, seorang pria tak akan memahami hidup ini. Walhasil ia menciptakan bom atom, dengan tak memiliki rasa cemas sedikitpun atasnya. Ia akan menjatuhkannya dan tidak ada pria lainnya yang akan membantahnya sepatah kata pun. Namun jika ia bersama dengan seorang wanita, wanita itu akan berkata, “kalau kau membuat bom ini, apa yang akan terjadi pada anak di dalam rahimku ini?” Tetapi pertukaran rasa kasih sayang tersebut tak bisa terjadi, sebab ternyata wanita hari ini akan sibuk menangis dan mengunci diri di kamar. Dan si pria akan berkata kepadanya, “Apa masalahnya?”

Keistimewaan wanita terletak pada cara ia mengatur kehidupan perasaannya dan penolakannya untuk menyeberang menuju pemikiran idealisme dialektis, atau dengan kata lain, menjadi pseudo-pejantan, yang tidak lain adalah politisi wanita. Sebagaimana yang Wagner katakan, “Politisi wanita lebih buruk ketimbang politisi pria, sebab ia lebih melawan fitrah (nature) lagi,”[2] Pemaksaan keterhubungan dengan orang dewasa akan dihapuskan dalam fase pertumbuhan anak. Dengan kata lain, anak tidak akan mendapatkan proyeksi perasaan dewasa yang lebih tinggi secara emosional dari ibunya, sebab kehidupan perasaan dewasa ibunya akan disetel untuk suaminya. Ia akan mendidik suaminya, bukan anaknya saja. Tetapi ia akan mendidik suaminya dengan diri sejati (higher self)-nya. Ini akan memberi suaminya keberanian dalam mengerjakan tugas hidupnya yang luhur, yakni penegakan keadilan, kesetaraan, dan nilai-nilai kehidupan yang luhur lainnya. Hal ini pernah diteladankan oleh seorang wanita tua berkebangsaan Irak, teladan yang merupakan suatu kekuatan spiritual yang besar, ia merupakan bagian dari komunitas (muslim) kami di Norwich. Ia melihat salah seorang ibu dengan anaknya yang mulai menangis setelah disuapi makan. Ibu itu pun berkata, “Kenapa nak? Oh, sudah, sudah.”[3] Anak itu malah menangis dengan lebih keras lagi. Hal ini membuat wanita Irak tersebut tak tahan lagi untuk menyaksikannya, sehingga ia menghampiri mereka, mengambil si anak dari gendongan ibunya dan menaruh anak itu di lantai. Seketika anak tersebut pun terdiam. Ia berkata, “Ini susu kamu, sekarang kamu diam di situ – selesai!” Ia berbalik ke ibu anak itu dan berkata, “tugasmu sudah beres, tidak usah berbuat apa-apa lagi, biarkan saja bocah itu.”

Seperti yang D.H. Lawrence katakan, “Tolong! Saya mohon kepada anda, jangan mencintai anak anda.” Tentu saja yang ia maksud bukanlah cinta sebagai perasaan yang sangat mendalam. Yang ia maksud adalah janganlah berbuat apa-apa soal ‘memiliki perasaan’ dalam pengertian modern, di mana pada akhirnya anda hanya akan menindas dan menghancurkan anak-anak anda. Sebab kini, tidak semua wanita menginginkan keadaan yang dapat membuat dirinya terbuka, dan tidak semua pria berada pada kemerdekaan sejati yang asli dan utuh secara alamiah (wild state of true freedom). Penyeleksian pasangan adalah prasyarat untuk mewujudkan kemerdekaan kolaboratif. Harus terdapat seleksi pasangan berkesadaran penuh sebelumnya, guna mewujudkan evolusi evolusi keadaan saat ini. Ini tidak lagi bisa didasarkan dengan melanggengkan dorongan Oedipal, pasangan yang menyalin etos Oedipal. Dengan kata lain, jika seorang pria mendekati wanita bak terjangkiti somnambulisme, ia hanya akan mencari-cari gambaran diri ibunya dari wanita tersebut. 

Menciptakan wanita kolaboratif yang superior membutuhkan kebebasan sosial berupa keluarga dengan beberapa istri, agar mereka ia dapat mengemban tugas spiritualnya. Begitu juga dengan pria kolaboratif yang superior, ia membutuhkan keluarga dengan beberapa istri, sebagai manusia dan pembebas generasi selanjutnya dari etos Oedipal. Dialektika perselingkuhan, yang menyebabkan perasaan bersalah serta pembatan diri dengan pasangan, dari praktik monogami yang sejatinya bersifat misoginistik akan berakhir. Monogami pada dasarnya bersifat misoginistik. Sebagaimana yang dikatakan Jane Arden, seorang penulis feminis asal Inggris, ‘Definisi dan hakikat perselingkuhan adalah, “Tidak ada yang menyenangkan kecuali anda main serong di belakang seorang ibu.”’ Dengan kata lain, hakikat perselingkuhan adalah (peranan) istri diubah menjadi ibu, dan pria pun menjadi remaja yang pergi ‘berpetualang’. Ketika ia pulang ke rumah, “Ke mana saja kau?”, “Keluar!”, “Apa yang kau lakukan di luar sana?”, “Tidak ada!” Jangan menampik. Ini sudah tentu merupakan hal yang tak asing lagi di negeri-negeri Muslim, yang karenanya tidak ada bedanya lagi dengan negeri-negeri Kuffar.

Pembangunan komunitas (jama’at), dan yang saya maksud bukanlah pada pengertian umumnya, melainkan komunitas yang guyub rukun (intimate) serta menyadari tanggung jawab yang mereka emban (responsible), merupakan basis dari masyarakat pasca-negara (post-statist society). Diadakannya pembinaan berorientasi praktik lapangan yang diperuntukkan bagi anggota komunitas ini, serta metode pendidikan baru yang memelihara etos spontanitas kawula mudanya selama mereka berada pada fase usia tersebut, merupakan hal yang diperlukan.

Negara modern adalah penjara dengan keamanan tingkat tinggi. Sipir-sipirnya merupakan sesama tahanannya sendiri. Penjaranya tidak terkunci, orang-orangnya-lah yang tidak ingin keluar darinya. Mengapa tiada seorang pun yang ingin keluar? Inilah yang telah menjadi pertanyaan saya untuk bertahun-tahun lamanya. Dan puzzle yang sedang diselesaikan ini mencapai gambaran utuhnya berupa potongan-potongan jati diri fundamental manusia, yang melampaui mitos dan sejarah. Namun menunjukkan bahwa jalan keluar adalah melalui pintu saja bukanlah hal yang sulit. Masalahnya adalah apakah para tahanan ini bisa mendapatkan kembali kekuatan dan sisi liar mereka untuk meraih kebebasan atau tidak.

As Salamu Alaikum.



[1] “It is impossible to think of nature as system, nature is life.”

[2]The political woman is even worse than the political man, because it is even more against nature.

[3]What’s the matter? Oh, there, there.” Ini adalah frasa yang kerap diungkapkan oleh orang dewasa untuk menimang dan menenangkan bayi atau balita yang sedang menangis, sebagaimana dijelaskan dalam CambridgeDictionary.com. Dan pada konteks Indonesia kita memiliki banyak sekali varian untuk padanan dari frasa ini, tergantung pada kondisi sosio-kultural seseorang.

Penerjemah:

Tubagus Rafly (22 thn), lahir di Cililin, Kab. Bandung Barat, bermukim Bogor. Menekuni studi Sastra Inggris Bid. Minat Penerjemahan Universitas Terbuka, dan belajar jadi manusia bersama-sama para fuqara di Thariqah Qadiri-Syadzili-Darqawi. Bekerja purna-waktu di Mahkamah Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *