oleh: Irawan Santoso Shiddiq

ALLAH Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran Surat Al Hadid (22):

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ٢٢

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”

Ini ayat terang. Bukan ayat mutasyabihat. Tentang siapa yang menciptakan segala perbuatan. Baik perbuatan baik dan perbuatan buruk. Itulah Kehendak Allah Subhanahuwataala semata. Itu domain Allah. Tapi manusia kerap ada yang tergelincir. Buah rasio pikirannya sendiri. Jadilah manusia menyembah api, seperti kaum Majusi. Menyembah api, sebagai tolak bala bencana. Ada juga menebar kembang dilautan, tolak bala. Ada pula tolak bala sembari menyembah pohon kayu. Karena menganggap perbuatan baik dan perbuatan buruk, itu terpisah asalnya.

Ini tentang Qada dan Qadar. Takdir dan Ketetapan. Bahwa baik dan buruk, itu semua datang dari Allah semata. Bukan “entitas lain’ yang membuatnya. Tapi tafsir tentang Qada dan Qadar inilah yang kerap bersinggungan setiap peradaban. Dari sanalah peradaban tercipta. Modernitas, tentu bermula dari perdebatan itu. Tapi melihatnya harus jauh mendalam.

Terkait ketentuan ayat tadi, Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar Skotlandia memberi gambaran. “Itu bukanlah hal yang memenjarakan atau pun hal yang menghancurkan, melainkan hal yang memerdekakan. Inilah karenanya mukminun berdoa, “Ya Allah berilah hamba iman yang kekal.” Supaya segel takdir senantiasa terjaga.”

Tafsir perihal ‘perbuatan buruk,’ ini memang panjang. Dikotominya telah sejak manusia berada di dunia. karena ‘perbuatan buruk’ (bencana), seolah bukan datang dari Allah. Masa Islam berkembang, debat ini mulai menyeruak kala paham mu’tazilah menyapa. Mu’tazilah menganggap dosa besar berasal dari perbuatan manusia. Bukan ‘perbuatan Allah.’ Paham itu kemudian berjumpa dengan filsafat Yunani kuno. Disitu terang tentang bagaimana rumusan ‘perbuatan manusia’. Jadilah paham mu’tazilah mewabah. Filsafat Islam menyeruak. Periode ketika muslimin membedakan ‘perbuatan Tuhan’ dan ‘perbuatan manusia’. Al Farabi, ulama kesohor mu’tazilah menyebutkan tentang teori emanasi. Tassawuf memiliki manka yang berbeda tentang emanasi. Tapi Al Farabi membaliknya. Dia mengatakan tentang ‘kebenaran ganda’. Bahwa dari akal, rasio, bisa juga menemukan kebenaran. Filosof, katanya, dengan nalarnya bisa menemukan Kebenaran. Sama kedudukanya dengan Nabi. Jika Nabi, menemukan Kebenaran dengan bimbingan Wahyu. Sementara filosof dianggap menemukan Kebenaran dengan pencarian akal. Itulah yang disebut emanasi. Dalih itu yang memperkuat tentang ‘qudrah’ dan ‘iradah’ berada di tangan manusia. Bukan sepenuhnya Tuhan. Jadi urusan kehidupan dunia, merupakan domain manusia. Dalam perspektif filsafat, dikotomi berubah lagi. Perbedaan tentang ‘perbuatan Tuhan’ dan ‘perbuatan manusia.’ Inilah landasannya. Tentu, analoginya tak beda dengan dikotomi ‘perbuatan baik’ dan ‘perbuatan buruk’ tadi.

Selepas era mu’tazilah dalam Islam, filsafat kemudian dipungut kaum Eropa. Jadilah di sana berkumandang rennaisance. Dari Cordoba, filsafat masuk ke Italia. Suasana belantara Eropa kala itu, dikooptasi paham bak ‘jabbariyya’-nya Gereja Roma. Paham yang dianut Gereja Roma, tentang ‘Qada dan Qadar’, seolah tak boleh disanggah. Sementara tak sedikit urusan itu bertententangan dengan rasio (akal). Masa mu’tazilah, membuat semuanya harus masuk dalam domain akal. Baru dianggap diterima. Inilah yang kemudian ditentang mutakallimun. Imam Asy’ari, Imam Mathuridi dan lainnya, memberi garis batas. Tentang batasan dalam memahami aqidah, yang merujuk pengajaran Rasulullah Shallahuallaihiwassalam. Aqidah ahlusunnah waljamaah, bukanlah yang merujuk pada mu’tazilah maupun jabbariyya. Melainkan berada ditengahnya. Jabbariyya, menganggap manusia tak bisa berbuat apa-apa. Karena semuanya merupakan ‘Kehendak Tuhan’ semata. Manusia hanya pasrah. Sementara Ahlul Sunnah, tak demikian adanya. Filsafat mu’tazilah, sebaliknya. Keseluruhan merupakan urusan domain manusia.

Masa rennaisance, filsafat disambut gegap gempita. Itulah masa ketika Socrates, Plato, Aristoteles di-Kristen-kan. Jaman  mu’tazilah, mereka di-Islam-kan.Thomas Aquinas memulai dengan teori ‘kebenaran ganda’ dalam memahami Nasrani. Dia merujuk Al Farabi. Kitabnya tentang Kebenaran ala Gereja dan Kebenaran ala filsafat, menyeruak. Grotius makin tajam. Sampai kemudian urusan kosmosentris, Gereja Roma mendapat banyak pertentangan. Copernicus, mengutip para sains mu’tazilah sebelumnya, membuat teori membantah ‘kebenaran’ Gereja Roma tentang dogma bumi sebagai pusat tatasurya. Galileo pun serupa. Hingga mencuat banyak saintis Eropa, yang menentang ‘jabbariyya’-nya Gereja Roma. Dan lambat laun filsafat pun membuat teori baru tentang kekuasaan. Ingat, filsafat itulah segala sesuatunya bisa diteorikan, merujuk pada nalar manusia. Plato menyebutnya ‘idea’. Aristoteles mengatakannya ‘substansi’. Sumbernya dirujuk dari akal bawaan. Al Farabi menyebutnya akal pertama. Intinya, semua merujuk pada rasionalitas. Pada nalar semata. kebenaran inderawi saja.

Masa mu’tazilah, muncul banyak ulama Islam yang membentengi aqidah. Imam Abu Hamid al Ghazali, memberikan benteng dengan ‘Tahafut al Falasifah’. Dan Shaykh Abdalqadir al Jilani dengan keberkahannya, membawa kembali muslimin pada tassawuf. Disinilah pemahaman Tauhid dijamin tak meleset.

Namun masa rennaisance, ulama semacam itu tak nampak. Alhasil filsafat melesat. Muncul Francis Bacon dengan membakukan teori ‘Aku Ada (being) maka aku berpikir (thingking)”. Wujud, ada, muncul lebih dulu barulah manusia kemudian harus menggunakan akal rasionya. Tapi kemudian Rene Descartes membaliknya. Cogito ergo sum. “Aku Berpikir (think) maka Aku Ada (being).” Segalanya menjadi ‘wujud’, jika telah melewati akal pikiran manusia. Disinilah teori ‘kehendak manusia’, perbuatan manusia menjadi mutlak. Dan lambat laun ‘perbuatan Tuhan’ makin tereliminasi, oleh buah rasionalitas manusia sendiri.

Dari rennaissance, maka muncullah modernisme. Rennaissance, masih membenarkan tentang ‘perbuatan Tuhan’. Sementara modernitas, ditandai munculnya Cartesian, ‘perbuatan Tuhan’ ditanggalkan. Hingga klimaknya mencuat Immanuel Kant, menteorikan lagi “ration scripta”, segala seuatunya dianggap benar jika telah teruji. Disitulah empirisme. Tapi intinya membawa manusia makin ke jurng nalar, yang menjauhkan dari ‘perbuatan Tuhan.’

Hingga modernitas memunculkan postmodernitas. Yang makin menjauhkan manusia pada Kebenaran. Newton sampai Marx membuat teori baru, tentang ‘segala seuatunya adalah materi’. Disinilah mewujud yang disebut filsafat materislisme. Materi, benda menjadi tolok ukur Kebenaran. Bukan lagi hal lain. Inilah yangh kemudian menjadi sistem, hingga kini berlangsung. Filsafat itulah melahirkan politik. Dari Machiavelli hingga Rosseou, yang ujungnya melegitimasi ‘Vox Populi Vox Dei’, suara rakyat suara Tuhan. Kehendak (iradah), sepenuhnya berada ditangan manusia. Bukan lagi kedaulatan Tuhan. Alhasil berujung pada ‘demokrasi’, dianggap seolah yang tepat menyuarakan ‘kehendak rakyat’. Kehendak manusia. Bukan kehendak Tuhan.

Filsafat juga melahirkan teori hukum baru. Revolusi Perancis, 1789, menandai dimulainya era modernitas, secara paksa. Bagi yang tak setuju, dianggap musuh. Inilah karakteristik filsafat. Antitesanya dianggap lawan. Masa mu’tazilah, filsafat melahirkan teori ujian ‘Al Mihnah’. Ujian ketauhidan. Sesiapa tak setuju bahwa ‘Al Quran adalah makhluk,” maka dihukum. Masa modernitas, filsafat juga serupa. Melahirkan tirani pemaksaan. Sesiapa tak setuju dengan positivisme, disitulah langsung dianggap musuh. Alhasil melahirkan satu sistem hukum belaka. Itu yang disebut positivisme. Hukum positif. Yang oleh Auguste Comte dilahirkan dengan teorinya.

Dalam keuangan, filsafat itulah melahirkan filsafat ekonomi, yang memunculkan banking sistem. Ini buah perkawinan filsafat dengan kaum hedonis, kaum bankir. Mereka menunggangi modernitas, dan memetik keuntungan. Alhasil dengan nalar, uang emas dan perak, bisa diubah menjadi kertas. Dan kini diubah lagi menjadi kartu-kartu, tanpa nilai. Positivisme menjadi dalih yang melindunginya. Kehendak manusia, menjadi mutlak.

Alhasil muncullah peradaban manusia modern, manusia yang seolah menafikkan Kebenaran Tuhan. Seperti kata Voltaire, “Jika Tuhan menuntut ketundukan penuh, maka Tuhan adalah diktator, dan segala kediktatoran haruslah ditolak.” Inilah buah filsafat. Manusia terjerambab pada teori, pada substansi, yang menjauhkan dari Kebenaran hakiki.

Untungnya, Martin Heidegger mampu memberi jawaban. Sebelumnya Nietszche telah mewanti, “Filsafat itulah berhala,” katanya. Heidegger menegaskan tentang kesesatan filsafat, yang tak membawa pada kebenaran. “Filsafat hanya mampu membawa pada essensialisme, bukan eksistensialisme.” Filsafat, katanya, bisa dibuat memada dan tidak memadai. Inilah kelemahan akal. Rasionalitas. Dulu, masa mu’tazilah, Imam Ghazali sejatinya telah memberi peringatan. “Akal tak dijamin aman dari kesalahan, akal bisa saja salah, makanya jangan mengambil kebenaran agama darinya.” ”mam Ghazali merekomendasikan agar muslimin kembali pada tassawuf. Karena di sanalah pengajaran aqidah terjaga.

Kini Shaykh Abdalqadir as sufi (Ian Dallas), mengajak kembali muslimin untuk kembali pada tassawuf. Memahami tentang bagaimana kekeliruan filsafat. Karena Nietszche telah menegaksan tentang nihilisme. Puncak dari modernitas adalah lahirnya nihilisme. Hilangnya nilai-nilai. Karena manusia tak lagi menggunakan kosakata “Kebenaran Tuhan’ dalam sistem kehidupannya. Itulah klimak mencuatnya ‘kebenaran manusia” yang berujung pada nihilisme. Dalam Islam, kita menyebutnya islamisme. Paham-paham yang merujuk pada nilai-nilai barat, yang hanya merujuk pada “segala sesuatunya adalah materi,.” Itulah kesesatan.

Alhasil tatkala virus corona melanda, jamak manusia berpikir itu buah dari ‘perbuatan manusia’ semata. bencana yang didatangkan dari tangan-tangan orang China. Sumbernya di sana, maka antitesanya hanya dengan ‘perbuatan manusia.’ Bukan lagi merujuk pada ‘Perbuatan Tuhan.’ Inilah mekanisme kehidupan yang kini menyelimuti.

Padahal Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran surat Az Zumar (62):

ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ ٦٢

 “Allah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu”

Ayat ini, Shaykh Abdalqadir as sufi menjabarkan, “Lihatlah sudut pandang yang tak kenal kompromi yang ditawarkan bagi muslimin, bak berdiri di atas granit, hal ini meletakkan anda di atas pondasi yang kokoh. Kita tak bisa diguncang sebab setelah kita menyerap pemahaman akan Tauhidullah, maka menjadi orang yang berilmu, akan paham bagaimana eksistensi bekerja.”

Inilah titik kuncinya. Tentang bagaimana ‘perbuatan Allah’ dan dimana batasan ‘perbuatan manusia.’ Karena modernitas telah menjebak manusia, tentang segala sesuatunya adalah materi. Tentang eksistensi yang bekerja, seolah datang dari buah manusia. Padahal Heidegger telah mengingatkan, kekeliruan cara pandang filsafat. “Filsafat tak berpikir,” tegasnya.

Shaykh Abdalqadir as sufi menjelaskan, dari pemahaman Tauhid itu, “Kita mungkin saja tak menyukai peristiwa-peristiwa yang terjadi, namun barang siapa memiliki Tauhid yang kokoh, mampu membaca makna dari berbagai peristiwa itu dan mengetahui apa yang mesti dikerjakan.”

Maka, disinilah bukan dikotomi antara ‘perbuatan Tuhan’ dan ‘perbuatan manusia’. Melainkan bagaimana kompromi agar manusia memahami Kehendak Allah. Tapi bukan yang maknanya menjadi ‘jabbariyya’. Melainkan kokoh untuk tetap berada dalam rotasi Qada dan Qadar, sesuai yang dituliskan sebelumnya. Inilah rahasia sukses kehidupan.

Dan, Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan, kurun waktu 200 tahun terakhir, muslimin kerap disuguhi ‘Tauhid yang mengerikan.’ Apa Tauhid yang mengerikan itu? Kembalinya paham neo mu’tazilah, tapi bukan mu’tazilah. melainkan adopsi dari filsafat materislisme yang berkembang. Karenanya jamak muslimin modern menjadi lumpuh dalam melihat aqidah materialisme. Karena filsafat telah melahirkan positivisme, bangking sistem sampai ‘vox populi vox Dei’, yang menafikkan seutuhhnya ‘Perbuatan Tuhan.’ Maka dari itu, pentingnya Tauhidullah dikembalikan. Inilah kunci penegakan kembali Islam. Bukan paham ‘Tauhid’ yang membelokkan makna musyrik, ghuluw, sampai urusan jiarah kubur. Sementara kemusyrikan akbar, berupa penafikan ‘Perbuatan Tuhan’ dihilangkan. Disitulah ‘Tauhid yang mengerikan,” yang menyuguhkan pembatasan Allah Subhanahuwataala dan menempatkan Allah Subhanahuwataala.

Maka, saatnya kembali pada tassawuf, disanalah Tauhid terjaga. Insha Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *