Oleh: SHAYKH ABDALQADIR AS SUFI*

I

TUGAS

Seorang Raja memerintah Kerajaannya berdasarkan kepantasan dan keadilan. Kerajaan itu telah berdiri ratusan tahun lamanya. Alasan mengapa ia telah bertahan begitu lama adalah karena ia menjadikan Wahyu Ilahi sebagai acuan dalam memerintah rakyatnya. Alasan mengapa ia mulai runtuh  tak lain dikarenakan ia mengizinkan sisi fungsional kewajiban mutlak tersebut untuk dikompromikan, dilemahkan, hingga akhirnya runtuh. Maka ajal kerajaan tersebut datang dengan segera, sang Raja diasingkan, dan keluarganya tercerai-berai. Gerombolan liar tak berpendidikan yang mengambilalih Kerajaan kemudian mulai memberlakukan hukum mereka kepada rakyat secara paksa. Hukum mereka adalah hukum buatan manusia, yang isinya adalah ketidakadilan dan bahkan menghasilkan produk hukum yang berseberangan dengan niat yang mereka nyatakan. Kesatuan Tentara telah dibubarkan, sehingga mengadakan perang untuk memulihkan Kerajaan ini menjadi mustahil. Tak terelakkan lagi, orang-orang pun menyaksikan anak-anak mereka diubah menjadi sama liar dan tak beradabnya dengan para gerombolan yang sejak lama telah mereka cegah kedatangannya untuk memasuki gerbang Kerajaan mereka.

Rakyatnya tak memiliki sarana, kekuatan, ataupun dinamisme untuk kembali mendirikan masyarakat berkeadilan, mereka telah dibuat lemah dengan cara hidup yang dipaksakan kepada mereka oleh tuan-tuan baru mereka.

Jika semua orang di Kerajaan ini telah membiarkan keadaan tunduk pada kegelapan ini mendominasi kehidupan mereka maka tiada harapan lagi. Akan tetapi, para penguasa zalim yang telah memperbudak massa tak akan memperhitungkan satu hal. Di dalam Kerajaan, dari ujung ke ujung, di kota-kota besar hingga kecil, di gunung-gunung dan di gurun-gurun, masih terdapat kelompok-kelompok kecil pria dan wanita yang sangat besar cintanya pada sang Rasul beserta Risalah yang ia bawa. Tugas mereka bukanlah menyelamatkan dunia. Tugas mereka adalah menegakkan kembali Jalan Keilahian dan cinta pada sang Rasul.

Kerajaan tersebut, dalam metafora kita, merepresentasikan persatuan Khilafah komunitas Muslim seluruh dunia. Gerombolan perusak terdiri dari orang-orang ateis dan materialis adalah mereka yang memanggil diri mereka sendiri sebagai kaum humanis, namun memperbudak seluruh ras manusia. Semua doktrin orang-orang ini terbukti merupakan tipu daya. Wajah manis yang mereka tampilkan di badan dunia menopengi kejahatan dan daya penghancuran dari perbuatan mereka – mereka menutup-nutupi kebenaran, sehingga Allah menamakan mereka sebagai kaum Kuffar.

Islam adalah musuh kekufuran dan mustahil eksis dalam harmoni dengan mereka dan menerima mereka. Ketika kaum kafir menyerukan toleransi, yang mereka maksud adalah (toleransi) kita untuk mereka dan bukan toleransi dari mereka kepada muslimin. ‘Hak Asasi Manusia’ mereka adalah pada humanis, namun penerapan doktrin ini berimplikasi terhambatnya praktik Dinul Islam. Di dalam sistem kafir, Islam digolongkan dalam kategori ‘minoritas.’ Kemudian ia dirusak dengan doktrin lainnya, yakni etnisitas. Sehingga Islam dibatasi dengan kerangka-kerangka etnis tertentu, yang mana sangat tidak mengindahkan kebenaran universalitasnya.

Tugas untuk kembali menghidupkan Din, memberdayakan para pemeluknya, mencahayai hati mereka, dan  jalan menuju restorasi Kerajaan Bersyari’ah (Sharic Kingdom), jatuh di tangan orang-orang yang telah mengemban misi berbahaya namun mulia ini selama berabad-abad. Memang, untuk tugas inilah, yang sejak awal berdirinya hingga selama abad-abad kegelapan yang telah berlalu, sampai tibanya abad ini yang lebih gelap dari abad manapun sebelumnya, Inilah dipilihnya Qadiriyyah. Jalan Qadiriyyah mengarah menuju restorasi Khilafah di dunia ini serta pemenuhan Janji Terluhur di (dunia) selanjutnya.

Jalan Qadiriyyah membuat seorang manusia menjadi Khalifatullah di muka bumi, dan inilah, tingkatan spiritual makrifat, yang memberi para ahlul ma’rifat kekuatan lahiriah untuk memiliki seorang Khalifah yang berkuasa atas mereka. Madinah al-Munawwarah tidak dinamakan demikian karena cahaya sinar yang berasal dari jalan-jalan dan rumah-rumah. Melainkan karena kehadiran sang Rasul di sana, damai dan berkah Allah semoga senantiasa tercurahkan untuknya, dan kemudian para penduduknya. Orang-orang Qadiriyyah tidaklah memiliki pengharapan terhadap dunia ini, mereka memahami bahwa dunia akan binasa dan fana. Harapan mereka tertuju pada Yaumil Akhir, sebab dunia itulah yang bergegas menuju arah mereka. Akan tetapi mereka mengetahui bahwa dunia ini adalah dunia tindakan (amal) dan Dunia Selanjutnya adalah dunia visi. Dunia ini adalah dunia indrawi, namun indrawi yang mengandung makna. Dunia Selanjutnya adalah dunia maknawi, tetapi mereka akan merasakannya secara indrawi. Para Fuqara lemah dalam indrawi namun kuat dalam hal-ihwal maknawi, sedangkan kaum kuffar kuat dalam hal-ihwal indrawi namun lemah dalam maknawi, karenanya kesuksesan ada pada para Fuqara atas kaum kuffar setiap saat. Mahqom (tingkatan) para Fuqara bersama dengan para Sahabat ahlul Badar, yang jelas-jelas kalah jumlah namun dibela oleh para Malaikat. Seluruh kekuatan besar ada di tangan balatentara Muslimin bilamana mereka bergerak bukan atas dasar tujuan duniawi, melainkan berjalan di jalan Allah. Sebagaimana yang seorang jenderal kafir katakan tentang kaum Muslimin di India, ‘Bagaimana mungkin kita mengalahkan orang-orang yang, ketika mereka melihat mulut-mulut meriam, mereka menyaksikan Taman-Taman Surga?’

Elit kekuasaan kuffar telah menempatkan massa dunia dalam unit negara bangsa ((nation state) yang diklaim memiliki kedaulatan, penentuan nasib sendiri, serta pemerintahan yang dipilih oleh rakyat. Pada saat yang sama elit ini juga telah mencabut pengendalian mereka yang berdaulat atas sistem keuangan, sistem perdagangan, dan sistem militer. Mereka memerintah dengan menghapuskan otoritas agama dan membebankan sistem angka tak berharga dari kumpulan tiran-tiran yang tak memiliki realitas sebagai uang logam (specie) sebab uang-uang tersebut adalah kertas dan koin-koin tak berharga, dan sejak kini, penyimpanan kekayaan dalam jumlah yang sangat besar disederhanakan menjadi impuls data elektronik digital. Mereka telah memiskinkan dunia, namun ilusi yang ada di dalam inti kekufuran mereka membuat mereka merasa telah memperoleh kekayaan. Mereka sejatinya tidak memiliki kekayaan. Inilah kebodohan mendasar yang akan menghancurkan mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya, “Kita adalah orang miskin. Dialah Yang Kaya, Yang Patut Disembah.”

Dari sinilah titik balik kemenangan kita. Sejak kekayaan bukanlah milik mereka, melainkan milik Allah, ilusi mereka tentang kepemilikan atasnya mustahil ada tanpa menimbulkan rasa takut kehilangan nilai yang secara terus menerus yang tak bisa terhindarkan. Itu bukan rasa takut kepada Allah, tetapi takut kehilangan. Perasaan takut kehilangan adalah kehilangan itu sendiri. Di tengah gersangnya dunia dengan kegelapan dan hiruk-pikuk keputusasaan karena kekuatan kekufuran (kufr) yang tak pernah puas inilah para Fuqara Qadiriyyah kini dapat bergerak ke seluruh dunia dengan sepenuhnya tanpa rasa takut dan penuh dengan harapan, sebab harapan mereka hanya kepada Allah, dan tak memiliki rasa takut atas makhluk-Nya. Rasa takut mereka kepada Allah menjadi dinamika yang mengiringi perbuatan-perbuatan mereka serta kemenangan sebagai hasilnya.

Dalam rangka memenuhi warisan Qadiriyyah, kami mengumumkan bahwa para Shaykh kami, yang merupakan (wali) Qutb, dan dua Imam, dan empat (wali) Awtad, dan tujuh (wali) Abdal, dan empat puluh (wali) Nujaba serta tiga ratus (wali) Nuqaba, dan sejumlah (wali) Afrad yang semuanya memerintah dan menguasai alam dunia ini di berbagai tempat, menyeru kepada Dinul Islam,  memberikan Berita Baik serta Peringatan, menegakkan Tarbiyatul Islam atas adab dan ilmu, menyalurkan keadilan, menghidupkan jual-beli yang Halal di pasar tanpa adanya sewa tempat, dan mengamankan kesejahteraan fisik masyarakat dengan mata uang Halal yakni Dinar Emas dan Dirham Perak yang (dicetak) sebagaimana ketentuan timbangan Madinah. Dari tangan-tangan mereka, Zakat yang Halal akan dikumpulkan dalam Dinar dan Dirham serta sarana-sarana lainnya yang dibenarkan akan direstorasi, sehingga pilar yang runtuh akan kembali tegak. Sesudah menegakkan seluruh ibadah yang diwajibkan dalam DIN dengan benar, di setiap sudut, di pinggiran kota-kota, di oasis padang pasir hingga perkampungan gunung, orang-orang hebat ini akan mengumpulkan para Fuqara bersama dalam perayaan Zikrullah. Dan siapakah para Fuqara ini? Abu Madyan berkata, ‘Merekalah para Sultan! Merekalah para Raja!’.

II

MEDAN

Segala yang kita perbuat dilandasi dengan keyakinan yang kokoh akan kebenaran Tauhid dan Tuan kita adalah yang pertama di antara bani Adam, semoga Allah meridhoinya, dan dialah Sang Penutup Kerasulan. Oleh karenanya, Wahyu Allah, dan amalan serta hukum-hukum Rasulullah, semoga Allah senantiasa mencurahkan berkah dan damai atasnya, mesti didirikan untuk mengatur kaum Muslimim sampai akhir zaman, dan hal ini akan dicapai dengan kejayaan dan kekuatan, dan Jihad akan tetap menjadi perkara yang fardu hingga tiba Yaum ul-Qiyamah kelak. Seiring dengan pendapatnya para Fuqaha kita perihal dasar-dasar DIN adalah kekal adanya, mereka juga mengakui hakikat bahwa Allah senantiasa ada pada penciptaan segala yang baru[1], dan karenanya manusia akan terus menghadapi hal-hal baru yang menuntut pengambilan ijtihad untuk meneruskan pembedaan antara apa yang dihalalkan (permitted) dan diharamkan (forbidden).

Dalam hal ini, tatkala mereka dihadapkan dengan krisis mengerikan yang melanda umat Islam, kalangan yang mengenal Allah, kemuliaan kepada-Nya, mesti memberikan nasihat bijaksana. Ketika DIN ini kuat, perbatasan-perbatasan aman terjaga, dan sang Sultan berada di tempatnya, maka perintah akan keluar dari dirinya, selagi ia (juga) menerima nasihat-nasihat yang diberikan para Fuqaha-nya, yakni Mufti dan Qadhi-nya. Ketika perkaranya adalah soal medan perang, maka tampuk komando jatuh di tangan pemimpin yang ditunjuk atas urusan tersebut.

Sangatlah penting bagi kita untuk memahami situasi di mana kita berada, sebab selain mengandung banyak aspek pengganggu yang berhubungan dengan serangkaian Hadits yang mengindikasikan tentang akhir zaman, kita juga tidak memiliki kewenangan maupun pengecualian yang mengizinkan diri kita unntuk memanjakan diri dengan fantasi tersebut, yang seolah menyebabkan kita mesti menghentikan perjuangan dan sekedar menunggu kedatangan (Imam) Mahdi, atau hari akhir itu sendiri. Yang demikian itu bukanlah DINUL ISLAM. Rasul, Sallallahu‘alayhiwasallam, bersabda bahwa jika Hari Akhir tiba padamu disaat engkau sedang menanam pohon, maka harus engkau lanjutkan penanaman pohon itu.

Tak mengejutkan lagi, situasi dewasa ini yang pada pandangan lahiriah nampak luar biasa kacau, pada faktanya merupakan kesempatan yang amat besar yang Allah berikan kepada kita untuk menegakkan Islam dengan jaya dari onggokan jelaga bak burung Phoenix, seekor hewan mitologis. ‘AMR telah dihancurkan, dan dengannya hilanglah pula salah satu dari Rukun-Rukun (Islam), serta satu perkara Fardu yang Besar, yakni Zakat yang diambil dengan kekuasaan dan Jihad yang harus dilakukan dengan wajib. Zakat bukanlah Zakat jika tiada ‘AMR yang mengumpulkan dan membagikannya, dan Jihad bukanlah Jihad kecuali Bendera Islam telah dijunjung tinggi dan hukum-hukumnya ditaati.

Selama ini kita sudah diperintahkan untuk memerangi mereka dengan apa yang mereka gunakan untuk memerangi kita. Saat kita memeriksa dunia hari ini, dapat kita lihat dengan jelas bahwa kaum kuffar, sejalan dengan psikologi yang memang telah Allah tetapkan atas mereka, hanya dapat beroperasi jika mereka bersembunyi (cover up). Mari kita uraikan secara singkat kontradiksi sistem kafir. Mereka telah menempatkan manusia pada di dalam serangkaian sesuatu yang disebut dengan negara berdaulat. Yang paling kecil, seperti Luxemburg, terdiri dari beberapa bank, jalan, dan sebuah kastil, atau seperti Brunei, yang tidak lebih dari sekadar POM bensin (petrol station), sementara yang terbesar adalah imperium-imperium yang luar biasa besar seperti Rusia, Cina, dan Amerika. Mereka semua dipimpin di bawah ragam bentuk (pemerintahan) yang mereka sebut sebagai demokrasi, akan tetapi dewan-dewan terpilihnya hanya punya kekuasaan sebatas pada organisasi domestik, sekolah, kepolisian, dan pengeluaran publik. Negara bangsa (national state)  tidak memiliki kekuatan untuk menarik diri dari sistem perbankan dan bebas memilih mata uangnya sendiri. Ia tak memiliki kekuatan atas militernya, baik terhadap personelnya maupun alutsista (materiel)-nya. Sama sekali tidak ada mekanisme yang hadir untuk mencegah ekspansi kekayaan para elit perongrong yang berjalan terus-menerus dan tenggelamnya negara ke dalam kemiskinan seiring meningkatnya jumlah massa dunia. Sebagaimana pengakuan Presiden Prancis, terdapat tiga lembaga keuangan yang, walaupun hanya tiga saja, mereka memiliki kekayaan yang setara dengan seluruh kekayaan milik semua negara berkembang yang ada di dunia. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa pemerintahan politik dalam negara-negara bangsa adalah teater kosong. Uang, yang merupakan kertas dan kemudian konfigurasi kekayaan terkomputerisasi, berada di tangan-tangan mereka yang tidak dipilih[2], tak bisa dijangkau, dan nyaris sama sekali tidak diketahui, dan elit ini terus menerus memperkaya diri mereka dengan praktik-praktik yang menurut kebijaksanaan Al-Qur’an dapat kita kenali sebagai sesuatu yang sepenuhnya sihir.  

Pertama, kita tegaskan bahwa instrumen-instrumen pertukaran uang adalah sepenuhnya tak berharga, mereka hanya signifikansi numerik yang bersifat simbolik yang diwujudkan sebagai unit-unit keuangan berjumlah trilyunan yang tidak bisa ditukarkan kembali menjadi uang fisik (specie) dimanapun, bahkan di dalam sistem simbolik mereka sendiri. Kedua, motor manipulasi sistem keuangan yang sesat ini merupakan ilusi kelanjutan dari pengambilan sikap (being) untuk sepenuhnya tunduk terhadap proses praktik riba secara terus-menerus. Kekayaan kapital mereka terakumulasi dengan penambahan-penambahan ribawi. Pengutangan korban-korban mereka terakumulasi dari jumlah kapital tersebut hingga naik menjadi jumlah-jumlah yang tak masuk akal dan mustahil terbayar.

Semua ini menjelaskan kita tentang adanya dua faktor kekuasaan kafir di dunia ini. Bangsa yang bukan bangsa. Uang yang bukan uang. Oleh karena itu,  mengandung arti bahwa dua hal yang disepakati masyarakat kafir dunia bertumpu pada dua fantasi. Bagi kita, aspek terpenting dari masalah ini adalah kemampuan kita untuk mengenali bahwa pada kenyataannya, semua ini tidaklah ditopang oleh sistem agama apapun.

Seorang filsuf kafir terbesar, yang muncul dari kedalaman Nihilisme Eropa, dan kamp-kamp konsentrasinya dari Hamburg hingga Vladivostok, mendeklarasikan bahwas metafisika telah mati, dan dengan tokennya[3] itu sekaligus menegaskan bahwa jalan (procedure) filsafat juga telah mati. Pada tulisan lainnya kita telah menunjukkan bahwa filsafat adalah instrumen dalam mendesain model suatu negara. Ini berarti bahwa kekuatan kuffar tidaklah mampu membuat sebuah model negara setelah nihilisme ini. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa semakin sistem kekuasaan dewasa ini menyatukan prosedur-prosedurnya dan mengintegrasikan institusi-institusinya yang terpisah, baik perbankan maupun pemerintahan, maka semakin pula ia menaruh ketergantungannya pada dua dinamika ilusi. Dalam pengertian ini orang dapat memahami bahwa komputerisasi ‘perdagangan’ dunia, penyampaian pengajaran politik lewat media-media, khususnya TV,  dan pola informasi sistemik internet, adalah kehancuran yang mengakhiri masyarakat yang telah memasrahkan seluruh proses kontrolnya ke dalam ranah intelektif yang tak terjamah. Hal ini membuat siapa saja yang hidup di dalamnya, baik ia seorang yang amat kaya raya maupun sangat miskin, sepenuhnya berada di dalam situasi ketidakberdayaan eksistensial.    

Jadi sangat jelaslah bagi kaum Muslimin bahwa dengan mencoba mendirikan negara Muslim kecil, Palestina ataupun Mindanao, adalah hal yang ditakdirkan untuk gagal, sebab hanya akan berakhir menjadi negara kafir dengan ibadah lima kali sehari. Demikian pula, jika negara seperti itu hendak menciptakan mata uangnya sendiri, dan terus memenuhi tuntutan sistem perbankan yang mutlak dan pantang mundur, kekayaan mereka akan sama tidak berharganya dengan kekayaan kuffar, dan terlebih lagi ia tidak dapat dipergunakan untuk zakat.

Di medan inilah, di dataran tandus inilah, di udara beracun inilah, kita harus memulai pemulihan DINUL ISLAM untuk seluruh dunia. Air segar nan jernih yang mengaliri sungai-sungai dalam dan menyegarkan ke segenap penjuru dunia.


[1]…they also recognize the reality that every day Allah is on a new creation.

[2] Unelected, yakni tidak dipilih melalui pemilihan umum sebagaimana kelas politisi.

[3] Selain koin, token dalam bahasa Inggris juga berarti ‘bukti’, yakni kesimpulan besar yang dihasilkan oleh filsuf tersebut.

III

TAREKAT

Instruksi-instruksi berikut ini dirumuskan berdasarkan satu fakta tak terelakkan yang tiada seorang Muslim pun, karenanya tiada seorang Sufi pun, dapat membantahnya. Yang kami maksud dengan ini adalah, eksistensi tasawuf sepenuhnya bergantung dengan realitas Islam masa awal secara kaffah. Tarekat mengikuti Muwatta[1], yang dengan kata lain, jalan menuju pengetahuan Ilahiah yang jalurnya telah disusuri dengan baik dan dikenal baik sebagai jalan Syari’at. Dengan tidak adanya seorang Khalifah dan tidak berdayanya para Amir lokal sebagaimana telah kita ulas dalam pembahasan sebelumnya, menjadi mafhum bahwa penanggungjawaban tugas mereka, seperti yang selalu terjadi pada masa-masa krisis, jatuh ke tangan para Shuyukh Tarekat. Saat ini mustahil untuk meneruskan pengajaran Tasawuf yang dengan keras kepalanya berpaling dari kewajiban mendasar yang sudah selalu menjadi tanggung jawab orang-orang besar di masa silam ini, yang mengambil jalan para ‘Arifin dan para Shuyukh Tarekat Qadiriyyah.

Terdapat dua kemungkinan dalam Syari’at, akan tetapi tidak ada yang ketiga tanpa meninggalkan kebenaran DIN, yang meliputi Islam-Iman-Ihsan.

Seorang Shaykh akan mengemban penuh ‘AMR Sultaniyya bersama para fuqara-nya di daerah bai’at-nya.

Shaykh itu sendiri akan menunjuk, atau setelah ia berunding dengan beberapa fuqara terbaiknya, seorang pria yang akan diberikan tugas menjadi ‘Amir’ untuk memenuhi tugas-tugas penting ini.

Sehingga, beban pertanggungjawaban atas Khilafah berada di pundak sang Amir. Ia yang akan memverifikasi otentisitas berat Dinar Emas dan Dirham Perak Islami, dengan mengacu kepada timbangan Madinah dan ‘Amal Khalifah ‘Umar Ibn al-Khattab, semoga Allah meridhoinya. Dengan acuan yang sama, ia jugalah yang akan menjamin timbangan dan takaran seluruh (perangkat) jual-beli fisik yang dilakukan oleh para fuqara-nya. Ia akan mengatur pasar-pasar bebas Islam untuk menerapkan perniagaan dengan mengacu kepada ‘Amal Madinah secara ketat, yakni berniaga di tempat-tempat bebas sewa, sehingga dapat dipastikan bahwa transaksi di sana terhindar dari keuntungan palsu. Ia akan mendirikan bangunan-bangunan wakaf yang dapat memungkinkan sistem kesejahteraan Islam untuk kaum Muslimin. Ia akan mengajarkan ketidaksetujuannya secara terbuka atas supermarket anti-Islam serta penghapusan perdagangan di tempat pendistribusian yang ia (supermarket) ciptakan, sebagaimana ia akan mendesak Fuqaranya yang kaya raya agar menghindar dari hidup yang bergantung dengan institusi kafir yang merupakan fondasi kapitalisme kafir, penjualan barang-barang dari tempat-tempat bersewa, yakni pertokoan.

Ia juga akan menganggap itu sebagai tugas yang harus ia laksanakan sepenuhnya, dengan kekuatan tafakur dan khalwat-nya bersama Allah, kapasitasnya untuk mengidentifikasi dan mencegah masalah-masalah yang ditimbulkan kaum munafiqun. Ciri-ciri lahiriah mereka telah didefinisikan dalam al-Qur’an dan Sunnah, dan pada hari ini mereka dapat dikenali dari tindakan-tindakan mereka yang mensubversikan amal (work) sang Shaykh beserta para Fuqara-nya. Tiada argumen dalam Islam, sebagaimana telah beliau, Shallallahu ‘alayhi wa sallam, ajarkan kepada kita, sehingga sesiapa yang menentang kepatuhan pada Syari’at dalam hal ini dinyatakan sebagai musuh. Mereka yang menentang Tasawuf dengan praktik yang benar adalah garda terdepan musuh yang terdiri dari kaum kafir penyerang

Fuqara yang kuat dan terhubung dengan Tuan mereka dalam cinta dan penghormatan, akan mulai bergerak dan berpergian, dari Zawiyah ke Zawiyah, untuk berpartisipasi dalam jaringan perniagaan Halal yang hidup dan dinamis yang akan memperkaya dan menguatkan kaum Muslimin. Mereka tidak akan bergerak tanpa ijazah yang mengonfirmasi bahwa mereka bukanlah agen-agen kafir perusak. Di tempat yang paling terpencil, seorang faqir harus tahu bahwa ada kehidupan dan kekayaan Halal dari bagian-bagian yang belum diketahui (untold proportions) yang diletakkan di tempat asing di mana ia sedang berada itu, sebagai karunia Keberkahan Allah, keagungan atas-Nya. Rasul, Shallallahu ‘alayhi wa sallam, telah mengajarkan bahwa dunia adalah hewan buas yang ditunggangi seorang Mukmin. Mengenai (hadits) ini, Shaykh Moulay Al’Arabi ad-Darqawi berkomentar, ‘Ya! Selama manusia berada di atas si hewan buas dan bukan hewan buas itu yang berada di atas manusia.’

Dengan demikian, para Fuqara akan menjadi orang-orang yang, baik aktivitas jual-beli (trading) maupun perniagaan secara luas (commerce), tidak melalaikan mereka dari Zikrullah. Mereka akan pergi dari satu tempat terjaga ke tempat terjaga lainnya. Dari Zawiyah ke Zawiyah. Mereka akan mengunjungi para ‘Awliya Allah, yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Dengan program lahiriah yang kuat ini, akan mereka dapati bahwa mereka kuasa untuk memberikan himmah bagi diri mereka sendiri dan dengan kerinduan untuk Zikir bersama, untuk ‘Imarah yang murni, yang diselenggarakan di suatu tempat tertutup di mana kehadiran kaum wanita atau kawula muda di sana tak dapat dilihat secara terbuka. Karenanya, sebagai bagian selingan dari program penuh berkah ini akan diselenggarakan perjamuan yang kuat dalam bentuk ‘Urs dan Moussem-Moussem penting. Para Shuyukh juga harus berperan untuk menghidupkan kembali Zawiyah-Zawiyah yang sudah terbengkalai karena serangan dan kejahilan orang-orang kafir yang terjadi pada abad sebelumnya.

Jika di suatu tempat tidak ada seorang Shaykh, hanya ada seorang Muqaddim tertunjuk, ia harus menyadari bahwa ia memiliki kedudukan mulia atas ‘Idhn (izin) yang dikaruniakan kepadanya dan ia harus menyelesaikan tugas seorang Sufi, dan jika dimungkinkan ia harus mencari seorang Shaykh yang dapat menghidupkan jalan menuju Allah dalam ketakwaan atas perintah-perintah yang digariskan Kitab-Nya dan Utusan-Nya, semoga Allah senantiasa mencurahkan keberkahan dan kedamaian kepadanya.

* * * * *

Dihidupkannya program ini akan menghasilkan sekumpulan Muslim yang selamat dari bencana-bencana yang akan terjadi hingga mewujudkan keruntuhan budaya bobrok serta pemerintahan kaum ateis yang tak terhindarkan, yang menyebut diri mereka sendiri sebagai golongan humanis namun telah memperbudak seluruh umat manusia. Allah telah membuat kita hidup tertindas di bumi sebagaimana Dia firmankan dalam Kitab-Nya Yang Mulia (Al Quran Surat Al Qassas: 5), sebab Dia hendak meninggikan kita menjadi Imam-Imam di antara semua orang. Keterlibatan yang kuat dengan jalan Moulay Abdalqadir al-Jilani, semoga Allah menjaga namanya dan mengaruniainya rasa cinta seluruh kaum Muslimin, akan menciptakan jalur perdagangan aktif dan tarbiyah dari ujung paling utara Eropa hingga Kepulauan paling selatan di Maluku.

Kami memohon agar berkah Allah semoga tercurahkan kepada semua Pir dan Shaykh zaman ini beserta para Muqaddim mereka yang dimuliakan, dan kami memohon agar Allah senantiasa memberdayakan golongan khusus yang telah diberikan cahaya, yang sejatinya berkuasa atas seluruh urusan dunia melalui kemilau ilmu mereka dan sikap mereka untuk menahan tindakan hingga mematuhi perintah Allah, Yang Maha Kuasa, yang berkuasa atas segala sesuatu, tiba kepada mereka.

Ghufranaka Rabbana, wa ‘alaykal’Masir.

Masha’Allah

La hawla wa la quwwata illa’bi’llah.   


[1] Dalam ‘Al-Muwaṭṭa’ of Imām Mālik ibn Anas’, terjemahan versi bahasa Inggris kitab al-Muwatta oleh A’isha Abdurrahman Bewley, disebutkan bahwa kata ‘Muwatta’ secara bahasa adalah bentuk partisip-pasif dari kata ‘sesuatu yang di (watta’a)’, dan ‘untuk menghaluskan dan membuatnya lebih rendah (tawti’a).’

*Penulis adalah Mursyid tariqah Qadirriyya Shadziliyya Dharqawiyya. Kini menetap di Cape Town, Afrika Selatan.

Penerjemah English ke bahasa: Sidi Tubagus Rafly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *