Oleh: Irawan Santoso Shiddiq

Belakangan seliweran debat bertemakan sains, entah penting atau tidak. Tapi yang terjadi hanya adu kutip tentang teori filosof. Bukan berdebat. Jangan bayangkan debat itu bak antara Imam Ghazali dan Ibnu Rusyd tentang filsafat.  Jauh sekali. Ini masa mu’tazilah, ketika Islam dilanda paham filsafat.

Yang terjadi justru hanya saling ‘puja’ terhadap sains. Tak lebih. Karena dari memutar kata, yang berujung sains sebagai pijakan kebenaran. Ini masih pakem dari mahzab filsafat kuno. Karena memang filsafat itu pengetahuan kuno. Bukan pengetahuan modern. Apa yang dilontarkan, tentang sains itu, bukanlah pengetahuan baru. Melainkan perulangan dalam peradaban. Ironisnya, ketika sains berbenturan dengan agama, maka seolah ditafsirkan agama tidak mengenal sains. Tidak mengenal peralatan canggih. Ini kekeliruan dari cara berpikir itu. Sama halnya dengan kekeliruan filsafat. Ketika ada yang mengatakan filsafat itu sesat, seolah kemudian anti “berpikir”. Seolah dicap sebagai penghambat “berpikir” dan dituding melakukan sesuatu tanpa ‘otak’. Tentu ini suatu kekeliruan berpikir. Keliru dalam memahami filsafat itu sendiri. Yang lebih sedih, jika berkata “Filsafat itu sesat, lantas dibenturkan dengan ayat Al Quran: “Affallataqqilun…” Jelas itu keliru dalam bersikap dan menyikapi.

Tapi memang ini sudah karakter manusia yang memuja filsafat, hanya melahirkan pemaksaan kehendak. Bukan kebebasan berpendapat. Masa mu’tazilah dulu, tragedi ‘al mihnah’ telah jadi bukti. Untung banyak ulama meluruskan aqidah dari jerat penyimpangan filsafat –dan sains di dalamnya–.

Jaman kini, tentu jaman sains yang mendominasi. Sejak SD, manusia kini dididik dengan pola rasionalis. Mempelajari sains dan mempolakan pemikiran ala itu. Karena memang filsafat, induknya, mengajarkan demikian. Jika kini kita berpikiran ala saintis, tentu bukan heran. Bukan pula suatu hal membanggakan. Karena mayoritas manusia di dunia, didoktrin untuk percaya dan yakin: sains memang yang mengatur alam. Tapi ingat, itu bukan ‘kebenaran’ tunggal. Dan bahkan bukan lagi sebuah ‘kebenaran’. Melainkan telah berubah mencerabut ‘Kebenaran’ dari akarnya. Ini yang disebut oleh Martin Heidegger, filosof Jerman. Dialah yang berkata: “Sains tidak berpikir”. Kalimat ini tentu membingungkan. Terlebih bagi yang didoktrin untuk yakin pada sains sejak kecil. Tapi bagi yang mencari ‘Kebenaran’, maka pernyataan itu berguna. Tapi jika skeptis pada ‘Kebenaran’ dan tak mau lompat keluar dari doktrinal filsafat, yang sudah mencerabut ‘kebenaran’ dari akarnya, maka pernyataan itu tak akan bisa diterima. Karena konsekwensi dari itu, maka anda harus keluar meninggalkan filsafat dan bergabung pada alur ‘Kebenaran’ yang sejati. Karena seperti kata Nietszche, “Filsafat itu berhala.” Karena memang, kini sains, yang dulu digunakan untuk menggapai ‘kebenaran’, tapi kini –sebagaimana kata Heidegger’ tadi, telah mencerabut ‘kebenaran’ dari akarnya. Dan manusia modern banyak terjebak pada takhyul dan kekeliruan. Tentu sebuah akibat dari sains itu. Ini tak mudah dipahami. Tapi bisa dimengerti, bagi yang berpikir.

Pertama, kita merujuk dulu dari Imam Ghazali. Dia mengkategorikan tiga jenis filosof: filosof ilahiyyun (ketuhanan), filosof tabiiyyun (naturalisme) dan filosof dahriyuun (ateisme). Ingat, umat Islam sudah punya pengalaman dalam menghadapi filsafat. Era mu’tazilah, hampir 6 abad filsafat masuk menyeruak mempengaruhi Islam. Disitulah muncul mu’tazilah. socrates, Plato, Aristoteles, di-Islam-kan. Tapi kemudian benteng aqidah dikuatkan para mutakallimun dan kaum sufi. Hingga aqidah bisa terselamatkan. Masa mu’tazilah itulah sains Islam tinggi sekali. Dua perpustakaan raksasa, Bait al Hikmah di Baghdad dan Madinatul Azzahra di Cordoba, itu semua beirisikan buku-buku filsafat dan sains. Jadi, jika bicara filsafat dan turunannya, muslimin juga punya referensi. Ingat juga Al Farabi, guru kedua setelah Aristoteles. Beliau memberikan teori ‘emanasi’ –maknanya berbeda dalam tassawuf–. Dia bilang, filosof dan Nabi itu punya derajat yang sama. Karena filosof menggapai ‘Kebenaran’ dengan akalnya. Sementara Nabi mencapai ‘Kebenaran’ dengan bimbingan wahyu. Teori ini yang dibawa Aquinas ke Eropa. Dia menuliskan ‘Tweez waarden theorie’ (dua belah mata pedang). Kebenaran ala agama dan kebenaran ala filsafat. Masa itulah rennaisance berlangsung. Masa itulah Socrates, Plato, Aristoteles di-Kristen-kan. Sejak itulah pencerahan di Eropa, yang berhadapan dengan dogma Gereja Roma. Imam Ghazali bilang, Socrates, Plato, Aristoteles, Al Farabi, Ibnu Sina dan lainnya, itu tergolong filosof ilahiyyun. Mereka masih menggunakan rasionalitas, untuk mencari kebenaran metafisika. Sementara jaman modern, mulai dari Descartes, Kant dan lainnya, kita berhadapan pada filosof dahriyyun. Yang sudah meninggalkan ‘kebenaran’ dari akarnya. Tak ada lagi teori ‘dua belah pedang’ seperti kata Aquinas. Ini kondisi psikologisnya, supaya kita mahfum dengan dan bagaimana kita membicarakan hal ini.

Kemunculan Descartes, memulai tentang ‘being’ yang harus hadir dengan ‘berpikir’ lebih dulu. Dari situlah kita mulai mengenal konsep ‘berpikir’. Karena cogito ergo sum –menjadi mahzab besar filsafat kini—meninggalkan anasir kebenaran agama. Aquinas masih menggunakan ‘wahyu’ yang kemudian dilogika-kan. Tapi Cartesius meninggalkan itu. Walau sebelumnya Francis Bacon telah memulai, “Aku Ada (being) maka aku berpikir (thinking).” Disini, manusia telah berubah. Telah menjadi objek yang mengamati. Bukan lagi objek yang diamati. Cartesius makin menggila. ‘Berpikir,’ menjadi keharusan untuk menentukan ‘being’. Hingga reason menjadi pijakan tunggal. ‘kebenaran’ berada pada ‘kebenaran’ ala pikiran. Ditambah dengan teori lagi dari Immanuel Kant, empirisme. Inilah korelasi dari apa yang disebut Heidegger tadi: “Sains tidak berpikir”.

Shaykh Umar Vadillo, ulama Spanyol, memberi gambaran jelas tentang pernyataan Heidegger.     Dia menjelaskan, “Mari kita mulai dengan pernyataan yang lebih mudah dipahami “kalkulator tidak berpikir”. Di sini pikiran barat kita yang berpendidikan tidak merasa ditolak. Kita dapat dengan mudah memahami bahwa mesin tidak berpikir. Angka tidak bergerak. Mereka tidak diberi penilaian atas apa pun yang mereka hitung atau hitung. Apa yang hasilnya bermasalah adalah bagaimana kemampuan kita menghitung secara numerik menentukan cara kita memandang dunia, dan bagaimana kita menafsirkan dan mengevaluasi data yang kita peroleh.”  

Untuk menggunakan sains, kita perlu mengurangi alam terlebih dahulu menjadi data yang bisa digunakan untuk sains. Pengurangan atau ‘enframing’ alam ini, menjadi angka, membuat kita melihat representasi alam seperti layar yang muncul antara kita dan alam. “Jelas bahwa angka bukanlah sifat, tetapi dapat menjadi kabur ketika kita memberikan perhitungan kita validitas absolut. Dan ini masalahnya,” kata Shaykh Umar Vadillo lagi.

Sejak Kant berfatwa, disitulah sains modern lahir. Dia bilang,  “Hingga kini telah diasumsikan bahwa semua kognisi kita harus sesuai dengan objek; tapi … mari kita coba apakah kita tidak menjadi semakin jauh dengan masalah metafisika dengan mengasumsikan bahwa objek-objek itu harus sesuai dengan pengetahuan kita.”

Nah, disinilah bahayanya. Karena data dan empirisme yang kita olah dari pikiran kita, terkadang berbeda dengan realitas. Karena realitas tidaklah berubah. Sementara untuk membuat data menjadi objektif, merujuk teori Kant tadi, data yang kita olah dalam pikiran, harus ditundukkan pada pemeriksaan lebih lanjut, sesuai dengan kognisi kita. Dari sinilah Heidegger menuliskan, “Dengan Kant kita hanya belahar untuk memikirkan pikiran kita sendiri.” Tak lebih.

Jika merujuk pada ‘berpikir’, maka akan muncul banyak persepsi. Dengan pengamatan mata telanjang, mataharilah yang nampak mengelilingi bumi. Karena ini persepsi yang nampak dari mata telanjang. Tapi dengan teleskop, hasil sains tentunya, maka nampak bumi yang mengelilingi matahari. Dua teori ini menjadi masalah besar di abad pertengahan. Tapi ini hanya soal persepsi, dan mana yang kemudian ditentukan sebagai ‘kebenaran.’ Karena faktanya juga, ternyata matahari juga tidak statis berada pada sumbunya. Melainkan bergerak. Jadi, sains sekalipun tak menentukan ‘kebenaran’ absolut. Karena kedua hal itu, beranjak dari hasil pengamatan. Shaykh Umar Vadillo mengatakan, realitas tidaklah berubah. Yang berubah hanyalah perubahan kognisi kita. Untuk memahami ‘kenyataan bahwa realitas tak berubah’ adalah keterbatasan kita. Dan disitulah keterbatasan ‘sains’, untuk menembus fakta ‘realitas yang sebenarnya.’ Karena sains juga tak bisa menemukan ‘kebenaran’ absolut.

Teori Newton menetapkan gambaran kecepatan dan ruang yang berasal dari rumus-rumusnya yang njelimet itu. Tapi mekanika kuantum memberi paradigma yang berbeda berdasarkan mekanika statistik. Inilah yang disebut Heidegger bahwa “alam memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri, dan menjadi jebakan bagi sains itu, sebagaimana teori diperoleh,” katanya. Jadi, yang disebut “berpikir” itu maknanya kami melihat apa yang bisa kami hitung. Kami melihat, apa yang bisa kami lihat. Dan semuanya tergantung pada kemampuan kognitif kita. Dan semua manusia berbeda-beda kapasitasnya. Ibnu Khaldun dulu telah juga mengingatkan. Katanya, akal manusia bisa digunakan untuk mengukur beratnya butiran emas. Tapi akal manusia tak cukup untuk menimbang beratnya gunung. Jadi, sains tidaklah mutlak sepenuhnya sebagai ‘kebenaran.’ Karena hanya kapasitas, melihat, menghitung dan sesuai dengan persepsi semata. Itulah sains.

Goethe mengatakan, “”Alam bukanlah sistem, jadi kalaupun kita memikirkan alam, kita tak dapat memikirkan semuanya, sebagaimana kita memikirkan sistem.”  

Namun, modernitas telah mematok taqlid pada satu kebenaran semata, itulah ‘hasil berpikir’ yang disebut sains tadi. Diluar itu, dianggap bukanlah ‘kebenaran.’ Disinilah yang menjadi masalah.

Heidegger sendiri mengatakan, ciri khas fisika modern bahwa teori matematis dan mekanika kuantum, teori chaos, teori string, atau teori supersimetri, tidak dapat meninggalkan satu hal: bahwa tentang alam dilaporkan dengan cara tertentu, yang dapat diidentifikasi melalui penghitungan dan tetap dapat dipesan sebagai sistem informasi. Teori chaos terkait dengan kapasitas sistem komputer dan perhitungannya yang besar dan teori string mensyaratkan dimensi ekstra yang bahkan kita tidak memiliki bukti empiris.

Nah, tatkala kita terpesona dengan hasil sains itu, terpesona dengan angka-angka, data-data, yang sebatas bisa ditampung dalam kognitif kita, maka kita sadar kita hanya berhadapan dengan representasi sebagian dari alam. Bukan dari alam itu sendiri. Masalahnya, sains menempatkan alam di bawah hasil perhitungan, yang menurut “berpikir” tadi sebagai cara yang akurat. Inilah problematikanya. Ini yang disebut Heidegger sebagai “enframing”.  Bahasa lainnya, taqlid pada hasil ‘berpikir’ tadi. Bahwa seolah itulah ‘kebenaran’.

Maknanya, bukan kita harus meninggalkan segala aktivitas mengamati tadi. Meninggalkan penghitungan, pengamatan, yang disebut “berpikir” itu. Melainkan, kita harus sadar bahwa kita tetaplah objek yang diamati. Bukan objek yang mengamati. Shaykh Umar Vadillo mengatakan, menetapkan sains dengan validitas absolut itu adalah saintisme, dan itu adalah takhayul dan itu berbahaya.

Seperti Newton bilang, “governed by scientific laws”. Dia berpikir seolah alam bisa diatur oleh sains. Inilah jebakan itu. Karena yang sebenarnya adalah ‘realitas tak berubah.’ Alam tak berubah. Tapi yang dilakukan oleh sains itu, hanya separuh atau sepenggal dari keseluruhan realitas alam, yang tak berubah.

Imam Ghazali telah jauh hari mengingatkan bahaya ini. Sains menyimpulkan, air mendidih dihasilkan dari api yang panas. Ini seolah kinerja sains. Dari situ, seolah manusia melakukan ‘perbuatan’ mendidihkan air itu dengan api. Kesimpulannya, maka air yang mendidih itu buah dari ‘perbuatan manusia.’ Alhasil terjebak dengan simpulan itu hanya buah ‘perbuatan manusia.’ Bukan tergolong sebagai ‘perbuatan Tuhan.’ Dan inilah memang masalah pada filsafat. Kemampuan saintifik itu hanya menghasilkan ‘ke-aku-an’ pada manusia. Realitasnya, sifat air dan sifat api itu bertemu, maka akan mendidih. Tapi yang menyediakan sifat air dan sifat api itu, tentulah alam. Dan alam tentu ada yang mengatur. Sains hanya mampu mempertemukan antara sifat air dan sifat api itu semata. itu yang disebut Heidegger, hanya sebagian dari ‘realitas alam’. Bukan mengatur alam. Tapi disitu telah muncul ‘keAKU-an’ manusia, yang langsung menyimpulkan seolah itu ‘perbuatan manusia.’ Bukan ‘perbuatan Tuhan.’ Padahal, yang menyediakan ‘sifat api’ yang panas, dan sifat air yang sedemekian, itulah Sang Pencipta. Yang berada diluar batas kognitif manusia, walaupun melakukan kegiatan ‘berpikir’.

Dan taqlid manusia modern pada sains inilah yang membuat Nietszche mengistilahkan dengan nihilisme. Karena manusia telah tercerabut pada nilai-nilai yang sebenarnya. Sains seolah membuat kehidupan alam, dan kehidupan manusia, berjalan kalkulatif. Semua bisa dihitung, dipastikan, berdasarkan pengataman. Inilah yang merubah tatanan kehidupan, pasca Revolusi Perancis, 1789. Sejak itu, manusia terpola menjadi sistemik, karena terperangah pada doktrinal filsafat. Mulai dari hukum, memunculkan hukum sistemik, yang hanya berjumpa pada Code Napoleon, yang digunakan hampir seluruh negara. Hukum statis. Ekonomi, melahirkan sistem yang berpuncak pada banking sistem, yang menjebak manusia dalam hitungan-hitungan kredit berbunga. Dan teori kekuasaan, tak beranjak dari proses hitung menghitung per kepala, yang semuanya bisa dimanipulasi. Karena penghitungan, data, empirisme, semuanya tidak bersifat absolut. Melainkan bisa dibuat sedemikian rupa, tergantung kemampuan kognitif manusia. Ini yang disebut Heidegger bahwa “Filsafat itu bisa dibuat memada dan tidak memadai.” Maka, yang muncul kini adalah ‘kebenaran’ essensialisme. Bukan ‘kebenaran’ eksistensialisme. Mudahnya, ini yang digambarkan Nietszche sebagai nihilisme tadi. Karena filsafat telah membawa jebakan “bahwa segala sesuatunya adalah materi,” yang ini muncul dari para filosof dahriyyun. Ini yang disebut Ian Dallas, membawa manusia terjebak pada ‘teknikal state’. Karena segala sesuatunya merujuk pada hasil penghitungan, yang disebut “berpikir” itu.

Padahal, proses yang disebut “berpikir” itu membawa manusia terpisah dari realitas. Manusia terjebak sebagai “yang mengamati”. Bukan yang diamati. Manusia, sebagaimana kata Voltaire, mendudukkan Tuhan bak pembuat jam. Seolah, ketika jam selesai dibuat, maka jam berjalan dengan sendirinya. Inilah yang membawa pada kebenaran essensialisme. Bukan eksistensialisme.

Masa rennaisance, mereka menggunakan filsafat untuk menjelaskan tentang manusia. Humanisme. Karena ingin keluar dari jerat ‘jabbariyya’-nya Gereja Roma. Hingga manusia pun harus didefenisikan. Dan itu memang ranah filsafat. Descartes mengatakan, filsafat itulah dimana manusia, Tuhan, dan alam menjadi ajang penyelidikan manusia. Dan ketemulah dengan defenisi ‘manusia’. Sebagai human being. Tapi modernitas, membuat ‘kebenaran’ tentang manusia bergeser. Menjadi ‘kebenaran teknikal’. Siapa manusia, ini hanya dijelaskan dari KTP atau pasport-nya. Ketika ada orang Indonesia, berada di Amerika, tanpa KTP, tanpa pasport, maka dia dianggap bukan ‘manusia’. Maka dikata ‘illegal’. Padahal dia seorang manusia, tapi dikategorikan bukan manusia, karena tak punya surat hasil kerja filsafat positivisme. Karena yang dianggap sebagai ‘kebenaran’ adalah KTP atau paspportnya itu. Nah, itulah ‘kebenaran’ essensialisme. Bukan lagi eksistensialisme. Dan itulah hasil kerja filsafat. Maka, wajar Nietszche berkata, “Filsafat itu berhala!”

 Maka, seperti kata Ibnu Khaldun, “Jangan sekali-kali seseorang menekuni filsafat, padahal ia masih kosong dari ilmu-ilmu agama. Karena jarang terjadi, dengan cara itu ia selamat dari bahayanya.”

Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan, “Manusia modern, jika dikatakan burung terbang karena Allah Subhanahuwataala, maka bisa terima. Tapi jika dikatakan bahwa pesawat ‘boeing’ terbang karena Allah Subhanahuwataala, maka sulit dia terima.”

Jaman kini, tak sulit menemukan bukti empiris dari apa yang dimaksud Khaldun itu. Banyak ada dimana-mana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *