Oleh: Irawam Santoso Shiddiq

Nietszche mengeluarkan ‘The will to power’. Hasrat berkuasa manusia modern. Hasrat yang melebihi kemampuannya. Dalam bahasa keseharian, tentang impotensi manusia. Nafsu tinggi, daya kurang. Ini penjelasan paling gampang. Tapi ‘nafsu tinggi daya kurang’, bukan sekedar dalam urusan seksualitas. Melainkan menyangkut hasrat manusia dalam segala lini kehidupan. Inilah nihilisme. Yang melahirkan hilangnya nilai-nilai. Lenyapnya ‘Kebenaran’. Dan hanya muncul ‘pembenaran’, yang dilandasi nafsu syahwati.

Kalimat Nietszche itu tentu asing di telinga. Tapi jamak dijumpai dalam realitas. Tentang ‘the will to power’ dalam segala  bidang. Ernst Junger juga mendefenisikannya. Ketika manusia modern terjebak pada ‘gestalt’. Struktur modernitas yang melahirkan perburuhan dunia. Manusia hanya menjadi pekerja. Ian Dallas, ulama dari Skotlandia lebih menjabarkannya. Karena modernisme membuat manusia terjebak pada ‘teknikal state’. Disinilah posisi ‘the will to power’ itu mendapatkan jawabannya.

Ini memang rada sulit dicerna. Karena post modernisme telah membuat manusia tak lagi menggunakan logika. Tapi nafsu semata. rasionalitas ditanggalkan. Jamak hanya menjadi slogan. Untuk menjamahnya, kita harus mundur jauh ke belakang. Karena berkaitan dengan apa yang dimaksud dengan filsafat. Disinilah akar masalahnya. ‘The will to power’ menunjuk bagaimana manusia hanya mementingkan hasrat syahwati. Ingin berkuasa, tapi tak berdaya. Karena sistem dunia telah berubah menjadi ‘teknikal state’, sebagaimana disampaikan Ian Dallas tadi.

Plato menjabarkan manusia terdiri dari tiga unsur: akal, kehendak, nafsu. Dia menganalogikannya dengan tubuh manusia. Akal itulah kepala. Kehendak itulah dada, dan nafsu berada di perut. Jadi “the will to power” menggambarkan manusia modern hanya mementingkan kepentingan ‘perut’ semata. nafsu syahwati. Dan inilah nihilisme. Hilangnya nilai-nilai. Hilangnya fitrah. Ini berawal dari manusia yang memusatkan rasionalitasnya semata. Filsafat.

Plato mengajarkannya seolah manusia harus membongkar ide bawaan. Karena ini yang berasal dari Tuhan. Jadi dengan akalnya, manusia wajib membongkar ‘ide bawaan’ selama kehidupan dunia. Aristoteles menyebutnya dengan ‘akal bawaan’. Orang Yunani kuno dulu menyebut istilah ini dengan ‘aletheia’. Penyingkapan. Kemampuan manusia menyingkap ‘kebenaran’, dengan akalnya.

Makanya ‘akal’ menjadi kepala. Segala sesuatu merujuk pada akal semata. Rasionalitas. Yunani kuno menyebutnya dengan ‘logika’. Asal katanya ‘logike’. Inilah yang populer dengan istilah filsafat. Kemampuan manusia ‘memutar otak’, karena otak dianggap dengan akal. Dan akal yang menjadi controling atas segala sesuatunya. Filosof menganggap jiwa itulah akal.

Pengajaran filsafat inilah yang menular setiap peradaban. Dan kerap mewarnai dalam epos peradaban. Masa Islam berjaya, racun filsafat sempat masuk juga. Inilah tatkala bertemunya paham ‘qadariyya’ dengan filsafat. Maka melahirkan mu’tazilah. Socrates, Plato, Aristoteles di-Islam-kan. Filsafat diislamisasi. Merebaknya paham mayoritas dalam Islam masa itu. Masa mu’tazilah yang menimbulkan kontroversi. Kaum modernis dan orientalis sibuk mewacanakan, masa mu’tazilah itulah yang dianggap jaman ‘keemasan’ Islam. Padahal bukan. Disitulah keruntuhan Islam. Karena fase mu’tazilah, Al Quds lepas dari pangkuan muslimin. Selepas diambil masa Khalifah Umar bin Khattab, kemudian tak pernah lepas dari pangkuan Islam. Hingga mu’tazilah merebak, sejumlah Khalifah terperangah dengan mu’tazilah, maka Al Quds pun bergeser ke pangkuan Dinasti Fatimiyya. Syiah. Dari mereka, kemudian direbut dengan mudah oleh kaum Nasrani. Maka muncullah kerajaan Nasrani di Al Quds. Hingga kemudian Sultan Salahuddin al Ayyubi merebut kembali. Dia bukan lahir dari paham mu’tazilah.

Mu’tazilah menitikberatkan ‘qudrah dan iradah’ berada pada manusia. Sesuai dogma filsafat, ‘kehendak’ itu berada di dada manusia. Berada pada urusan manusia, bukan domain Tuhan. Makanya urusan ‘Qada dan Qadar’ kemudian menjadi perdebatan. Filsafat menanamkan bahwa manusia yang menentukan sendiri takdirnya. Bak novel, manusia yang menentukan halaman berapa ia membaca. Sementara aqidah ahlul sunnah wal jamaah meluruskan, urusan hidup sudah dituliskan dalam Lauh Mahfudz, yang telah ditutup dalam sebuah buku. Bak novel, jalan ceritanya telah ketahuan. Tapi manusia tak mengetahuinya. Makanya ‘qudrah dan iradah’ merupakan domain Tuhan.

Klimaks dari mu’tazilah melahirkan drama al mihnah. Al Quran dianggap makhluk Allah. Karena Al Quran dianggap baru (hadits). Ini menjadi urusan tauhid. Dan pemaksaan atas doktrin tauhid mu’tazilah. Alhasil terjadi persekusi sejumlah ulama. Imam Ahmad sampai mendekam di penjara gegara tak menerima doktrin Al Quran adalah ‘makhluk’. Hingga kemudian muncul Imam Asyari, imam Mathuridi dan kaum mutakallimun lainnya. Asyari meluruskan mu’tazilah. Bahwa ‘qudrah dan iradah’ merupakan domain Allah Subhanahuwataala. Dia melawan filsafat. Disitulah mutakallimun membentengi umat. Imam Ghazali menyerang habis filsafat. Tahafut al Falasifah jadi ‘huzzatul Islam’. Bukti kehadiran Islam, dalam membentengi dari kesesatan filsafat. Kesesatan logika menjadi raja. Dan kehadiran Shaykh Abdalqadir al Jilani membawa umat kembali pada tassawuf. Wadah pembelajaran yang tidak memfokuskan pada rasionalitas. Tapi seutuhnya pengenalan tentang ma’rifatullah. Sebagaimana ajaran Rasullullah Shallahuallaihi wassalam. Inilah inti Islam.

Filsafat tamat dalam Islam. Tapi kemudian menyeberang ke Eropa. Dari Andalusia, dikutip kaum Eropa barat. Mereka memerlukan filsafat. Karena tengah berhadapan dengan paham jabarriya-nya Gereja Roma. Thomas Aquinas melancarkan ‘tweez twerden theorie’ (teori dua belah pedang). Bahwa ajaran agama dan filsafat dianggap tak berbenturan. Aquinas mengutip Al Farabi, sampai Ibnu Rusyd. Sebelumnya, Al Farabi menelorkan teori emanasi, ketika mu’tazilah merebak. Kebenaran hasil penyingkapan ala filsafat, aletheia tadi, sama dengan Kebenaran ala Wahyu. Karena Al Farabi mengusung ‘akal bawaan’ sebagaimana teori Aristoteles.

Rennaisance pun merebak di Eropa. Mereka kegirangan menemukan ‘filsafat’. Machivelli mulai ‘menteorikan’ tentang kekuasaan. Yang sebelumnya itu adalah dogma. Bahwa kekuasaan adalah domain Tuhan. Adagium ‘vox Rei vox Dei’ wajib diterima. Suara Raja suara Tuhan. Machiavelli menggoyangnya. Dengan teori ala rasionalitasnya. Montesquei menyambut. Dia tak setuju monarkhi sebagai punggawa. Teori baru muncul. Itulah ‘trias politica’. Kekuasaan haruslah diawasi oleh sesama manusia. Disini nampak jelas. Rennaisance melancarkan kembali ‘qudrah dan iradah’ berada di tangan manusia. Bukan domain Tuhan. Maka Tuhan dianggap ‘tak berwenang’.

Francis Bacon menggebrak dari Inggris. Dia menelorkan teori tentang ‘ada’ (being). Sesuatu dianggap ‘ada’ jika, ‘Aku ada maka aku berpikir’. Manusia menjadi sentral pengamat. Manusia bukan lagi objek yang diamati. Melainkan objek yang mengamati. Karena sentral segala sesuatunya adalah manusia. Akal, menjadi sentral pengamatan. Itulah ‘aletheia’ tadi. Penyingkapan dengan rasio.

Akrobat baru datang dari Perancis. Rene Descartes. Teorinya dipakai sampai kini. Cogito ergo sum. “Aku berpikir (think) maka aku Ada (being)”. Keberadaan ‘sesuatu’ muncul dari ‘pikiran’ manusia lebih dulu. Sebelum masuk wilayah nyata, harus masuk dalam wilayah inderawi semata. Descartes melancarkan akrobat yang menggebrak Eropa. Alhasil melahirkan banyak cabang-cabang dari filsafat. Karena seiring filsafat, selalu dibarengi sains dan sihir. Sihir dari ilmu perbintangan. Inilah anak kandung filsafat sejak masa ke masa.

Dari sisi keuangan, filsafat ditunggangi kaum bankir. Mereka pun menteorikan bahwa emas dan perak bisa digantikan kertas. Dengan logika bahwa ‘Raja’ menjamin kertas itu berlaku sebagai alat tukar. Inilah teori ala manusia. Alhasil muncullah ‘uang kertas’. Dalam bidang hukum, filsafat melahirkan filsafat hukum. Dari Montesquei, Bodin hingga berpundak pada Rosseau. Dia menelorkan teori ‘le contract sociale’. Kehendak rakyat. Ini dalil untuk membentuk konstitusi. Kontrak sosial. Seolah masyarakat berpegang pada kontrak bersama, yang dilandasi kehendak manusia, untuk membuat hukum sendiri. Maka muncullah yang disebut ‘constitutio’. Dasarnya adalah ‘kehendak manusia’. Bukan kehendak Tuhan.

Vox Rei Vox Dei pun dieliminasi. Digantikan menjadi ‘Vox populi Vox Dei’ (suara rakyat suara Tuhan). Artinya ‘kehendak manusia’ menjadi dominan. Kehendak Tuhan, tak lagi digunakan. Karena Voltaire selalu mengaggungkan, “Jika Tuhan menuntut ketundukan penuh, maka Tuhan adalah diktator. Dan segala kediktatoran haruslah ditolak.” Dalil Voltaire inilah membuat manusia menentukan ‘kehendak sendiri’ dalam kekuasaan. Makanya melahirkan ‘demokrasi’, yang dianggap bisa menterjemahkan ‘kehendak manusia’ tadi.

Puncaknya revolusi Perancis, 1789. Segala ‘kehendak manusia’ menemukan moment-nya. Revolusi Perancis mengkudeta kekuasaan Gereja Roma. Tak ada lagi Raja sebagai wakil Tuhan. ‘kehendak Rakyat’ dianggap wakil Tuhan. “Konstitusi” dianggap sebagai lebih sahih. Maka muncullah format baru, hasil rasionalitas, itulah ‘state’, yang berbentuk pasca Revolusi Perancis. Inilah puncak dari filsafat rennaisance. Jika masa mu’tazilah, filsafat hanya melahirkan ‘al mihnah’. Dalam rennaisance, filsafat melahirkan format baru ala rasionalitas: state. Dari bahasa Machiavelli: lo stato. Inilah yang menjadi kepatuhan manusia modern. Yang kemudian oleh Junger melahirkan ‘gestalt’. Manusia menjadi budak dari hasil rasionalitas.

Nietszche menemukan endingnya. “Filsafat itulah berhala,” katanya. Itulah faktanya. Karena filsafat tak lagi dijadikan ajang menemukan ‘Kebenaran.’ Filsafat post modernisme, bukan lagi digunakan untuk ‘aletheia’ (penyingkapan) akan Kebenaran. Tak serupa dengan masa Al Farabi, Ibnu Sina, Aquinas dan lainnya. Karena mereka tergolong sebagai filosof illahiyyun (filsafat ketuhanan). Karena post modernisme melahirkan filosof ateisme (dahriyyun). Filsafat yang meninggalkan ‘Tuhan’. Karena teori ‘Aku berpikir maka aku Ada’. Manusia seolah menjadi sentral segala sesuatunya. Dan itu bermula dari ‘berpikir’.

Maka Martin Heidegger, filosof Jerman memberikan jawabannya. “Apa perlunya berpikir?” katanya. Karena Heidegger paham, “berpikir” itu tak menghasilkan apapun. “Mereka mengira yang disebut ‘berpikir’ itu adalah berpikir, padahal bukan berpikir,” paparnya dalam ‘Being and Time’. Karena Heidegger memahami, ‘cogito’ itu bukanlah ‘berpikir’. Yang disebut berpikir itu, kata Heidegger, hanya sebatas kegiatan ‘mengingat, menambah, mengurangi, sampai mengalikan, dan itu tak layak disebut ‘berpikir.’ Dari sinilah Heidegger memberi fatwa, ‘Filsafat tak lagi bisa dijadikan ajang menemukan ‘Kebenaran.’ Karena filsafat, sambungnya, bisa dibuat memadai dan tidak memadai. Heidegger memberikan jawaban dari kebuntuan manusia modern, yang terjebak pada post modernitas, buah dari taqlid buta pada filsafat. Sesuatu yang dianggap ‘berpikir’, padahal bukan. Ini yang Ian Dallas menyebutkan, “rennaisance telah menjadikan manusia sebagai ‘tuhan’.” Dengan rasionalitasnya, manusia berubah posisinya menjadi penentu. Padahal hal itu domain Tuhan. Karena urusan qudrah dan iradah merupakan domain Tuhan. Rennaisance mendudukkan bahwa qudrah dan iradah berada di tangan manusia. “Manusia sudah seperti Tuhan,” kata Dallas.

Inilah yang kemudian digambarkan Nietszche sebagai ‘the will to power’. Hasrat berkuasa yang berlebihan. Manusia modern menjadi terjebak pada hasrat syahwati terhadap segala sesuatunya. Dari rasionalitasnya, kemudian turun menjadi budak nafsu. Ingat, Plato menjabarkan susunan anatomi manusia: Akal, kehendak, nafsu. Nietszche menggambarkan ‘the will to power’ sebagai manusia modern yang telah terjebak pada nafsu syahwati. Bukan lagi budak akal. Melainkan budak nafsu.

Inilah pesan Imam Ghazali dulu terbukti benar. Ketika beliau mencegat paham filsafat mu’tazilah, Imam Ghazali berpesan, “Sesungguhnya akal tak bisa dijamin aman dari kesalahan. Maka tidak bisa dibenarkan mengambil hakekat ajaran agama darinya.” Ibnu Khaldun dalam Muqadimma juga mewanti akan bahaya filsafat. “Jangan sekali-kali mengambil ilmu dari filsafat, karena jarang sekali orang bisa selamat dari marabahayanya,” terangnya. Nietszche, Heidegger, Junger memberikan jawabannya. Dan Ian Dallas memberikan buktinya. Beliau putera Eropa yang kemudian menemukan Islam, setelah merebaknya nihilisme di jantung Eropa.

Dallas menggambarkan, filsafat sebagai kebuntuan untuk memahami ma’rifatullah. Tentang bagaimana memahami Tuhan dalam makna sesungguhnya. Karena filsafat hanya mematok pada ‘segala sesuatunya adalah materi.’ Materialisme. Manusia berfokus pada inderawi semata. akal menjadi raja.

Disinilah tassawuf menjadi antitesa yang tepat untuk menjawab kebuntuan filsafat. Tasswuf memberi tunjuk ajar tentang bagaimana mendudukkan manusia sebagai hamba, ketika didunia. Tassawuf memberikan elemen kunci tentang anatomi rohani, unsur penting dalam tubuh manusia. Sementara filsafat, hanya berfokus pada anatomi lahir (dzahir) semata, dengan akal sebagai raja. Alhasil hanya melahirkan nihilisme, dan manusia kini malah terjebak pada budak nafsu syahwati. Itulah yang dimaksud dalam ‘the will to power’.

Dalam Islam, unsur manusia terpenting terdiri dari rohani dan jasmani. Rohani itu, minimal, terdiri dari qalbu, akal dan nafsu. Sementara filsafat membaliknya, hanya terdiri dari akal, kehendak, nafsu. Nietszche menggambarkan, kini manusia hanya berfokus pada pemenuhan hasrat syahwati. The will to power.

Imam Ghazali menggambarkan, kebahagiaan itu dicapai manusia ketika memenuhi fakultas qalbu-nya. Sementara filsafat, sebagaimana Socrates menggambarkan, kebahagiaan adalah tatkala manusia memenuhi hasrat akalnya. Itu yang disebut akal budi. Lalu melahirkan moralitas. Dan dari Nietszche, kita mahfum, manusia modern tak lagi berfokus memenuhi hasrat akalnya. Melainkan beroeintasi memenuhi hasrat nafsunya. Bukan lagi akalnya. Itulah yang dianggap sebagai jalan kebahagiaan, memenuhi fakultas nafsu. Inilah nihilisme. Dalil inilah mengapa manusia modern sibuk melampiaskan hasrat nafsu seksualnya dalam prostitusi, karena dianggap itu ‘kebahagiaan’. Lalu manusia sibuk memenuhi fakultas nafsunya dengan memupuk harta berlimpah, dianggap jalan ‘bahagia’. Manusia tak lagi menemukan ‘bahagia’ dengan memenuhi hasrat rasionya. Apalagi qalbunya.

Kondisi ini yang disebut Dallas sebagai degradasi kehidupan ekosistem manusia. Devolusi, bukan evolusi. Alhasil melahirkan klan manusia yang buruk. Gejala kehidupan ala modernitas ini hanya melahirkan ekosistem buruk manusia, yang memunculkan manusia yang psikosis. Demikian kata Dallas.

Jalan keluar dari sana, tentu dengan kembali pada aqidah ahlul sunnah waljamaah. Dengan berpusat pada qalbu, sebagai fakultas yang harus dipenuhi. Dan hanya tassawuf yang memiliki metode untuk pemenuhan fakultas tersebut. Karena tassawuf, sebagaimana diajarkan Rasulullah, menggambarkan bagaimana qalbu akan bahagia dengan dzrikrullah.

Dari sanalah kita akan mahfum apa yang disebut ‘berpikir.’ Karena Shaykh Umar Vadillo, ulama dari Spanyol mengatakan, “Ma’rifatullah itulah berpikir.” Tentu ini memerlukan penjabaran. Tapi dengan mengenal Allah, disitulah nampak akan Kebenaran. Filsafat justru membatasinya. Karena filsafat materialisme telah memberi defenisi, “Tuhan hanya bak pembuat jam, ketika jam selesai dibuat, maka bekerja dengan sendirinya.” Tuhan, oleh materialisme, didudukkan sebagai pasif. Sementara tassawuf mengajarkan bagaima Tuhan itu bersifat ‘aktif’.

Disinilah memerlukan pengajaran Tauhid yang mumpuni. Shaykh Abdalqadir as sufi menggambarkannya dengan terang. Tentang bagaimana kedudukan mahjub, maghjub, madzjub, dan mahbub. Inilah level pemahaman manusia tentang Tuhan. Beliau mengatakan, “Mahbub, hanya dapat melihat keberbedaan, dan ia orang yang masih terselubungi. Inilah yang disebut materialis,” katanya.

Jadi dalam tingkatan Tauhid, kaum materialisme ini berada pada bahasa ‘mahjub’, yang terselubungi akan keberadaan Allah Subhanahuwataala. Karena akal membuat manusia ‘tidak sampai’ pada Tuhan. “Ini merupakan kekufuran,” kata Shaykh Abdalqadir as sufi.

Sementara level berikutnya tentang maghzub. Shaykh Abdalqadir as sufi menjabarkan, “Ini manusia yang telah bisa mengindentifikasi masalah-masalah yang fenomenal dengan Tuhan, yakni ia yang berkata, ‘Tuhan ada di alam dunia, justru sejatinya Dialah alam dunia itu,’ ini merupakan seorang ilusionis. Dan ini masih tergolong sesat.

Level lainnya, majdzub, orang yang dilanda mabuk kemenyatuan dengan Ilahi. “Hanya Allah-lah yang ada!” seolah hanya Allah saja yang ada, ia merupakan seorang ‘absorbsionis’. Yang disini juga masih dalam kesesatan. “Tapi seseorang yang dapat membedakan mana merupakan keberbedaan, yakni ciptaan-ciptaan-Nya, dan yang manakah jati diri yakni Sang Pencipta, yang merupakan yang dicintai oleh Allah Subhanahuwataala, ini yang disebut ‘mahbub’,” kata Shaykh Abdalqadir as sufi.

Dan inilah yang berada dalam posisi ma’rifatullah. Mengenali Allah Subahahuwataala, dari derajat sebagai manusia. Nah, dari sini nampaklah antitesa dari filsafat adalah ma’rifat. Karena filsafat hanya melahirkan ‘the will to power’ yang menjadikan posisi manusia sebagai budak nafsunya. Bukan lagi budak akal, sebagaimana ajaran Socrates. Tapi tassawuf mendudukkan manusia sebagai budak qalbu, yang akan dengannya membawa jalan keselamatan selama kehidupan di dunia. Karena filsafat tak mampu menjabarkan bahwa dunia ini adalah fana. Karena akal manusia, tak bisa menjangkau alam sebelum dunia.

Dan Nietszche telah berfatwa, “Filsafat itulah berhala.” “Karena Filsafat tak berpikir”, kata Heidegger.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *