oleh: SHAYKH ABDALQADIR AS SUFI*

Saya hendak menggeser perspektif anda tentang Syari’at Islam. Diterjemahkan secara harfiah menjadi ‘jalan besar’ (the road) sebagai lawan dari Thariqah, dalam bahasa Arab berarti ‘jalan setapak’ (the path) atau jalan pribadi. Sebagaimana hukum Romawi merupakan sistem prinsip-prinsip struktural yang dideduksi dari kasus-kasus spesifik, maka ‘syari’at’ merupakan lawan darinya. Syariat adalah natural law. Ia merupakan sesuatu yang kita mengerti dalam tradisi Eropa, sebab tokoh Eropa besar yakni Goethe, dan seluruh filsafat Goethe meerupakan upaya dalam mengenali bahwa bukan natural law saja yang merupakan metamorfosis, (yang berisikan) pengungkapan (unfolding) dan transformasi, akan tetapi manusia juga merupakan bagian darinya. Kita bukan berada di luar dari proses tersebut.

Saya juga hendak menyentuh soal pentingnya spiritualitas Nietzsche yang, betapapun bengalnya ia, merupakan ‘putra’-nya Goethe. Ketika anda membaca tulisan-tulisannya, akan nampak bagi anda betapa besarnya kekaguman dirinya akan spiritualitas diri Goethe. Nietszche melihat Goethe, dalam diri dan hubungannya dengan kehidupan, memiliki banyak kualitas-kualitas mendasar  yang ia jadikan  sebagai indikasi sifat-sifat Übermensch, sang ‘manusia-yang-melampaui’, yang telah ia dakwahkan untuk menyelamatkan kesadaran dari malapetaka keyakinan orang banyak. Nietzsche, dengan kewaspadaan profetiknya – dalam pengertian intelektual – telah meramalkan bencana yang akan datang.

Kita telah membahas Syari’at Islam sebagai sesuatu yang bersifat alamiah (natural), serta dibangun dengan aspek evolusioner dalam pemenuhan kebutuhan (fulfilment) – bukan aspek evolusioner dalam pengertian Darwinian, melainkan dalam pengertian tentang pertumbuhan dan pengembangan yang lumrah (alami).

Sekarang, kita masuk ke ‘Thariqah’, yang merupakan jalan setapak, ‘Syari’at kecil’, yang mana berhubungan dengan jaringan sosial yang bersifat pribadi. Thariqah adalah bagian kedua dari (Dinul) Islam secara keseluruhan, yang didefinisikan dalam bahasa hukum Islam sebagai Iman. Iman memiliki sederet daftar tentang hal-hal yang pengertiannya telah ditentukan oleh Rasul, Sallallahu ‘alayhi wa sallam, yang kesemuanya dimulai dengan mempercayai Allah. Deretan hal-hal ini melingkupi segala sesuatu terkait apa yang kita sebut dengan lanskap tak kasat mata –yang Ghaib, segenap dimensi eksistensi yang tak terlihat.

Menariknya, benar-benar tidak ada lagi cara agar anda dapat membicarakan tentang yang-Ghaib dengan makhluk modern yang telah diciptakan oleh masyarakat mesin ini, yakni ‘negara teknik’ (technique state), dan karenanya seluruh bagian dari eksistensi manusia terabaikan. Ia telah dipecah-belah oleh para pseudo-saintis yang telah diciptakan di dalam dunia modern ini agar mereka dapat sepenuhnya menangani elemen-elemen ‘pengganggu’ massa – makhluk ini dapat anda katakan masih tergolong spesies yang sama, namun mereka (tetap saja) berkata, “Ada banyak hal yang tak dapat saya lihat”, “Ada dunia yang tidak dapat saya lihat”, “Saya telah bermimpi”, “Saya telah mendapatkan penglihatan”, “Orang yang sudah meninggal telah berbicara kepada saya,” dan seterusnya. Semua ini telah mereka bagi-bagi dan mereka telah menciptakan suatu pasar esoteris yang menanganinya.

Mereka telah menciptakan ketertarikan akan agama-agama kuno secara romantis, segala yang bersifat esoteris dan atraktif yang tidak akan pernah mengancam budaya mesin, namun akan tetap membiarkan mereka-mereka yang dengan sedikit imajinasi untuk dikultuskan di suatu pojok, di mana mereka dapat memanjakan hasrat mereka atas hal-hal tersebut, bahkan memutar-mutarkan mereka dalam kepentingan pseudo-metafisika.

Tipe lainnya berkata, “Ya, saya telah melihat itu. Saya dalam keadaan terjaga dan saya melihatnya.” Lalu mereka membalas, “Ah, tentu saja anda melihatnya karena sedang stres.” Kemudian mereka menempatkan orang tersebut ke dalam kategori medis, sehingga seluruh zona spiritualitas dikerdilkan di bawah analisis medis dan menjadi masalah medis. Ia menjadi masalah neurosis dan parahnya lagi (digolongkan menjadi) psikosis. Penderita psikosis melihat sesuatu yang tidak ada di hadapannya, ia melihat hal-hal yang orang lain tidak lihat, dan karena orang-orang tidak dapat melihatnya, kesepakatan bersama pun menetapkan bahwa orang ini gila, itulah sebabnya mengapa anda mendapati di antara sebagian kaum intelektual dan ahli medis mempertanyakan pemikiran modern tentang apa itu kegilaan. Bukan mempertanyakan tentang kegilaan itu sendiri, melainkan tentang seperti apakah kegilaan itu menurut ketentuan modern, yang entah bagaimana mereka kenali secara politis sebagai terlibat dalam penolakan identitas dan kebebasan ‘orang lain’, betapapun mustahil ditoleransi dan ‘lain’-nya kepribadian orang itu.

Kita tak bisa keluar dari kenyataan bahwa pengalaman tertentu, dan saya tidak sedang berbicara soal fantasi, telah didegradasi dari evolusinya, dan keberadaannya didevaluasi secara politis dengan digolongkan menjadi ciri-ciri penderita psikosis. Ini sangat penting. Harus anda ingat bahwa (Carl) Jung telah mendedikasikan masa-masa terakhir dalam hidupnya dalam mencari cara untuk membahas jiwa manusia dengan tidak menegasikan validitas yang-Ghaib. Semua tulisannya seputar alkimia dan simbol-simbol Yunani benar-benar merupakan pencarian spiritual, dan pada kenyataannya merupakan pencarian yang quixotic, jika mengingat dari mana ia berasal di dunia ini, untuk membenarkan realitas yang-Ghaib. Karyanya senantiasa menjadi sesuatu yang monumental dan luar biasa berharga –bukan teorinya tentang bagaimana ia menginterpretasikan itu, melainkan rekognisinya tentang eksistensi akan hal ini (yang-Gaib, penj.) baik secara klinis maupun intelektual.

Penyangkalan akan yang-Gaib memiliki dimensi politis, mistis, dan intelektual. Terhadap massa, penyangkalan ini memunculkan industri majalah dan buku-buku yang lumayan serius. Sekarang akan anda lihat adanya satu golongan buku yang signifikan di toko-toko buku manapun, yang nyaris sebesar golongan buku kesehatan jasmani, yakni perihal (ilmu) klenik (occult), tafsir mimpi dan lain sebagainya, yang bertujuan menstrukturisasi semua yang, alih-alih membangkitkan kesadaran, justru menimbulkan frustrasi dan kejemuan, memproduksi keterangan-keterangan menjengkelkan tentang sesuatu yang pada kenyataannya tidak ada di sana.

Semua elemen-elemen Iman: percaya kepada Allah, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, kebangkitan jasad dari kematian dan lain sebagainya – segala sesuatu yang berkaitan dengan alam Gaib memerlukan Iman. Iman sendiri artinya ‘percaya’ (trust). Percaya yang merupakan nilai moral dan etis, yang telah dihapuskan dan tidak ada dalam kurikulum rakyat biasa atau bahkan pendidikan tinggi. Ia telah diturun-derajatkan, dan pengajar-pengajarnya hadir dengan etos yang sama dengan sekolah-sekolah rakyat biasa.

Percaya bukanlah nilai etika jika tidak diwujudkan dalam diri (embodied). Percaya, kecuali jika ia dialami secara eksistensial, tidak akan dapat dialami, dikenali, maupun diidentifikasi secara filosofis oleh ‘diri sejati’. Jika percaya belum dibangun dalam kesadaran, ia tidak akan muncul sebagai nilai abstrak, dan karenanya ini akan berdampak dalam segenap konsepsi transaksi bisnis.

Dalam Islam, seluruh transaksi bisnis didasarkan kepada ini (rasa percaya, penj.), kepada kelayakan seseorang dalam memenuhi bukan saja pertukaran harta (exchange), melainkan juga pembayaran secara tertunda (delayed payment). Bahkan utang pun tidaklah sama dengan utang pada zaman di mana rasa percaya masih menjadi landasan. Sebab utang adalah sesuatu yang dilupakan hingga ia dibayarkan – oleh kedua belah pihak. Akan tetapi, utang dalam masyarakat tanpa rasa percaya, yang tidak lain adalah zaman kini, adalah sesuatu yang tak dapat dilupakan. Anda hidup di dalamnya, dan rasa was-was karena anda belum membayarnya serta rasa was-was dari pihak terutang yang meyakini bahwa utangnya tidak akan dibayar, inilah kondisi manusia dalam masyarakat kini. Mereka bukan hanya tidak memiliki rasa percaya pada saat sedang berkesepakat, melainkan hidup dalam eksistensi pengalaman tanpa rasa percaya: “Saya tidak akan dibayar!”, “Saya tidak bisa membayar!” Seluruh utang Dunia Ketiga merupakan pemisahan eksistensial jutaan orangnya menjadi (orang) tak berharga dikarenakan mereka tidak bisa membayarnya.

Kepala kedua Bank Dunia ditanya mengenai mengapa mereka mennghasilkan lebih banyak uang dari mengutangi negara-negara ketimbang dari yang mereka berikan dalam bentuk pinjaman (loans). Untuk menutupi aibnya, ia menjawab, “Well, sekarang kami memiliki program yang sama sekali baru, sebab kami memberikan uang dan tidak mendapatkan bayaran, dan kami tidak akan membayar tikus-tikus lagi untuk hidup di gorong-gorong.” Seperti itulah pandangannya tentang mayoritas umat manusia! Seperti itulah masyarakat yang kita tinggali sekaligus evaluasi yang mempengaruhi situasi dalam negeri pada umumnya.

Pada dasarnya (perkataan) itu merupakan sesuatu yang menghina, namun ajaibnya kepasifan telah membuatnya diterima. Ada penghinaan yang tidak waras terhadap orang-orang. Tidak ada apapun di dunia ini yang dapat waras dalam populasi yang sama. Tidak ada ‘pemikiran’ yang riil, satu-satunya pemikiran riil yang tidak terhubung dengan kerumitan jasmani eksistensi (manusia) adalah pemikiran para penderita psikosis yang telah memutus diri dari tubuh, sebab tubuh sebagai rumah tak lagi menjadi tempat yang ingin mereka tinggali. Sehingga mereka memilih untuk berada di bulan atau dimanapun mereka dapat menghidupkan jiwa mereka selagi di sana adalah tempat yang aman. Saya pikir tidak ada yang namanya pemikiran. Bahkan jika anda memikirkan ide-ide abstrak ataupun sedang mengerjakan matematika, sejatinya itu semua merupakan ekspresi dari keberadaan eksistensial diri anda setiap hari keber-Ada-an anda (your ‘Being’).

Karenanya, Iman adalah bagaimana kita terhubung dengan yang-Gaib serta penerimaan kita tentangnya. Bagaimana mungkin kita dapat menerimanya jika kita telah diikat dengan rasa was-was yang mustahil mengizinkan kita untuk beranjak menuju pengelihatan akan yang-Gaib, yang merupakan ketersembunyian nan asing, yang terlebih lagi kedirian mereka sepenuhnya tidak dapat dipercaya dan tidak dapat menghormati kita, karena tidak diajarkan tentang Kehormatan?

Sudah tidak ada lagi konsep, doktrin, serta pengajaran tentang nilai etika kehormatan semenjak rekonstruksi sekolah masyarakat pada tahun 1945 hingga 1950 di Eropa. Saya tidak bisa membahas tentang seluruh dunia. Saya pernah diberitahu oleh beberapa cendekiawan Tionghoa bahwa pengajaran Konfusius tidak diajarkan dalam sekolah-sekolah Mandarin, yang karenanya mungkin menjadi persamaan (dengan di Eropa, penj.), sehingga ini menjadi fenomena global, akan tetapi saya hanya harus mengurusi apa yang kita ketahui, yakni tradisi Eropa kita. Inilah mengapa kota-kota menjadi kolaps, tiada seorangpun yang selamat, dan orang-orang terus-menerus membincangkan tentang mengapa dahulu anda bisa pergi keluar dengan meninggalkan pintu terbuka dan seterusnya.

(Bersambung)

*Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar dari Skotlandia. Kini menetap di Cape Town, Afrika Selatan di usia 90 tahun. Artikel ini merupakan ceramahnya ketika berdakwa di Klontal, Swiss, tanggal 14 April 1990 lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *