oleh: Irawan Santoso Shiddiq

Negara. Istilah ini beragam makna. Terlebih di masa modern. Karena makna negara, terdistorsi sana sini. Padahal kata ‘negara’ baru muncul di abad pertengahan. Kala Eropa di masa kegelapan. ‘Kegelapan’ dalam defenisi kaum rasionalitas. Kaum yang menghamba pada rasio manusia belaka. Santo Agustinus (abad 12), menterjemahkan adanya dua pondasi cara berpikir. Lex Divina (rasio Tuhan) dan Lex Aeterna (rasio manusia). Kata ‘state’ itu berasal dari rasio manusia. Lex Divina itu bersumber dari Wahyu. Kitab suci yang asli. Islam, tentu bahasa dari kebenaran Wahyu.  

Dalam khazanah bahasa, kata ‘negara’ terjemahan dari ‘State’ (english), Lo stato (Italia), l’etat (Perancis), Staat (Belanda). Entah siapa yang mengartikan entitas itu menjadi ‘negara’. Padahal maknanya tak serupa. Karena ‘state’ bermula dari ‘Lo Stato’. Machiavelli dalam Il Principe, abad 16, memunculkan kali pertama kata ‘lo stato’. Ini buah dialektika tentang bentuk pemerintahan yang ideal. Machiavelli merasionalisasi perlu model pemerintahan baru yang stabil. Muncullah kata ‘stato’ dari bahasa Latin: ‘statum’. Artinya stabil.

Masa rennaisance, perang pemikiran kaum Eropa. Kala itu berlaku adagium Vox Rei Vox Dei. Suara Raja Suara Tuhan. Kekuasaan berada ditangan Raja dan Gereja. Bangsawan dan agamawan menjadi elit atas. Kaum borjuis dan baron terpinggirkan. Magna Charta, 1215, di Kerajaan Inggris, mulai menggoyang Vox Rei Vox Dei. Seolah Raja bukan perwakilan Tuhan. Kala itu para baron berhasil menang. Magna Charta jadi tonggak perjalanan. Doktrin Gereja tak sepenuhnya bisa diterima. Ditambah merebaknya filsafat di belantara Eropa. Dari di bawa Aquinas sampai memunculkan akrobatik Bacon, Descartes hingga Kant. Dari situlah Tuhan mulai dieliminasi. Tuhan didefenisikan sebagai pembuat jam belaka. Kala jam selesai dibuat, maka jam berjalan sendirinnya. Ini dalih bahwa kekuasaan juga berhak dijalankan manusia. Tanpa lagi tunduk pada rasio Tuhan. Pun demikian dalam hal pemerintahan.

Shaykh Abdalqadir as sufi, dalam kitab ‘Sultaniyya’, menjelaskan: filsafat yang semula hanya menjadi pembahasan soal kosmosentris, kemudian berubah merasionalisasi tentang kekuasaan. Sejak itulah dialektika tentang ‘state’ mulai diminati. Cara berpikir Platonis dan Aristotelian diadopsi. “Wacana politik Islam tidak mengenal kelas politik. Sistem ini merupakan lawan kapitalisme, lawan bankisme. Istilah yang memberi defenisi politik Islam ini telah disalahartikan oleh golongan Qutbi dan Wahabbi, menjadi istilah ‘negara (state’) sebagaimana digunakan kaum kuffar,” tulis Shaykh Abdalqadir as sufi.

Titik fokus ini yang ditekankan ulama besar asal Eropa itu. Dari Sultaniyya, menuju The Entire City, kitab yang ditulisnya terakhir kali. Kitab yang menjadi masterpiece bagi pengajarannya sebagai Mursyid. Titik fokus tak berubah. Pengajaran tak pernah berganti. Bagi muridnya yang mengerti.

Fitrah menjadi pondasi tentang kebenaran Wahyu. Fitrah, dalam kitab Sultaniyya, dijabarkan tentang ‘rububiyah’, menjadi penekanan kebenaran kehidupan manusia. Inilah De Nature, yang digemborkan juga oleh Cicero, ulama dari Romawi Kuno yang menegakkan tauhid di masa itu. The Entire City dibuka dengan kisah Vindiciae Contra Tyrannos. Perlawanan terhadap tirani kekuasaan. Artikel Dupplesis Mornay, penganut aliran monarchomach, sengaja dituangkan. Kisah perlawanan terhadap tirani kekuasaan yang berlangsung masa abad 16 Masehi. Kala Monarkhi masih menggejala. Kala Vox Rei Vox Dei masih dipercaya. Tapi monarkhi berubah menjadi ‘the king can do no wrong’. Raja dianggap tak bisa salah. Raja perpaduan dengan Gereja, dianggal Wakil Tuhan. Tapi peristiwa 1453, jatuhnya Konstantinopel, membuat kaum Eropa makin krisis rasa percaya pada adagium itu. Karena tatanan Gereja dianggap tak bisa menjaga kekuasaanya. Padahal itu tetap jatuh pada tangan kaum muslimin. Daulah Utsmani. Tak berubah.

Tapi para skolastik, kaum penganut rasio, makin menyerang. Edict de Worm, fatwa bahwa penganut Protestan merupakan bid’ah, masa itu, di eksekusi. Hasilnya, ribuan orang Huguenot diundang ke istana Raja Charles IX, Raja Perancis yang dikontrol Chaterine de Medici. Mereka merayakan malam pembantaian Santo Bartolomeus, sahabat Isa Allaihisalam yang dibantai masa Romawi. Malam hari, ribuan Huguenot itu diracun. Mati. Inilah pembantaian terbesar abad pertengahan. karena perang aqidah di tubuh Nasrani. Tapi Raja berubah menjadi tiran. “Charles IX hanya seorang anak kecil, yang dikontrol Chaterine de Medici (ibunya). Dia telah digerakkan dengan tujuan untuk menyelematkan keinginan untuk terus berkuasa,” tulis Ian Dallas dalam The Entire City.

Alhasil artikel Mornay, vindiciae contra tyrannos, pun menyebar lebar. Perlawanan pada raja yang tiran. Istilah ‘abuse of power’ mulai diperkenalkan.

Masa itulah teori kekuasaan mulai dirumuskan. Rasio manusia digunakan. Untuk melawan Vox Rei Vox Dei tadi. Dari Machiavelli, mencuat Montesquei. Tapi Jean Bodin, sama seperti Mornay, mempertahankan pola tradisionalis. Mereka melawan bentuk rasionalisasi tentang perlunya model kekuasaan baru. Itulah yang disebut: state tadi. Sebuah konsepsi pemikiran manusia, untuk kehidupan bersama. “Dari abad ke-16 ada dua bentuk utama dari doktrin politik, ‘Republique’ dari Bodin dan Vindiciae dari Duplessis Mornah adalah contoh-contoh yang terbaik,” tegas Ian Dallas lagi. Bodin tetap ingin membawa kekuasaan berada pada fitrah. Di tangan seorang Raja, sebagai bentuk perwakilan Tuhan. Kitabnya, ‘republique’ menekankan tentang summa potetas harus diperkuat pada Raja, demi terciptanya kestabilan.

Tapi Machiavelli, Montesquei sampai Rosseou membaliknya. “Semuanya berubah setelah Rosseou,” tulis Ian Dallas lagi. Karena Rosseou membalik semua rasio. Rosseou mengatakan kekuasaan bersumber dari manusia. Bukan dari Tuhan. Teorinya, ‘le contract sociale’ melegitimasi diperlukannya suatu bentuk baru, entitas baru bagi kehidupan bersama. Itulah ‘state’ tadi. Alhasil kedaulatan pun berpindah. Dari datang dari Tuhan, menuju kedaulatan dari rakyat. Dari sinilah ‘peranan’ Tuhan seolah dieliminasi. Manusia mengenakan rasionya.

Revolusi Perancis, dieksekusinya teori Rosseou. Robbispierre menjadikan Rosseou sebagai kitab sucinya. Jadilah kemenangan kaum rasionalitas. Yang masa abad pertengahan disebut skolatisme. “Negara” atau State pun menjadi essensialisme. Konsep baru tentang tatanan kehidupan manusia, yang bersumber dari cara berpikir. Inilah outward. Tentang kekuasaan yang bukan fitrah. Karena ‘state’ muncul dari konsepsi hasil khayalan manusia. Ketika check and balances system dianggap bisa menyeimbangkan kekuasaan. Dari personal rule diubah menjadi system rule. Alhasil anti fitrah menggejala.

Pergantian strata pun terjadi, pasca ‘state’ yang ditandai dengan era modernisme. Dalam bahasa Austin, disebut positivisme. Puncak dari kemusyrikan. Karena kedaulatan berasal dari rakyat. Bukan Tuhan.  Dalam “The Interim is Mine”, Ian Dallas menukiskan, Revolusi Perancis, membuat borjuis menjadi strata pertama. Proletar tetap ketiga. Strata kedua, tiada. Karena bangsawan dan agamawan dihabisi. Inilah tatanan sosial dari State. Negara.  

Dallas kemudian menuangkan tentang sekuel Harold Laski, seorang lawyer Inggris abad 20. Laski mengangkat lagi kisah ‘vindiciae contra tyrannos’. Dia mengutip lagi Mornay. Laski menegaskan: inilah saatnya me-reevaluasi terhadap konsep ‘state’ tadi. Karena state, telah berubah menjadi tiran.

Sekuel vindiciae itu bukanlah kulit-kulit The Entire City. Itulah pesan utama. Untuk membedakan tentang mana kekuasaan yang bersifat fitrah. Untuk memahami bagaimana rububiyah kekuasaan. Untuk tahu dimana letak common enemy kaum muslimin kini. Karena ‘state’ kini telah berubah bak monster “Oedipe” bak karya Max Ernst. Dalam bagian ketiga The Entire City, Dallas menuangkan kisah bagaimana Oedipe berhasil dikalahkan Dynosius. Dengan kembali pada ‘going into your self’, seperti yang diungkap Ernst Junger. Dalam bahasa lain, itu merujuk pada hati (qalbu). Qalbu sebagai pengendali tubuh. Bukan nafsu. Inilah rahasia kemenangan menaklukkan sang tiran tadi. Laski menunjuk dimana posisi tirani kini berada. The hidden.

Sekuel Massacre de Paris, Christopper Marlowe, memberi ajar tentang pola kekuasaan yang tak merujuk fitrah. Drama yang berlangsung masa Chaterine de Medici, kala kekuasaan menjadi idola, berpola pada pembantaian umat manusia. Inilah unfitrah. Inilah inward. Yang dengan drama, Dallas menunjuk ajar pada umat manusia kini, tentang pola kekuasaan yang merujuk pada ambisi. Nafsu. Tiada ketenangan bersarang di dalamnya. Seperti drama lain yang dituangkan Ibsen, tentang kisah kehidupan para bankir yang resah.

Yang pasti, The Entire City memberi tunjuk siapa sang ‘Oedipe’ era kini. Dari rangkaian tadi, tentu bisa disimpulkan dimana kemusyrikan bersarang. Dan itu berada pada konsep rasio manusia. Yang oleh Laski sangat ditegaskan. Itulah common enemy utama. Karena sang Oedipe itulah yang banyak menggantikan “peranan” Tuhan. Jadi bukan bankisme yang distrata teratas. Dari situlah konklusinya tak bisa parsial. Melainkan harus utuh. Seutuhnya bak The Entire City, kota yang utuh. Kota yang kaffah.

Karena kaum modernis kini, banyak terjebak untuk memahami bagaimana makna ‘state’ tadi. Padahal Hans Kelsen, jurist abad 20, telah memberi defenisi.  Istilah “negara” kadang digunakan dalam pengertian yang sangat luas untuk menunjuk “masyarakat” atau dalam bentuk khusus dari masyarakat. ‘State’ kadang-kadang dikatakan sebagai organisasi politik atas dasar bahwa negara adalah ‘kekuasaan’ atau memiliki ‘kekuasaan’. Negara di deskripsikan sebagai kekuasaan yang ada di belakang hukum, yang menjalankan hukum.

Dari sinilah pentingnya merujuk The Entire City. Karena agar tak terjebak distorsi makna ‘state’ tadi. Hingga jamak terjebak pada istilah ‘negara Madinah’, Negara Islam dan sebagainya. Padahal, ‘state’ ialah bentuk konsepsi rasio manusia, yang baru muncul masa modern. Dan itulah sang Oedipe, yang mencengkeram kehidupan umat manusia kini.

Dan ‘asyabiyya’ menjadi titik kunci. Karena membangun kembali asyabiyya, dari situlah jamaah tercipta. Formula asyabiyya ini bukan semacam “dinar dirham club”. Karena asyabiyya berisikan futtuwa yang menjadi khas peradaban fitrah. Virtue. Yang juga hadir di masa Romawi hingga Robert Deveroux, Secondary Earl of Essex dari Kerajaan Inggris. Dari futtuwa inilah lahir jamaah yang bergerak melawan kepasifan yang ditunjukkan manusia dalam melawan tirani kini. Dari situlah lahir new nomos. Itulah sultaniyya. Khilafah minhaj an Nubuwwah. Bersatunya syariat dan hakekat. Umara dan Ulama. AMR yang ikuti Mursyid. Kembalinya kekayaan dan kekuasaan. Kembalinya rukun Zakat. Jalan melawan sang ‘Oedipe’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *