oleh: Shaykh Abdalqadir as sufi*

Dalam masyarakat Islam, anda aman di dalam kota dan di luar daerah perkotaan. Di alam liar, anda dianggap tidak dalam keadaan aman dan karenanya diharuskan untuk bersenjata. Dimanapun kaum pria dan wanita hidup bersama dengan Syari’at, dengan natural law ini, maka anda dalam keadaan aman. Hari ini, yang terjadi sebaliknya! Jika anda pergi ke daerah pedesaan, pintu-pintu rumah orangnya terbuka dan anda aman dengan mereka, namun memasuki perkotaan kesempatan anda kian hari kian berkurang. Beberapa kota bahkan telah melampaui batas bahaya – sebagaimana seorang polisi berkata kepada saya di New York: “New York aman, selama anda tetap berada di dalam hotel! di luar sana sangat berbahaya.”

Ini tidak terjadi hanya karena produksi Rock and Roll dan pemasaran narkoba – justru semua itu merupakan efek, dan bukan penyebabnya. Narkoba adalah efek dari masyarakat yang telah menerima nilai-nilainya (yakni nilai-nilai yang membenarkan penggunaan narkoba, penj.) dan menyingkirkan mereka. Intinya, anda tidak bisa mendapatkan elemen-elemen etika seperti kehormatan dan rasa percaya melalui pengalaman materiel dalam berurusan dengan orang lain seperti orang di hadapan saya ini, sebab keseluruhan elemen rasa percaya ialah berkaitan dengan yang-Gaib. Kecuali jika anda meyakini elemen fundamental utama ini, yakni bahwa Kenyataan (Reality) (bahwa yang-Gaib) itu sendiri ada untuk dipercaya, maka mustahil anda dapat memiliki rasa percaya, dalam konteks se-spesifik apapun.

Jika anda tidak memiliki Iman, jika anda tidak mempercayai Allah, maka tentu saja anda akan segera berpikir, “Apa yang telah Dia takdirkan ini bagi saya benar-benar jahat, dan jika apa yang telah ditakdirkan tidaklah ditakdirkan oleh sang Pencipta yang Maha Pengasih, maka saya berada dalam posisi yang tak terlindungi dan berbahaya.” Namun kepercayaan di sini juga bukan dalam makna kepercayaan intelektual, melainkan kepercayaan yang ditransmisikan, dan ia juga merupakan proses pendidikan.

Saya hendak membahas tentang pendidikan (education) – bukan dalam pengertian pedagogis sebagaimana umumnya, melainkan pendidikan dalam makna, yang dalam bahasa Inggris menyebutnya sebagai ‘upbringing’ (pengasuhan) – membesarkan anak. Beberapa dari yang saya kemukakan mungkin terdengar aneh dan mungkin terdengar baru, akan tetapi harus diingat bahwa kaum Sufi tidaklah bersifat esoteris, mereka bukan orang-orang yang beranjak dari teks-teks lalu menafsirkannya guna mengubah orang menjadi senang. Yang demikian itu bukanlah tasawuf. Abu Madyan, seorang Sufi besar dari Maroko berkata, “Tasawuf tidak lain ialah belajar.” Shaykh Muhammad ibn al-Habib, radiyallahu ‘anhu, berkata, “Sejauh yang kami ketahui, para Shuyukh adalah dokter-dokter, para Salihun – orang-orang dengan sifat-sifat mulia – adalah perawat-perawat, dan dunia ini adalah rumah sakit.”

Ketika pengajaran ini dihidupkan, ia tidak berkaitan dengan personalitas, hak-hak, ritual-ritual, Shaykh-Shaykh, Thariqah-Thariqah, inisiasi-inisiasi, memberikan tangan dan segala sampah-sampah ini – ini tidak menarik. Yang menarik ialah membangkitkan orang-orang, karena demikianlah fenomena Islam seharusnya, dan inilah yang perlu diketengahkan dalam perbincangan modern. Manusia telah diturun-derajatkan. Ia kini telah menjadi ‘sub’. Kita telah dibuat menjadi sub-manusia. Maka kita mesti mengambil gambaran Nietzschean tentang mencapai Übermensch menjadi sebuah tugas dalam berislam, menjadi dakwah Islam. Dakwah Islam ialah menyeru kepada orang-orang untuk menjadi lebih dari diri mereka sebelumnya. Sebagaimana yang telah Nietzsche tunjukkan, anda tidak bisa tiba-tiba menjadi Overman (bahasa Inggris dari Übermensch, penj.), anda harus membangun jembatan untuk menuju Overman dengan mengatakan, “Tidak cukup hanya menjadi diri kita apa adanya, sebab kita telah diturun-derajatkan, maka kita harus bertransformasi diri dengan kesadaran penuh”.

Kita tidak dapat mengubah massa, sebab massa sedang menderita segala macam penyakit, akan tetapi mereka-mereka yang punya kesadaran, yang mesti mendidik ulang (re-educate) diri mereka, dan dari kaum elit yang telah terdidik ulang ini mereka akan menghasilkan orang-orang heroik yang pada kelanjutannya akan mampu mengembalikan segala sesuatu sesempurna keadaan awalnya – manusia-manusia dengan fitrahnya – yang telah hilang. Pertanyaannya adalah apakah anda menginginkan hal ini dipulihkan atau tidak?

 Jika dengan sadar anda menginginkan dipulihkan, maka disinilah tantangan dalam ber-thariqah, di mana anda keluar dari menjadi reseptor pasif atas ‘negara teknikal’ dunia yang telah mendiktekan segala sesuatu kepada anda dan menggantikan kesadaran, partisipasi aktif dalam proses kehidupan yang terus berjalan, pasif, terancang (built-in), hidup dalam rasa was-was akan bunga utang yang kian membesar hingga mustahil terbayarkan, yang anda miliki dengan orang-orang yang samasekali tidak pernah anda lihat karena anda bukan berutang dengan Mister Smith ataupun Mister Jones, melainkan dengan sebuah kuil yang bahkan pendetanya pun belum pernah anda temui, dan dengan menggunakan utang itu, ia akan menghancurkan hidup anda, atau menangguhkannya hingga anda mati, sementara meninggalkan urusan penguburan anda menjadi utang tambahan dengan sanak family yang tidak bernasib baik, yakni putra-putri anda, sehingga bibi dan paman anda yang harus menguburkan anda, atau jika mereka beruntung, harus mengkremasi dan menyelesaikan anda dengan cepat. Demikianlah situasinya.

Thariqah diperuntukkan kepada orang-orang yang menginginkan transformasi pribadi dalam rangka menciptakan masyarakat baru. Oleh karenanya, ini berarti sekumpulan elit yang harus terdidik secara spiritual. Inilah Thariqah itu, dan sudah selalu seperti ini, dan ia memiliki disiplin yang berbeda-beda pada tiap-tiap zaman, sebab setiap zaman memiliki penyakitnya masing-masing. Imam Ghazali sang Sufi besar itu berkata, “Jika anda pergi ke suatu negeri yang penuh dengan mabuk-mabukan, berpegangteguhlah pada Syari’at yang mengharamkan minum-minuman keras. Jika anda pergi ke suatu negeri yang penuh dengan birahi dan kegemaran seksual, berpegangteguhlah pada hukum yang menentang perzinaan dan sodomi,” agar orang-orang di sana dapat dibangkitkan. Kini, kita sedang berada di negeri riba dan kita harus berpegangteguh pada hukum-hukum yang, tidak saja mengharamkannya, tetapi juga menunjukkan bahwa anda wajib memeranginya, karena jika tidak, anda tak bisa mengubah sistem.

Inilah arena inti dari apa yang sedang saya bicarakan hari ini. Ia memiliki beberapa elemen yang kesemuanya benar-benar merupakan yang kita perhitungkan, namun jumlahnya tetap sama, hingga akhirnya tiba. Orang-orang tidak lagi mampu berpikir, dan tentu saja, ini bukan pernyataan saya, yang menyatakan demikian ialah filsuf terbesar setelah Nietzsche, seorang filsuf yang karenanya tergolong generasi dari bayi-bayi masyarakat kongregasional ini. Heidegger berkata bahwa para filsuf tidak menulis untuk masa sekarang, mereka menulis untuk masa depan, yang merupakan gema dari pernyataan Nietzsche.

Tatkala saya berkata orang-orang tidak bisa berpikir: kemarin saya kira seseorang sedang berpikir sejalan dengan pemikiran saya, akan tetapi saya melihat bahwa pada kenyataannya, disebabkan oleh (aspek) eksistensialnya, eksistensi sehari-harinya, ia telah membawa pertukaran (pikiran) kami menuju semacam zona yang jernih dan objektif yang dapat ia operasikan. Sebetulnya, untuk menggunakan istilah seperti neurosis dan psikosis, masih sangat tidak memadai, sebab penyakit-penyakit itu saling melebur jadi satu dengan kecepatan yang mencengangkan! Anda pikir anda sedang mengemukakan pernyataan rasional kepada seseorang yang karenanya akan menerima pernyataan rasional tersebut dan berkata baik ‘ya’ maupun ‘tidak’ dalam menanggapinya, akan tetapi anda menyadari bahwa pernyataan tersebut samasekali tidak mengena (has not got through), sebab mereka telah memiliki lanskap batiniah (yang memberi arti) tentang hal-hal tersebut, yang tidak dapat anda tembus.

Ini membawa kembali pada pertemuan Ibn al-‘Arabi, sang Shaykh ul-Akbar, Khatubi termasyhur, yang terbesar di antara para Sufi, ketika dirinya masih belia, dengan Averroes – Ibn Rusyd, filsuf terbesar abad pertengahan yang telah membawa seluruh perangkat-perangkat berpikir yang kelak akan dipergunakan dalam fisafat Jerman, dan karenanya juga sistem teknikal (system of technique), yang menguasai kehidupan kita semua.

Ibn al-‘Arabi dibawa oleh ayahnya menyambangi Ibn Rusyd yang termasyhur itu, yang pada kala itu sudah menjadi lelaki tua renta yang sedang mengajar dalam kelasnya. Shaykh al-Akbar kecil, Ibn al-‘Arabi, duduk di sudut kelas itu dan mendengarkan semua yang Ibn Rusyd katakan di sana. Pada akhir kelas bocah itu berkata, “Ya! Ya! Ya!”, Ibn Rusyd pun berkata “Betapa cerdasnya anak ini!” lalu ia berkata kepada ayahnya, “Anda memiliki putra yang sangat cerdas, ia akan melangkah sangat jauh. Besok ia dapat kembali kemari.” Maka pada esok harinya, Ibn Rusyd mengajarkan filsafat Aristotelian di kelasnya, Ibn al-‘Arabi duduk di sana dan menyimaknya, lalu ia berkata “Tidak! Tidak! Tidak!” Tentu saja sang filsuf samasekali tidak menyukai hal ini, dan ketika kelas telah usai ia berkata kepada ayahnya, “Tahukah anda, anda memiliki anak yang sangat menyulitkan di sini, dapat saya lihat bahwa anda akan memiliki masalah dengan dirinya.” Kemudian ia menatapnya dan berkata, “Mengapa kamu berkata ‘Tidak’ kepadaku?” Ibn al-‘Arabi menatapnya sang guru besar tersebut dan berkata, “Itu karena tiba-tiba saja saya melihat bahwa di antara ‘Ya’ dan ‘Tidak’ banyak sekali tenggorokan yang digorok dan kepala yang jatuh dari bahu.”

Kesadaran (consciousness) seperti inilah yang diperlukan. Izinkan saya menerjemahkannya dalam bahasa modern: apa yang tengah dikatakan Ibn al-‘Arabi kecil ialah bahwa jika kita menciptakan masyarakat berdasarkan struktur rasional (filsafat), hal ini akan menimbulkan jutaan kematian, yang mana merupakan hal yang terjadi pada abad ke-20, baik oleh fasisme maupun komunisme: “Kami akan menstruktur suatu negara yang baik untuk rakyat” – dua model yang nyaris identik dengan menghasilkan kematian berjuta-juta orang serta pemusnahan seluruh budaya. 

Akan tetapi pernyataan ini juga bukan berarti membiarkan orang untuk ditinggalkan di dalam anarki kekacauan. Melainkan memberikan (penjelasan) tentang posisi yang dimengerti oleh Ibn al-‘Arabi tentang eksistensi. Inilah jalan Sufi, untuk memahami bagaimanakah hal ini bekerja.

Apa yang sedang kita bicarakan bukanlah ide-ide dalam makna konsep, ini bukan sesuatu yang bersifat ideologi – ini persoalan tentang bagaimana anda mengerjakan sesuatu. Ini seperti memasak – berdiskusi tentang suatu hidangan sebelum anda hendak membuatnya, sebab anda dapat membuatnya dengan cara ala Italia atau dengan cara ala Prancis. Apakah anda ingin menggunakan mentega atau minyak? Pada akhirnya, bagaimanakah agar kita berhasil menyajikan hidangan yang nikmat dan sedap dipandang? Inilah jenis pemikiran yang sejatinya dibutuhkan, namun bukan jenis pemikiran yang diaplikasikan dalam urusan pendidikan umum ataupun pendidikan mandiri, yang sedikit-banyaknya telah terabaikan.

Kita tidak bisa mencampurkan apa yang sedang kita lakukan di sini dengan sejenis sesuatu yang dekaden, tak berizin (unlicensed), esoteris, tak bisa diterima, apapun itu, yang menyebut dirinya sendiri sebagai Tasawuf (Sufism) – selalu ada orang-orang seperti ini di dunia ini. Mereka harus memahami bahwa ini merupakan proses yang tidak mengizinkan anda untuk dengan mudahnya mengembangkan batiniah diri anda lalu terus menjadi manusia yang membesarkan anak anda dengan cara yang mereka lakukan di luar sana: inilah yang telah membuat Zurich menjadi mimpi buruk alih-alih kota yang indah mempesona, membuat New York menjadi neraka, dan terlebih lagi Berlin – kota-kota mengerikan dan memilukan yang benar-benar telah hancur.

Saya sedang menawarkan pandangan tentang transformasi diri anda pribadi yang melibatkan pengambilan tanggung jawab atas transformasi anak-anak anda. Atau, jika menggunakan ekspresi Goethean, yakni mengizinkan anak anda untuk tampil (emerge), bukan untuk melakukan apa yang negara-negara fasis maupun komunis terapkan kepada anak-anak warga negara mereka.

(Bersambung)

*Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar dari Skotlandia. Kini menetap di Cape Town, Afrika Selatan di usia 90 tahun. Artikel ini merupakan ceramahnya ketika berdakwa di Klontal, Swiss, tanggal 14 April 1990 lalu.

Artikel sebelumnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *