Oleh: Irawan Santoso Shiddiq

“Masa abad 16, ada dua bentuk utama dari doktrin politik. Teori ‘republik’-nya Jean Bodin dan Vindiciae Contra Tyranoss-nya Duplesis Mornay merupakan contoh terbaik.”

Dr. IAN DALLAS, The Entire City—

Di jaman kini, jamak kaum berteriak ‘demokrasi.’ Tapi luput tentang muasal datangnya ‘demokrasi.’ Karena kata itu bukan kosakata kaum Jawa, Batak, Sunda, Manado, Palembang, apalagi Papua. Ini kosakata dari Eropa. Ketika masa rennaisance datang. Ketika filsafat merebak di Eropa. Kala Tauhid tengah disusun ulang di belantara barat. Di sanalah ‘demokrasi’ dirumuskan. Tapi mereka menyimpang dari ‘demokrasi’ itu sendiri. Karena ‘demokrasi’ diamalkan masa Romawi. Ketika masa Caesar, Cicero berjaya. Masa sebelum hadirnya okhlokrasi di Romawi. Dari sana, layaklah kita berkata, ‘Ini bukan lagi demokrasi, melainkan okhlokrasi.’

Jamahlah Polybios. Dia sejarawan Romawi. Terkenal dengan teori ‘siklus Polybios.’ Sang Romawi itu menuliskan sebuah kitan, “Historie.” Kitab ini setara keagungannya dengan ‘Mukadimmah’ Ibnu Khaldun. Dari sana kita bisa merujuk. Polybios menegaskan, ‘tiap-tiap sebab yang sama akan melahirkan akibat yang sama.’ Dia menyebutnya, ‘causaliteit principe.’ Dari situ Polybios merumuskan  sistem kekuasaan pasti berputar arah. Mulai dari monarkhi, tirani, aristokrasi, oligarkhi, demokrasi, okhlokrasi dan kembali ke monarkhi. Nah, dari sanalah terbersit kata ‘demokrasi.’ Maka kita akan mahfum, bagaimana kondisi kita kini.

Ian Dallas, ulama kesohor dari Eropa kini, memberi jawaban. “Ini bukan lagi fase demokrasi, dan tak ada suatu negara (state) pun di seluruh dunia yang layak di sebut republik,” katanya dalam kitabnya tersohor, “The Entire City.”

Dari Polybios, Khaldun dan Dallas, kita bisa mendapatkan petunjuk. Tentang situasi jaman sekarang. Tentang posisi berdiri kekuasaan kini. Apatah masih layak berteriak, “Hidup demokrasi!” 

Manusia abad pertengahan di Eropa dulu, mereka yang mendambakan demokrasi. Ketika jaman dilanda ‘The king can do no wrong.’ Tak ada suatu kata yang layak menentang titah raja. Masa itu, Islam tengah berjaya. Daulah Utsmaniyya menyala-nyala sebagai mercusuar dunia. Islam tak ada perdebatan perihal ‘state’ atau negara. Islam tak mengenal ‘konstitusi’ apalagi disamakan dengan Piagam Madinah.

Kembali ke Eropa masa lalu. Ketika berlaku adagium ‘Vox Rei Vox Dei.’ Suara Raja suara Tuhan. Itu jaman ketika kaum eropa belum mengenal kopi arabica. Belum paham tentang bumi mengelilingi matahari. Karena mereka masih terdoktrin, bumi sebagai pusat tatasurya. Eropa terperangah ketika Copernicus mendobraknya. Tapi Gereja Roma tak terima. Karena filsafat ditentang habis. Masa itu, filsafat telah lewat dalam belantara Islam. Selepas masa mu’tazilah. masa yang disebut kemajuan Islam, padahal bukan. Karena masa Islam menbgenal filsafat, disitulah keruntuhan Islam.

Filsafat kemudian dibuang kaum muslimin. Dipungut Eropa. Mereka keranjingan. Mereka memerlukan filsafat, untuk melawan dogma Gereja Roma. Aquinas membawanya dari Cordoba. Machiavelli memungutnya dari Khaldun. “Filsafat yang semula digunakan untuk memikirkan urusan kosmosentris, mulai merambah kepada tentang bagaimana urusan umat manusia harus diatur. Disitulah teori ‘state’ menjadi ajang berpikir yang mengasyikkan,” tulis Ian Dallas lagi.

Dari sana kita tahu rutenya. Tentang bagaimana Eropa mengenal kosakata ‘demokrasi’, dulu kala. Karena mereka berupaya mencarinya dari Romawi. Tapi melewati jalur filsafat, yang diseberangkan kaum mu’tazilah. alhasil, Socrates, Plato dan Aristoteles pun di –Kristen-kan. Setelah masa mu’tazilah, mereka di-Islam-kan. Disinilah petaka itu mulai bermunculan.

Teori kosmosentris awal digunakan melawan dogma Gereja. Kemudian merambah pada tentang mendefenisikan teori kekuasaan. “Raja dianggap tak layak lagi sebagai wakil Tuhan.” Ini tentang pertarungan jabbariyya dan qadariyya. Sebelumnya Eropa seolah terkena doktrin ‘jabbariyya.’ Tentang qada dan qadar yang tak boleh menentang doktrin Gereja Roma. Inilah sebab Copernicus kemudian dihukum. Tapi Galileo kemudian melanjutkan.

Tapi sayang, dari jabbariyya, mereka malah beralih pada qadariyya. Segala sesuatunya harus melewati akal lebih dulu. Barulah bisa dipercaya. Maka lahirlah ‘cogito ergo sum’ ala Cartesius. Dari sinilah petaka makin bencana.

Sebelumnya, teori kekuasaan mulai dikunyah-kunyah. Filsafat rujukannya. Descartes mengatakan, “filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan dimana alam, Tuhan dan manusia menjadi objek penyelidikan.” Manusia yang menyelidiki. Manusia dengan nalar, rasionya menjadi raja. Menjadi objek yang mengamati. Bukan lagi objek yang diamati. Al Farabi, tokoh mu’tazilah terkenal sebelumnya telah memberi hal serupa. Katanya, filsafat itu tentang pengetahuan akan alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. Dia memperkenalkan tentang teori emanasi, kebenaran ganda. Kebenaran ala Wahyu dan kebenaran ala filosof. Filosof disetarakan dengan Nabi. Karena Nabi mendapatkan kebenaran dengan bimbingan Wahyu. Sementara filosof mendapat Kebenaran dengan akalnya. Inilah yang ditentang kaum ahlusunnah waljamaah. Imam asy’ari membentengi. Imam Ghazali menyerang bagaimana kelemahan filosof. Dan Shaykh Abdalqadir al Jilani membawa kembali muslimin pada tassawuf. Filsafat pun selesai dalam Islam. Tapi kemudian dipungut Eropa melancarkan rennaisance.

Maka, perihal kekuasaan pun diteorikan ulang. Raja sebagai wakil Tuhan, mulai digoyang. Machiavelli memunculkan awal dari Florence, Italia. Kitabnya, ‘Il Principe’ menggoyang belantara Eropa. Kekuasaan, katanya, harusnya bersifat stabil. Kata ‘stabil’ ini diambil dari bahasa latin: ‘statum.’ Itulah kemudian berubah menjadi ‘lo stato.’ Dalam english disebut ‘state’. Belanda menyebutnya ‘staat’. Perancis mengatakannya, ‘L’etat’. Dan entah siapa yang menterjemahkannya menjadi ‘negara.’ Inilah muasalnya.

Teori Machiavelli makin diminati. Kemudian diambil lagi oleh Thomas Hobbes. Leviathan menjadi mengeropa. Tentang hasrat kekuasaan yang bisa membasmi, tanpa batasan. Makanya diperlukan batasan. Disitulah teori-teori mulai bermunculan. Raja sebagai ‘wakil Tuhan’ makin digerogori. Tapi dalam konsep dan teori. Filsafat melahirkan filsafat politik. Urusan hukum, melahirkan filsafat hukum. Dan lainnya.

Dari Hobbes itulah kemudian meluncur Jean Bodin. Dengan teori ‘soverignity’nya. Bodin mengatakan suatu state memerlukan ‘kedaulatan’ (soverignity) sebagai batasan kekuasaan. Ini yang mengilhami tentang batas-batas ‘state.’ Republik-nya Bodin berbeda dengan kitab Republik-nya Cicero. Tapi Bodin jamak mengambil dari Plato. Yang juga merumuskan tentang Republik. Plato, dan filosof menganggap, sebuah negeri akan layak dipimpin oleh seorang filosof. Inilah rujukan kaum materialistis. kaum mu’tazilah juga menganutnya, Al Farabi merumuskan tentang ‘Al Madinatul Fadhilah’, negeri Islam yang harus dipimpin seorang filosof. Itu yang dianggap tatanan ideal. Sejak itulah filosof rennaisance merumuskan tentang ‘politik.’ Teori kekuasaan. Dan Ian Dallas mengatakan, ‘Politik itu menghancurkan taqwa.” Karena memang politik hanya berlandaskan pada logika. Filsafat. Pada nalar. Dan nampaklah kini memang, 500 tahun kemudian, nalar berubah menjadi nafsu. Politik kini berlandaskan pada nafsu, bukan lagi nalar atau rasio.

Dari The Entire City, Dallas memberi sebuah cahaya. Beliau memberikan Duplesis Mornay, sosok yang menentang aliran ‘politik’ tadi. Mornay memberikan artikel panjang, Vindiciae Contra Tyranoss. Perlawanan pada tirani kekuasaan. Ini ditujukan kaum raja yang telah bertindak tiran, memang. Kaum filosof, melancarkan perlawanannya dengan metode filsafat. Sementara Mornay memberikan jalan lain. Dia tetap berupaya membawa Eropa pada jalur Tauhid. Kembali pada ajaran fitrah. Dari Mornay itulah dikenal aliran ‘monarchomach’, yang melakukan perlawanan pada tirani raja. Tapi bukan dengan filsafat.

Tapi Mornay seolah kesepian. Karena Eropa lebih menyukai filsafat. Hanya, abad 21 kemudian, muncullah sosok yang menghidupkan lagi Mornay. Dialah Harold Laski, lawyer Inggris, yang juga ketua Partai Buruh. Laski bukan komunis. Dallas memberikan kisah Laski dalam The Entire City itu. Laski merumuskan lagi tentang ‘Vindiciae Contra Tyranoss.’ Artikel Laski memberikan pesan, ‘perlunya re-evalusia terhadap konsep ‘state’.” Inilah point penting untuk generasi kini.

Karena teori dan rumusan itu muncul di abad pertengahan. Ketika kekuasaan berlangsung tiran. Tapi jalan keluar dari tirani, bukan memunculkan tirani lainnya. ‘Lo stato’ kini berubah menjadi ‘jabarriyya’, suatu yang tak boleh dibantah. Suatu pemahaman pemaksaan tentang segala doktrin dan teori. Ini melebihi dari jabariyya.

The Entire City-nya Ian Dallas memberikan rujukan lengkap. Dari sana kita akan mahfum kini jelas bukan lagi demokrasi. Merujuk dari teori Polybios tadi, tentu kini masuk di era okhlokrasi. Masa ketika kekuasaan dikendalikan kaum perusak. Siapa mereka? Itulah kaum bankir yang menguasai para head of state seantero dunia. Bankir yang mengendalikan dunia. Segelintir kaum pengendali kekayaan dunia. Dari sana, demokrasi telah lewat. Berteriak di jalanan, ‘Hidup demokrasi,” seolah hanya kesia-siaan. Karena ini sudah masuk fase okhlokrasi. Yang perlu dituju dan disiapkan, tentu fase selanjutnya: monarkhi.

Kapan monarkhi itu? Romulus menunjukkannya kala mendirikan Romawi dari tepi sungai Tiberias, Roma. Dia menentang takhyul masa itu, kepercayaan pada dewa api. Romulus percaya pada Tauhid. Dan Romawi pun kembali pada Tauhid. Islam pun telah menunjukkannya. Fase khilafah minhaj an nubuwwah itulah yang akan pasti datang. Ketika kekuasaan ditangan personal rule, bukan system rule. Ini rute yang dituju dan harus disiapkan.

Karena John Locke sendiri menegaskan, kekuasaan itu haruslah duel contract. Ketika rakyat dan Tuhan sama-sama menginginkannya. Jadi, kekuasaan yang fitrah, merujuk lagi pada Al Quran dan Sunnah. Hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. The Entire City memberikan kata kunci untuk menjalankan itu semua.

Ini kitab melebihi ‘Republik’-n ya Plato. Melampaui ‘Politeia’nya Aristoteles. Melewati ‘Al Madhinatul Fadhilah-nya Al Farabi. Dan menjawab seluruh keraguan dalam ‘Il Principe’nya Machiavelli. Itulah The Entire City.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *