oleh: Shaykh Abdalhaq Bewley*

Seperti yang anda-anda sekalian ketahui, sekelompok dari kami diundang awal tahun ini ke pertemuan Thariqah Sufi di Marrakesh yang diselenggarakan oleh Kementerian Wakaf Maroko. Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa acara ini diselenggarakan dengan sangat baik dan keramah-tamahan tuan rumah kami sempurna dari awal hingga akhir. Namun, saya menggunakan pengalaman kami di sana sebagai contoh ilustrasi dari fenomena dunia di mana Tasawwuf – terkadang secara sadar, seringkali tidak disadari – telah diperalat untuk melayani tujuan-tujuan agenda politik yang tidak ada hubungannya dengan Islam, yang pada akhirnya menampilkannya sebagai sesuatu yang sangat berbeda dari bagaimanakah kenyataannya sepanjang sejarah Islam.

Saya akan mengawali ini dengan mengutip sebuah daftar yang dapat diringkas sebagai tujuan-tujuan yang dinyatakan perkumpulan ini, langsung dari situs resmi Sidi Chiker Gathering – nama yang diberikan untuk pertemuan yang kami hadiri.

Ide yang menopang adanya Sidi Chiker Gathering bertumpu pada keyakinan bahwa Jalan Sufi, yang bersumber dari Alquran dan Tradisi Nabi, telah memberikan kontribusi di mana-mana di seluruh dunia Muslim untuk membangun masyarakat Islam dan peradabannya dalam berbagai cara. :

  • Mendakwahkan Islam dengan cara yang penuh kedamaian dan keteladanan.
  • Elaborasi metode untuk menjamin kelas profesional di kalangan umat Muslim.
  • Elaborasi jalan moral untuk menyempurnakan individu pada tingkat agama dan sosial.
  • Menyebarluaskan cinta Tuhan oleh para ‘Pejalan Setapak’ (ahlul-Thariqah, –penerj.)
  • Menitikberatkan dimensi interior Islam dan membantu individu dalam meraih kebajikan yang mulia.
  • Mempromosikan kerjasama dan solidaritas.
  • Membangun warisan intelektual dan sastra dengan tujuan mempromosikan semangat menundukkan nafsu dan mencintai kebenaran, kebenaran yang ilmunya memberi manusia aspirasi untuk tetap setia pada amanah suci tauhid yang diembannya sesuai dengan misi mulia dimana merupakan tugas dari Tuhan.

Sekarang saya ingin membandingkan agenda itu dengan contoh-contoh sejarah yang relatif baru, yang terjadi pada abad ke-19 dan ke-20, dari lima tarekat berbeda di seluruh dunia Muslim. Mari kita ambil contoh Thariqah Naqsabandi di daerah Kaukasus. Pada awal abad ke-19, Tsar Rusia berekspansi hingga mencapai Kaukasus yang saat itu masih merupakan wilayah Daulah Utsmani. Tugas membela Islam dari dominasi Rusia jatuh ke tangan Thariqah Naqsabandi di bawah kepemimpinan Imam Shamil. Adapun pertempuran pertama melawan Rusia terjadi pada tahun 1832 di bawah kepemimpinan Shaykh Mansur selaku pemimpin Thariqah kala itu. Ia dibunuh dan murid-muridnya benar-benar dikalahkan. Hanya dua orang yang berhasil lolos dari pembantaian itu, salah satunya adalah Imam Shamil yang terluka parah, seorang ‘alim berpendidikan tinggi dan dihormati karena kedalaman ilmunya di seantero Kaukasus. Ia pun pulih dari luka-lukanya dan melanjutkan penegakan kembali syari’at di seluruh Daghestan dan Chechnya.

Selama hampir 30 tahun berikutnya hingga 1859 ia berjuang mati-matian menghadapi kesulitan yang luar biasa dan tragedi-tragedi pribadi demi menjaga integritas Dinul Islam di Kaukasus. Akhirnya, ia dipaksa untuk menyerah, tetapi, atas izin Allah, ia diperlakukan dengan sangat terhormat oleh orang-orang Russia yang menangkapnya dan diterima oleh Tsar sendiri. Ia diasingkan ke sebuah rumah besar di Kiev, di mana ia menetap di sana selama hampir 10 tahun. Akhirnya, ia diizinkan untuk pergi Haji dan disambut dengan sangat hormat oleh Sultan Utsmani, yang menjadikannya sebagai tamu di Topkapi dalam perjalanannya. ‘Segel’ itu dipasang untuk menutup kehidupannya yang mulia; setelah menyelesaikan haji terakhirnya, dengan kematiannya di Madinah dan penguburannya di samping para sahabat Rasulullah, Shalla’llahu ‘alayhi wa sallam, di pemakaman al-Baqi.

Contoh kedua saya adalah Tarekat Qadiriyya di belahan dunia Muslim lainnya, yakni Aljazair. Yang cukup aneh, mereka berhubungan langsung dengan Imam Shamil. Imam Shamil pergi haji untuk pertama kalinya saat masih muda pada tahun 1825. Saat berada di sana, ia bertemu dengan ‘alim muda yang sangat terpelajar asal kota Mascara, Aljazair barat, yang bernama Abdalqadir al-Hasani.

Mereka tampaknya menghabiskan banyak waktu bersama dan berbicara panjang lebar tentang berbagai topik, termasuk tentang bagaimana mempertahankan Dinul Islam dalam menghadapi ancaman serius dari kekuatan kolonial yang melampaui batas. Tidak lama setelah Abdalqadir kembali ke tanah kelahirannya, Prancis menyerbu Aljazair. Ia kemudian menjadi Shaykh Thariqah Qadiriyah dan selama tujuh belas tahun berikutnya, dengan gelar Amir Abdalqadir al-Jaza-iri, berjuang tanpa lelah melawan dominasi Prancis atas tanah kelahirannya serta penerapan sistem hukum yang bertentangan dengan hukum Allah yang mereka bawa. Sifat tidak manusiawi dari kebrutalan Prancis terhadap bangsanya akhirnya memaksa Amir Abdalqadir untuk menyerah, dan melanggar janji yang telah mereka buat yang, alih-alih mengizinkannya pergi ke negeri Muslim, justru mengasingkannya ke Prancis. Seperti dalam kasus Imam Shamil, bagaimanapun, mereka memperlakukannya dengan hormat, mengurungnya di Istana Amboise di Lembah Loire. Kemurnian niyyat (niat)-nya dikonfirmasi oleh fakta bahwa ia segera diizinkan pergi ke Damaskus di mana ia menghabiskan sisa hidupnya, akhirnya dimakamkan di kaki gurunya yang diakui, Shaykh al-Akbar Ibn ul-‘Arabi al-Hatimi.

Ada catatan tambahan atas cerita ini yang menunjukkan bahwa tugasnya para Awliya melampaui kematian mereka, yang juga memiliki relevansi langsung dengan pertemuan kita di sini hari ini. Pada suatu ketika di hari-hari awalnya ber-Islam, Ra’is kami yang terhormat, Abu Bakar Rieger, sudah sangat tidak tahan dengan situasi kami saat itu di Freiburg dan, dalam rangka membebaskan diri (breaking loose), ia pun memutuskan untuk ‘melesat’ dengan Fatihah untuk menjauh dari komunitas (yakni Murabitun World Movement, –penerj.) dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Mereka tiba di Sungai Loire dan memutuskan untuk mengunjungi Chateau of Amboise, tapi megetahui apapu apa tentang sejarah wilayah itu. Mereka sebagai rombongan tur yang sedang mengelilingi kastil, dan bayangkanlah keterkejutan Ra’is Abu Bakar ketika tiba-tiba, entah dari mana, ia mendengar pemandu wisata berkata, “Ini adalah apartemen tempat tinggal Shayh Abdalqadir ketika ia berada di Prancis.” Ia pun kemudian mengatakan kepada saya bahwa saat itulah ia menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dan bahwa takdirnya telah tersegel!

Contoh ketiga yang saya ungkapkan adalah dari kisah dari Thariqah Mahdiyyah di Sudan. Menjelang akhir abad ke-19, Muhammad Ahmad, yang dikenal sebagai Mahdi, memukul mundur pasukan Inggris dan pengaruhnya hingga keluar dari Sudan dan menegakkan aturan syariah di seluruh negerinya. Pada tahun 1885 ia mengambilalih Khartoum dan menjadikannya ibukotanya. Meskipun ia meninggal karena sebab alamiah segera setelah ini, pemerintahan Islam yang ia dirikan tetap berlaku selama lebih dari satu dekade sampai 1898, komunitasnya akhirnya dikalahkan oleh Jenderal Kitchener pada Pertempuran Omdurman.

Contoh keempat adalah Thariqah Sanusiyyah. Di bawah pendirinya dan penerusnya, Thariqah ini membentuk wilayah pemerintahan Islam yang luas namun terpadu dari Libya hingga ke seberang Sahara, yakni Afrika Barat, dan dengan gagah berani mempertahankannya dengan sukses besar sepanjang paruh pertama abad ke-20 melawan Prancis dan Italia.

Contoh terakhir saya adalah apa yang terjadi dengan Thariqah kita sendiri pada akhir dekade pertama abad ke-20. Jelas bahwa pada saat itu tidak ada yang akan menghentikan Prancis mengubah Maroko menjadi apa yang disebut sebagai ‘(wilayah) Protektorat Prancis’. Sebuah pertemuan para Awliya  diadakan dengan menghasilkan keputuskan bahwa Thariqah kita akan mengambil pendekatan dua arah untuk situasi tersebut. Para Fuqara wilayah Atlas Tengah di bawah Awlad Sidi Tayyibi akan mengangkat senjata dan melawan Prancis, sedangkan Sidi Muhammad ibn al-Habib akan tetap berada di Gharb dan melindungi Dinul Islam, menjaganya tetap hidup di kota-kota besar di dataran. Para Fuqara pegunungan yang berjuang selama empat belas tahun dibombardir hingga akhirnya menyerah pada tahun 1926. Kami sendiri biasa pergi dan tinggal bersama Sidi Salih yang merupakan Shaykh dari cabang tarekat kami di tahun 70-an dan 80-an dan yang pernah bertempur dan terluka dalam konflik itu.

Dan seperti yang kita tahu, kita berutang atas semua yang kita miliki dari perjuangan Shaykh Muhammad ibn al-Habib yang tak kenal lelah, yang tetap teguh dengan tugasnya dan mempertahankan Dinul Islam dalam menghadapi pendudukan Prancis selama enam puluh tahun di seluruh Maroko dan Aljazair hingga akhirnya ia dapat memindahtangankannya secara utuh kepada Shaykh kita (Shaykh Abdalqadir as sufi-red) yang telah setia mengemban tugas yang dipercayakan kepadanya ini dan telah menghabiskan hidupnya untuk melindunginya hingga meneruskannya kepada kita. Semoga Allah memberi pahala dan memberi kita keberhasilan dalam menerima dan menyebarkannya pada giliran kita.

Saya berharap apa yang akan menjadi jelas melalui lima contoh ini – dan sejumlah contoh lainnya yang juga dapat diperoleh dari setiap zaman Islam – adalah tugas utama orang-orang Tasawwuf di setiap zaman, yakni mengambil setiap langkah yang diperlukan, sebesar apapun harganya, untuk memastikan integritas Islam yang kaffah (complete integrity of Islam) serta mengimplementasikan DIN Allah sebesar mungkin, secara batiniah dan yang paling penting lahiriah, dalam waktu dan tempat di mana mereka berada. Saya harap juga menjadi jelaslah bahwa daftar tujuan Sidi Chiker Gathering yang saya baca di awal presentasi ini sama sekali tidak mencerminkan kenyataan ini.

Semenjak permulaan tahun 1980-an, menjadi jelas bagi mereka-mereka yang menguasai urusan-urusan dunia bahwa pendekatan yang sudah pernah diterapkan kepada Islam dan Kaum Muslimin sampai saat itu tidak lagi dapat dijalankan. Di era pra-kolonial, pendekatan mereka terhadap Islam adalah permusuhan dan penolakan langsung. Urgensi praktis kolonialisme mengubahnya menjadi asumsi arogan tentang superioritas dan upaya subversi secara terbuka. Periode pasca kolonial, yang untuk pertama kalinya nampak kemunculan sejumlah besar Muslim di jantung-jantung kekuasaan kolonial, menyebabkan perubahan lain. Pendekatan pertama, yang diadopsi dan diyakini sebagai  upaya kolonial yang efektif untuk menumbangkan Islam, adalah dengan hanya berpura-pura bahwa Islam itu tidak ada. Namun, pernah menjadi bukti bahwa Islam tidak akan pergi dan, bukan malah layu dari pokok anggurnya, pertumbuhan baru Islam menjalar ke segala arah, (maka) pendekatan baru jelas dibutuhkan.

Kepercayaan diri yang berkembang dari populasi Muslim di seluruh dunia dibantu oleh menangnya revolusi Iran dan berhasilnya Mujahidun di Afghanistan membuat strategi baru untuk menangani Islam menjadi keharusan yang mendesak, sehingga yang diadopsi adalah dialektika ‘Muslim Baik dan Muslim Buruk’. Sangat mungkin untuk benar-benar melihat strategi ini diterapkan selangkah demi selangkah selama beberapa tahun selama awal 1980-an.

‘Muslim Baik’ tentu yang tunduk pada otoritas negara yang mapan, memainkan peran mereka dengan bekerja keras dan efektif dalam masyarakat tempat mereka tinggal, membayar pajak, dan menyediakan elemen moral yang sangat dibutuhkan dalam tatanan dunia baru. Sebagai imbalannya, mereka diizinkan untuk beribadah di masjid mereka dan menghadiri pertemuan zikir, selama tidak mengganggu hak-hak orang lain untuk berperilaku seperti apa pun yang mereka kehendaki. Mereka harus menerima status quo, menjadi warga negara yang baik, toleran tanpa henti terhadap gaya hidup orang lain seperti apapun dan dengan apapun yang mereka yakini, menarik garis global atas semua itu dan tidak melontarkan ketidaksetujuan. Maka jenis Muslim lainnya secara de facto adalah ‘Muslim Buruk’, fundamentalis, fanatik, mungkin teroris, seseorang yang ingin menindas wanita, merajam orang sampai mati dan memenggal tangan dan kepala mereka bila memungkinkan.

Intinya, di bawah istilah dialektika ini hanya ada dua alternatif; jika Anda bukan salah satu, Anda adalah yang lainnya. Keduanya, tentu saja, dalam ketentuan Islam, sama sekali tidak dapat diterima, akan tetapi fakta menyedihkan dari masalah ini adalah bahwa kita, kaum Muslimin, pada umumnya telah menerima definisi kita ini. Minoritas kecil yang terdiri dari teroris dan pelaku bom bunuh diri yang sebenarnya, yang metodenya tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam dan hampir semuanya berutang pada teori politik nihilistik anarkisme Eropa abad ke-19, tentu saja telah memainkan peran mereka. Yang hampir lebih buruk dari ini, bagaimanapun, adalah kesediaan sebagian besar Muslim untuk menerima alternatif lain yang berasal dari dialektika palsu ini dan membiarkan diri mereka dibodohi untuk menerima definisinya tentang menjadi ‘Muslim baik’.

Sayangnya, mayoritas pemimpin dan pengikut Thariqah Sufi besar, yang pada saat yang sama merupakan mayoritas Muslim dunia, telah jatuh ke dalam perangkap ini dan menjatuhkan diri mereka sendiri kedalam perlombaan untuk dikategorikan sebagai ‘Muslim Baik’, ketimbang menjadi ‘Muslim buruk.’ Beberapa telah melakukan ini atas dasar motivasi yang masih dapat dimaafkan, yakni mengejar dana yang cukup besar yang tersedia untuk kelompok yang mendorong moderasi dan toleransi di antara pengikut mereka. Yang lain melakukannya karena alasan politik untuk menyelaraskan diri dengan kebijakan anti-teroris, pro-demokrasi pemerintah mereka dan pemberi gaji pemerintah mereka.

Namun yang lainnya lagi melakukannya karena mereka sama sekali tidak memahami watak dunia tempat mereka tinggal. Seolah-olah mereka berpikir bahwa dunia saat ini masih sama seperti dua abad yang lalu ketika syariah masih berlaku di banyak negeri, dan pendekatan Tasawwuf yang diam-diam (quietist), kadangkala masih diperbolehkan di bawah pemerintahan Muslim yang kuat yang  menerapkan Syari’at dengan sepenuhnya, dianggap masih tepat (appropriate). Faktanya, tentu saja, hukum Allah tengah dilanggar di setiap negeri di dunia ini, Muslim atau non-Muslim, dan setiap Sufi sejati tentu tahu bahwa tidak ada Hakikat tanpa Syari’at. Membayangkan bahwa Tasawwuf dapat dipraktekkan dengan baik dalam situasi sekarang tanpa para pelakunya melakukan segala daya upaya untuk memperbaikinya menunjukkan ketidaktahuan tentang sifat asli dari jalan Sufi dan, seperti yang telah kita lihat, benar-benar bertentangan dengan teladan para pendahulu kita yang dibimbing secara benar, yang tidak meninggalkan kebutuhan bisnis yang terlewat dalam tekad mereka untuk menegakkan DIN Allah dan melihatnya diterapkan secara kaffah.

Berdasarkan analisis ini, jelaslah bahwa, disadari atau tidak, Sidi Chiker Gathering, seperti banyak organisasi serupa lainnya, masuk ke dalam kamp ‘Muslim Baik.’ Meskipun ada banyak aspek positif dari masa tinggal kami di Marakesh, ada tiga kejadian malang menonjol dalam ingatan saya yang membuat ini sangat terbukti.

Salah satu ceramah yang diberikan selama simposium disampaikan oleh seorang yang konon katanya Shaykhah dari California. Meskipun ditulis dalam terminologi yang kurang lebih Sufistik, itu mungkin juga datang langsung dari Haight Ashbury pada tahun 1968. Itu adalah pesan klasik “perdamaian dan cinta” dari puncak era kaum hipster di mana kehadiran Islam klasik dimainkan peran yang sangat minim tetapi disajikan secara serius sebagai penggambaran yang valid dari jalan Sufi. Butuh seorang Syekh Darqawi dari Aleppo, yang tidak mampu menahan kemarahannya atas apa yang telah dikatakan, untuk berdiri di akhir ceramah dan memberitahu wanita itu dalam banyak hal yang ia kemukakan benar-benar bertentangan dengan pemahaman yang benar tentang Tasawwuf.

Contoh kedua terkait dengan pengorganisasian pertemuan yang sebenarnya. Pada suatu malam kami diberitahu bahwa akan ada sesi zikir. Kami pergi ke aula tempat makan malam disajikan. Di satu sisi aula ada sebuah panggung dan tak lama setelah acara makan dimulai sekelompok penyanyi (yang menyanyikan qasidah-red) mengenakan djellaba (pakaian gamis khas Maroko-red) putih nan anggun bertopi fez merah tampil di atas panggung tersebut dan duduk dalam setengah lingkaran menghadap para tamu yang berkumpul. Mereka terus menyanyikan qasida dengan cara yang paling memabukkan yang hanya bisa dilakukan oleh penyanyi Maroko yang mendalami tradisi Andalusia yang sudah berabad-abad, yang entah mengapa di mata saya nampak melakukannya dengan malas. Hasilnya adalah syair-syair luhur Ibn al-‘Arabi dan ibn al-Farid, yang menjelaskan keadaan spiritual tertinggi yang mungkin dicapai oleh manusia, ditenggelamkan oleh gemerincing keras ratusan set alat makan dan obrolan dangkal dari ratusan suara obrolan yang banal, sehingga semua itu tereduksi menjadi musik latar untuk acara jamuan makan. Satu atau dua dari delegasi keluar dengan jijik. Saya malu untuk mengatakan bahwa saya adalah salah satu dari ratusan orang yang tetap makan makanan, yang memang enak.

Contoh ketiga terjadi dalam dua tahap. Organisasi administrasi utama pertemuan itu dilakukan dari serambi hotel yang sangat mewah yang menampung sebagian besar delegasi. Saya harus mengubah pengaturan perjalanan saya ke malam sebelum hari terakhir pertemuan dan orang yang bertanggung jawab atas pengaturan tersebut duduk di meja di lobi. Saya telah melihat ia menangani berbagai masalah perjalanan dari banyak delegasi dengan efisiensi dan kesopanan terbaik selama hari itu. Di depan saya adalah seorang Amerika paruh baya kecil yang ingin mengubah tiket pulang-pergi kelas bisnisnya ke New York yang telah dibayar oleh tuan rumah kami. Bahasa kasar dan tidak sopan yang digunakan oleh pria ini sulit untuk dijelaskan dan ia memperlakukan agen perjalanan yang paling baik dan cakap dalam melakukan yang terbaik untuk membantunya, yang dengan perasaan malu saya akui telah menjadi saksi atasnya. Ia sangat mementingkan diri sendiri dan bersikeras bahwa ia harus berada di New York pada waktu tertentu untuk menghadiri pertemuan penting di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan presiden salah satu republik Amerika Tengah. Itu adalah tampilan mengerikan dari jenis kesombongan dan obsesi diri Amerika yang terburuk.

Bayangkan kekecewaan saya ketika saya menemukan bahwa pria yang sama ini ternyata bakal memberikan pidato utama pada hari terakhir konferensi. Saya duduk di sana bertanya-tanya apa yang akan ia katakan tentang Tasawwuf, mengingat perilaku mengerikan yang saya lihat darinya di malam sebelumnya itu. Teryata hak itu bahkan terjadi lebih buruk dari yang saya bayangkan sebelumya, dan sedikit di antara keseluruhan ceramahnya, ia secara gamblang mengatakan bahwa untuk menjadi seorang Sufi, Anda sebenarnya tidak perlu menjadi seorang Muslim sama sekali. Kali ini saya keluar. Saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin pihak panitia membiarkan hal seperti itu dikatakan di kota Shaykh Jazuli dan Qadi ‘Iyadh? Satu-satunya kesimpulan yang bisa saya tarik adalah bahwa mereka pasti sangat ingin dianggap ‘Muslim Baik.’

Hasil dari semua ini adalah, seperti yang ditunjukkan oleh Sidi Chiker Gathering dan banyak organisasi serupa lainnya di seluruh dunia yang mengklaim mewakili Jalan Sufi, peran Tasawwuf di dalam umat Muslim saat ini telah menyimpang secara drastis dari posisi krusial yang sangat penting yang harus selalu diurusnya sepanjang sejarah Islam. Sebagian besar dari Thariqah-Thariqah besar bertanggung jawab atas penyebaran Islam di seluruh dunia pada awalnya, kemudian untuk menjaga keutuhan Islam baik lahir maupun batin – Zawiyya dan Khanqa para Sufi selalu menjadi tempat yang lebih dikhususkan untuk mengajarkan dan menerapkan praktik-praktik dasar DIN Islam sebagaimana halnya mereka harus mengikuti pelatihan-pelatihan spiritual – dan, seperti yang saya tunjukkan contohnya, untuk tidak henti-hentinya menjadi (elemen) pertahanan Islam dalam melawan musuh-musuhnya ketika diperlukan.

Penyimpangan Tasawwuf yang merusak ini telah memastikan bahwa Thariqah-Thariqah agung telah direduksi menjadi bayangan-bayangan yang dikebiri dan impoten dari apa yang seharusnya menjadi tugas mereka, tidak lagi mampu memenuhi fungsi yang menjadi tujuan para pendiri agung mereka, semoga Allah mengasihani mereka semua, membawa mereka kembali ada. Sayangnya semua penyimpang telah berhasil, yang dalam hal ini alih-alih menjadi orang-orang yang hidupnya dihabiskan dengan aktif menyebarkan, melestarikan dan melindungi Din Allah secara keseluruhan, sejumlah besar pemimpin dan mayoritas pengikut versi Tasawwuf yang menyimpang ini telah menjadi pasif, patuh, dan dalam banyak kasus, bersedia menjadi partisipan dari sistem yang secara eksplisit didedikasikan untuk menghancurkan Islam.

Akan tetapi, akan selalu ada Rijalallah sejati yang, demi Allah, akan memastikan bahwa tradisi besar Tasawwuf sejati, sungai transmisi setiap aspek Islam, yang bersumber pada Rasulullah, Shalla’llahu ‘alayhi wa sallam, dan telah menerangi dan menyegarkan setiap generasi Muslim sejak itu, tidak akan pernah berakhir. Kami memegang janji Allah untuk ini dan saya akan membiarkan Dia subhanahu wa ta’ala yang menyampaikan kata terakhir seperti yang Dia pasti lakukan dalam semua urusan kita di dunia ini dan di Akhirat. Dia mengatakan dalam Sura at-Tawbah:

“Mereka ingin memadamkan Cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Namun Allah menolak melakukan selain menyempurnakan Cahaya-Nya, meskipun para Kafirun membencinya.

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan Din Kebenaran untuk meninggikannya atas setiap Din lainnya, meskipun musyrikun membencinya.”

*Ceramah disampaikan Konferensi Fiqih Internasional ke-12 di Cape Town, Afrika Selatan pada hari Sabtu 17 Oktober 2009. Shaykh Abdalhaq Bewley merupakan ulama besar dari Inggris. Beliau memiliki Zawiyya di Norwich, Inggris, dan beliau juga merupakan murid dari Shaykh Abdalqadir as sufi – Mursyid tariqah Qadiriyya-Shadziliyya-Dharqawiyya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *