oleh: SHAYKH ABDALQADIR AS SUFI *

Saya hendak memulai dengan sebuah perkenalan dengan Shaykh Al-Akbar. Muhyiddin Ibn al-‘Arabi yang merupakan guru spiritual agung Eropa. Beliau hidup di Andalusia ribuan tahun lalu. Kita memanggilnya Shaykh Al-Akbar karena bagi para sufi beliau merupakan seorang Shaykh yang paling agung.

Dalam Islam para cendikia yang tidak memahami menuduhnya dengan sebuah doktrin yang disebut wahdat al-wujud, yang bermakna ketunggalan eksistensi yang akan mengimplikasikan pantheisme. Dengan kata lain, yaitu bahwa Tuhan juga merupakan satu kesatuan dengan alam semesta. Beliau menulis sekitar enam ratus kitab dan istilah tersebut tidak pernah muncul dari sekian banyaknya kitab – kitab itu, pada faktanya malah itu merupakan sesuatu yang bertentangan dengan pengajarannya. Para sufi yang tidak memahami apa yang beliau tulis, dalam rangka untuk membelanya, mengatakan bahwa doktrinnya adalah wahdat asy-syuhud, yang bermakna ketunggalan penyaksian. Bagaimanapun, Tawhid, yang merupakan doktrin Keesaan, menolak langsung realitas keduanya baik terhadap semesta dan terhadap penyaksian, tetapi Tuhan, Allah, adalah Tunggal tanpa penyekutuan. Salah satu pernyataan terkenal dari Ibn al-‘Arabi adalah: “mudah untuk memahami Allah, Tuhan Pencipta, tetapi sulit untuk memahami ciptaan.”

Pihak lainnya dalam Islam yang menentang para sufi  menuduhnya dengan ittidad, mereka menuduhnya bahwa beliau mengklaim dirinya terlebur-gabung ke dalam ketunggalan dengan Tuhan, tergabung dengan Tuhan di dalam sebuah kemabukan. Ini juga dengan sangat jelas ditolak secara jelas dalam pengajaran Shaykh merujuk kepada yang pengetahuannya merupakan kondisi kefanaan dari pengalaman lokus. Semua itu terdapat di dalam karya teragung dari kitab – kitabnya, “Pembukaan Selubung Makkam (Makkam Unveilings)” – atau anda dapat menyebutnya “Pembukaan Makkam Spiritual (Makkam Spiritual Openings)”. Ini didasarkan kepada garis dimana beliau mengulang lagi dan lagi, dan itu adalah “Hamba adalah hamba dan Tuhan adalah Tuhan.”

Dalam zaman modern para ‘Ulama al-Azhar di Kairo mengambil posisi membandingkan beliau dengan kita. Kita (dianggap sebagai orang) awam; orang biasa dan pengajaran ini hanya untuk para sufi besar, jadi mereka sangat tinggi meletakkan kitab–kitab Shaykh Ibnu Arabi, dimana anda tidak akan pernah bisa membacanya (karena dianggap awam-red). Saat itu juga kita mendapati Presiden Sadat (Presiden Mesir-red), salah satu dari protokol – protokolnya adalah menyutujui untuk menandatangani Perjanjian Camp David yang mana ia harus membuatnya menjadi sebuah tindakan kriminal dari memproses, mencetak dan mengajarkannya. Hal yang menarik adalah Shaykh di dalam pembukaan Makkam mengatakan sebagai berikut: “Saya ingin memulai dengan mendifinisikan keimanan dari orang awam”, tetapi beliau mengatakan “Ini lebih baik untuk memulai dengan sebuah rasa dari pengetahuan elit untuk membangunkan kerindu-inginanmu terhadap tingkatan – tingkatan spiritual.” Anda akan mendefinisikan kitab ini sebagai sebuah kosmogoni. Saya ingin anda untuk mengeluarkan dari kepala anda tentang ide dari istilah Barat yakni ‘Mistisme’. Akan lebih baik bagi anda meletakkannya dalam bidang psikologi dan observasi, dan saya akan mengatakan barangsiapa yang memahami tulisan – tulisan yang saintifik dari Goethe maka telah setengah jalan kepada pandangan–semesta dari Ibn al-‘Arabi.

Puisi Laureate, yang juga disebut secara resminya kondisi – terhormat (state-honoured) Ted Hughes, telah menuliskan sebuah buku yang sangat agung mengenai Shakespeare dan secara mendasar tesisnya merupakan keseluruhan karya dari Shakespeare menghasilkan dua kekuatan bertentangan: etos dunia Katolik yang feminim di sekitar Mary dan penghukuman dunia reformasi yang maskulin oleh Protestan, dan ia mengatakan Shakespeare juga mewujudkannya dalam kehidupan pribadinya. Konflik yang tidak dapat ditolerir dari dua pandangan yang berlawanan ini menemukan resolusi dalam sebuah pandangan spiritual yakni merupakan salinan tepat dari pandangan spiritual Ibn al-‘Arabi. Orientalis Perancis yang sangat terkenal telah mendemonstrasikan bahwa Divine Comedy of Dante secara aktual didasari kosmogoni dari Makkan Openings. Untuk mengakhiri uraian awal ini – anda juga harus sadar bahwa di Eropa dan di Rusia sebelum Perang Dunia I, dalam perubahan – perubahan jalan dan pada perubahan–perubahan tingkatan, para intelektual dan seniman semuanya mencari sebuah bahasa untuk mendeskripsikan pengalaman manusia dalam hubungan spiritual, dan seluruh gerakan ini yang mana pada dasarnya disebut dengan Gerakan Simbolis, mengambil banyak bentuk tetapi kemudian kesemuanya ini terhenti oleh bencana, yakni runtuhnya peradaban pada 1914.

Saya akan katakan bahwa Shaykh memahami eksistensi dengan sebuah rangkaian pengenalan dengan menyadari  dinamika alam dari ciptaan secara kosmis, menyejarah dan personal, dan beliau secara terus–menerus merujuk kembali pada ayat Qur’an yang menyatakan, “Setiap hari Dia dalam ciptaan-Nya yang baru.” Beliau memandang ciptaan sebagai semua yang dalam pergerakan, dalam pergerakan dengan kecepatan yang hebat, dan hal itu sendiri masuk ke dalam dan di luar dari eksistensi dalam kecepatan tinggi dalam semacam sebuah jalan yang mana itu benar – benar dalam eksistensi dan bukan dalam eksistensi secara simultan. Dan kunci untuk semua pemahaman adalah tindakan dari pengenalan terhadap Dia yang melihat, Yang Maha Melihat–sifat melihat adalah milik Allah dan penglihatan kita adalah apa yang kita sebut sebagai sebuah sifat yang dipinjamkan, ini bukan milik kita. Penglihatan kita adalah sebuah fakultas dalam–waktu (in time), “Mata tidak dapat mempersepsikan-Nya.” Mata tidak dapat mempersepsikan Tuhan, “ Tetapi Dia mempersepsikan ciptaan.” Dia mempersepsikan ciptaan.

Untuk mengedukasi–ulang ketersadaran, muridnya Shaykh al-Akbar membuat pola–pola untuk membantu anda memahami eksistensi, kemudian ia menegasikannya. Pada satu poin ia memuliakan makhluk manusia melebihi segala sesuatu dan pada menit yang lain ia melihat dirinya sebagai sebuah butir debu dalam kosmos. Beliau teguh sepanjang pengajarannya yang berarti  pengenalan awal dan beliau menjelaskannya dengan bahasa. Beliau mengatakan bahwa tidak mungkin kalimat untuk memiliki makna. Dan kata–kata tidak bisa bermakna kecuali huruf–hurufnya sendiri memiliki makna. Jadi beliau benar–benar mengonstruksi gambarannya tentang realitas kosmik dengan huruf–huruf. Beliau mendasari semua pemahamannya pada dua hal: pengalamannya dan pemahamannya terhadap Al Qur’an. Jadi dalam sebuah pengertian keseluruhan Makkan Openings merupakan sebuah penjelasan dari Al Qur’an.

Al Qur’an dimulai, setelah surah pembuka, dengan tiga huruf. A’udzu billahi min asy-syaythan ir-rajim. “Bismillah ir-Rahman  ir-Rahim. Alif. Lam. Mim.”

Jadi, “Dengan Nama Allah, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pengasih A.L.M.”

Dari semua huruf – huruf di dalam abjad setengah huruf – hurufnya muncul sebagai huruf – huruf tersendiri pada permulaan dari surah – surah dalam Qur’an. Dalam bahasa Arab, dalam sudut pandang gramatika, abjad juga secara strukturnya dibagi ke dalam apa yang kita sebut  huruf–huruf matahari  dan huruf–huruf bulan. Kata untuk matahari adalah Syams, jadi dengan penulisan ‘the’ yaitu ‘al-syams’ tetapi pengucapannya ‘asy-Syams’- huruf Lam-nya hilang, ini adalah huruf yang dihilangkan. Kata untuk bulan adalah ‘al-Qamar’ tetapi Q mengambil L, jadi pengucapannya ‘ar-Qamar’. Saya tidak ingin pergi ke tahapan ini, tetapi beliau benar–benar mengambil setiap  huruf dari abjad dan ia memberikannya signifikansi dan makna spiritual. Beliau menyediakan untuk huruf – huruf zona yang berbeda dalam sebuah cakrawala tak terlihat, bukan cakrawala semesta tetapi cakrawala spiritual. Jadi jika saya dapat mengatakan kalimat ini – beliau mentransformasi abjad ke dalam sebuah instrument dasar formulaik  dari menstruktur model kognitif tidak hanya terhadap benda, tetapi makhluk, bintang–bintang, tahapan–tahapan kehidupan, dan makna itu sendiri.

Siginifikansi dari Ibn al-‘Arabi untuk kita adalah beliau mengatakan pada muridnya bahwa menurut para elit (kaum khawas-red), pengetahuan ilahiah adalah tujuan manusia. Mencari pengetahuan tentang kosmos hanya bisa mengacaukan nalar karena semakin diketahui akan makin banyak lagi suatu hal untuk diketahui. Ini bukanlah mistisme karena faktanya beliau menaruh perhatiannya pada  anda harus memahami fisik semesta dan anda harus memahami dunia, karena itu anda harus memahami makhluk manusia. Beliau membalikkan proses belajar. Dalam pengertian itu anda dapat mengaitkannya, jika anda mengizinkan saya, untuk membedakan antara Linnaeus dan Goethe.

Linnaeus  mengatakan kita harus  mengategorikan setiap tanaman di atas permukaan bumi, dan semakin mereka mengategorikan, semakin kategori–kategori itu runtuh dan pengategorian–ulang terus dimulai sampai hari ini. Goethe bagaimanapun telah mengatakan, “Lihatlah tanaman! Ini dalam sebuah proses metamorfosis, apa yang terjadi?” Yang bermakna bahwa beberapa informasi yang tak nampak memanifestasi dan tampaknya mata estetika kita memiliki sebuah pola.

Ibn al-‘Arabi mengatakan bahwa jika anda memahami Tuhan melalui Nama-Nya, Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya barulah keseluruhan semesta terbuka kepada anda dengan pemahaman yang lengkap. Bagaimanapun beliau membuat itu menjadi distingsi yang penting: Realitas Ilahi, Allah, memiliki sifat-sifat  dan perbuatan–perbuatan tetapi juga memiliki esensi dan Esensi-Nya tidaklah bisa diketahui– tidak terhubung dengan sesuatu, tidak terhubung dengan objek, tidak terhubung dengan keseluruhan semesta, tidaklah terhubung dengan yang mengobservasi. Ini tersimpulkan di dalam pernyataan terkenal dari Khalifah pertama Islam setelah Rasul, sallallahu ‘alayhi wa sallam, Khalifah Abu Bakr, yang mengatakan “Ketidaktahuan merupakan ilmu yang dapat kami miliki.” Ibn al-‘Arabi mengatakan: “Ketidaktahuan ini merupakan keseluruhan pengetahuan.”

Sekarang mari kita datangi teksnya. Ini dimulai dengan sangat garingnya. “yang diketahui itu ada empat: Yang Maha Benar (Nyata), realitas universal, keseluruhan dunia dan manusia. Yang Maha Benar (Nyata) – menunjukkan Allah, al-Haqq, yang dideskripsikan dengan eksistensi absolut karena Dia tidaklah disebabkan oleh sesuatu apapun ataupun penyebab segala sesuatu, yang mana memukul semua teologi yang ter-Kristenisasi dari kasualitas, penyebab pertama, perkawinan teologi dengan filsafat. Dia bukan penyebab pertama. Apa yang Ibn al-‘Arabi indikasikan adalah bahwa mengimani Tuhan bukanlah sebuah preposisi intelektual yang dapat anda terima atau tolak. Ini tidaklah diangkat untuk diskusi. Beliau berbicara tentang kekuatan yang menegakkan –terus menerus eksistensi semesta yang dikenali, apa yang disebut Dante: “Kekuatan yang menggerakkan bintang – bintang”.

Ibn al-‘Arabi mengatakan: Dia adalah Sang Pencipta penyebab dan eksis dengan Esensi-Nya dari Esensi-Nya sendiri. Dengan kata lain Dia Maha berdiri-sendiri. Pengetahuan tentang-Nya merupakan pengetahuan dari Eksistensi-Nya, dan Eksistensi-Nya tidaklah lain dari Esensi-Nya. Bagaimanapun Esensi-Nya tidaklah diketahui tetapi sifat–sifat yang tersematkan pada-Nya diketahui. Pengetahuan tentang realitas Esensi-Nya, adalah mustahil, karena ini tidaklah diketahui baik dengan pembuktian ataupun demontrasi logis dan tidaklah tersentuh dengan definisi. Allah tidaklah seperti sesuatu apapun dan tidak ada yang seperti-Nya. Jadi bagaimana bisa seseorang seperti sesuatu – ini sangatlah indah – menjadi seperti Dia yang tidak menyerupai sesuatu apapun dan tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya? Pengetahuan Ilahiah tentang-Nya adalah – kemudian beliau mengutip ayat Qur’an, “Tidak ada sesuatu apapun yang seperti-Nya.” Lalu beliau mengutip ayat Qur’an lainnya, “Allah memberimu peringatan tentang diri-Nya.” Kemudian beliau menambahkan bahwa syari’at juga termasuk pelarangan (untuk) melawan perefleksian terhadap Esensi-Nya.

Kita akan tiba nanti pada perihal meditasi dan refleksi terhadap Tuhan. Ini merupakan satu kisah sebuah perjalanan batin yang melibatkan kelenyapan sang peniti jalannya, pengalaman lokusnya menjadi semakin halus dan halus dan berkembang dan berkembang sampai kemudian memenuhi keseluruhan semesta dan kemudian tenggelam, lenyap mencapai fana.

Beliau melanjutkan: “yang diketahui kedua adalah realitas semesta.” Bersabarlah, ini sangatlah sederhana sekali anda melihat apa yang beliau katakan – banyak dari latar belakang klasik dan Goethian akan membantu anda dengan cepat memahami poin ini – semuanya yaitu bahwa beliau mengatakan tentang semesta fisik merupakan pendefinisian–ulangnya  dari bagaimana kita mengambil pengalaman realitas, yang mana merupakan sebuah pengenalan terhadap sifat-sifat yang telah dipinjamkan kepada kita dari Tuhan dan telah diberikan ke dalam-waktu (in time).

Beliau mengatakan: “Yang diketahui kedua adalah realitas semesta yang merupakan milik  Yang Maha Benar (Nyata), Allah, dan pada semesta yang mana tidak dideskripsikan sebagai eksistensi atau non-eksistensi, dalam-waktu atau diluar-dari-waktu,. Ini merupakan diluar-dari-waktu ketika diluar-dari-waktu dideskripsikan dengan ini dan dalam-waktu ketika dalam-waktu dideskripsikan dengan ini.”

Ini merupakan hal yang esensial pada pemikiran Ghoethian tentang tanaman dan binatang. Dalam-waktu dan diluar-dari-waktu yang diketahui tidaklah diketahui sampai realitasnya diketahui. Tetapi realitasnya tidaklah eksis sampai sesuatu itu dideskripsikan dengan ke-eksis-annya. Jika sesuatu eksis tanpa didahului non-eksistensi sebagaimana eksistensi dari Yang Maha Benar (Nyata) dan sifat-sifatNya, ini mengungkapkan bahwa eksistensi diluar-dari-waktu karena mendeskripsikan Allah – Ilmu-Nya, Penglihatan-Nya, Kehendak-Nya, Perbuatan-Nya, Pengaturan-Nya, Pengawasan-Nya, Perancangan-Nya. Jika sesuatu eksis dari non-eksistensi sebagaimana eksistensi apapun selain Allah – itulah, keseluruhan semesta yang adalah selain Allah, yang mana ini adalah dalam-waktu dan di-eksis-kan dengan selain dirinya sendiri – ini mengungkapkan bahwa hal ini dalam-waktu. Setiap eksistensi merujuk pada realitas semestanya.

Seseorang tidak mencapai pengetahuannya bebas dari bentuk dengan pembuktian ataupun demonstrasi, dunia eksis dari realitas ini dalam artian dari Yang Maha Benar (Nyata), yakni Allah. Realitas ini tidak eksis dalam Esensi-Nya, jadi Allah membawa kita kedalam eksistensi dari sebuah eksistensi diluar-dari-waktu dengan demikian diluar-dari-ketepatan waktu (timeness) ditetapkan untuk kita. Karena itu dunia pengalaman ini telah mendasarinya sebuah hadiah – dan lagi semua ini balik kembali pada psikologi kita – bahwa kita semua mengenali eksistensi dalam sebuah jalan pemberian (given way), dan fisikalitas dari eksistensi kita mendefinisikan kemampuan kita untuk mengenali eksistensi sebagai realitas total.

Ada sebuah buku psikoanalisis yang cukup dikenal yang disebut “Pria yang salah paham pada istrinya karena sebuah topi.” Dia benar – benar melihat istrinya dan dia melihat sebuah topi, ini bukanlah misoginismenya orang Amerika, ini merupakan kerusakan dalam presepsinya. Ini bermakna ada beberapa kelecetan dalam otaknya yang menghasilkan dislokasi psikologis jadi saat kita semua mengatakan, “Itu adalah istrimu!” ia mengatakan “tidak, tidak, ini sebuah topi.” Kemudian kita mengatakan dia rusak, ia tidak mengalami realitas semesta, dia merupakan bukti untuk kita dari presepsi kita tentang eksistensi.

Adalah tentang sepuluh ribu halaman A4, dan ini diterbitkan dari impor besar dalam dunia medis sebagai contoh. Apa yang beliau bangun adalah sebuah deskripsi dari eksistensi sebagai penghamparan dari satu kekuatan yang memanifestasi, dari Esensi, dari sumber yang tidak dapat diketahui, tidak dapat didefinisi, tidak dapat disentuh dan tanpa bentuk.

Beliau kemudian melangkah untuk menjelaskan persoalan realitas semesta ini. Sama halnya kamu harus mengetahui bahwa realitas semesta ini tidaklah dideskripsikan sebagai ‘wujud’ (being) sebelum dunia bukan juga dunia dideskripsikan sebagai ‘ada’ setelah ini, melainkan akar dari hal-hal yang eksis secara umum. Klik pemahaman dalam pemikiran anda inilah yang mengubahmu dari  menjadi semacam mutan materialis kepada pemahaman bagaimana segala sesuatu bekerja – beliau melangkah untuk berbicara tentang bentuk–bentuk kehidupan sebagai contoh dan tentang penciptaan dasar dari elemen-elemen dunia ke dalam apa yang membentuk planet, batu fondasinya, gasnya dan air dan udara dan seterusnya, dan hamparan spesies–spesies biologis. Tidak satupun dari ini yang bertentangan dengan sains atau sebuah konfirmasi dari sains –tidak perlu untuk berpikir bahwa sains adalah sebuah sistem mitos yang total, bukan itu persoalannya.

Lalu beliau mengatakan: realitas semesta ini tidaklah dideskripsikan sebagai ada sebelum dunia, tidak juga dunia dideskripsikan sebagai ada setelahnya. Tidaklah rangkaian yang ada dari surga kemudian termaterialisasi, tetapi terdapat eksistensi, terasa dan dikenali dan ini ada, dan ini juga berkaitan dengan bentuk–bentuk kehidupan. Jika anda menyukainya, apa yang kita pikirkan dari sebuah proses evolusioner dari bentuk–bentuk fisik bukanlah sebuah proses dalam-waktu seolah – olah makhluk lembam masyhur ini memanjat keluar lautan dan perlahan berdiri – anda mengetahui gambar masyhurnya – sampai itu berdiri dengan sebuah tulang punggung yang lurus. Beliau tidak mengatakan itu tidak terjadi, beliau tidak mengatakan itu terjadi. Apa yang beliau deskripsikan adalah bahwa keseluruhan proses eksistensi tidak mendapatkan sebuah kesebeluman (beforeness) dan kesudahan (afterness) akan tetapi yaitu sumber dari subtansi.  Kata yang digunakan untuk ‘subtansi’ dalam bahasa Arabnya adalah Jawhar – permata. Seperti sebuah Kristal, permata memiliki pola, yang memiliki sebuah identitas geometris yang sangat khas. Dan demikian itu memiliki sumber: bidang-lingkungan kehidupan, keseluruhan arena dari makhluk hidup, kebenaran yang mana ciptaan mengambil tempat – beliau menyebutnya bidang cakupan yang dapat dipahami (intelligible encompassing sphere).

Bukan untuk menyangkal atau mengonfirmasinya, tetapi jika anda mengambil deskripsi terkenal saintifik kemunculan bentuk kehidupan seolah-olah (seperti) DNA, proses kehidupannya, telah ditemukan – tetapi apa yang kita temukan adalah sebuah mekanisme yang mana ini terbentangkan – ini meninggalkan fakta tak teruji bahwa apapun plasma material dari satu organisme tersebut, ini membentangkan hati sebagai hati dan ginjal sebagai ginjal dan mata sebagai mata. Ini merupakan proses total yang mana beliau melihatnya sebagai satu kesatuan realitas. Jadi realitas kosmik di dalam tahapan terpenting dalam-waktunya dan realitas kosmik dalam tahapan berlangsungnya dengan rincian bintang – bintang dan rincian tempat – tempat dan organisme keluar dari eksistensi dan masuk kedalam eksistensi, memiliki satu akar dalam pengetahuan. Ibn al-‘Arabi mengatakan bahwa jika anda mengatakan realitas semesta ini adalah dunia anda akan berkata benar, dan jika anda mengatakan itu bukanlah dunia anda akan berkata benar, karena itu bukanlah disana. Itu adalah makna yang kita buat tentangnya. Tetapi itu juga makna dari materi DNA itu sendiri. Jika anda mengatakan ini merupakan kebenaran-nyata Ilahi atau bukan kebenaran-nyata Ilahi anda akan berkata benar. Ini menerima semuanya. Ini berlipat ganda dengan keberagaman orang – orang di dunia. Dan ini terputus dengan diskoneksi dari Yang Maha Benar (Nyata), dari Allah.

(Bersambung)

*Shaykh Abdalqadir as sufi adalah Mursyid tariqah Qadiriyya Shadziliyya Dharqawiyya. Ulama besar dari Eropa. Kini menetap di Cape Town, Afrika Selatan. Ceramah ini disampaikan pada tanggal 16 Desember 1995 lalu di kota Weimar, Swiss.

Penerjemah: Sidi Mizar Neta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *