oleh: IRAWAN SANTOSO SHIDDIQ

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda, “Al Din al Muamalah.” Dinul Islam adalah muamalah. Dari ini kita mendapat kata ‘muamalah’. Tapi ‘muamalah’ dalam konteks ini bukanlah ‘muamalah’ yang dimaksud ‘tijarah’ (perdagangan). Ini bukan konteks ‘muamalah’ yang itu. Sama sekali bukan. Maka, jika dikata “Al Din al Muamalah”, bukan berisi bahwa Dinul Islam berisikan “lima pilar muamalah’. Jelas sekali konteksnya keliru.

Dalam kosakata Islam, kalimat ‘muamalah’ memiliki beberapa makna. Ada ‘muamalah’ sebagaimana dimaksud dalam Hadist ini. Kemudian ada ‘muamalat’ dalam makna luas. Sebagaimana dijelaskan Ibnu Taimiyah, menjabarkan tentang Syariat dalam dua bagian besar: ibadah dan muamalah. Ibadah itulah rukun Islam: syahadat, sholat, Zakat, shaum, dan haji. Sementara ‘muamalah’ itulah terdiri dari jinayat, mukasamah, mahkamah, munakahat, muamalat (perdagangan), wirasah, dan lainnya. Barulah kemudian kita mendapat defenisi “muamalat” (dalam makna sempit) yang berisikan perihal perdagangan. Disitulah masuk di dalamnya perihal dinar dirham, qirad, syirkah, gilda, kontrak dan lainnya. Itulah ‘muamalat’ dalam makna sempit. Lantas, tatkala kembalinya ‘muamalat’ dalam konteks perdagangan, maka masih dalam tataran kembalinya separuh elemen dalam syariat. Sementara Dinul Islam terdiri dari tiga pilar: Iman-Islam-Ikhsan. Iman itulah aqidah. Islam itulah syariat. Ikhsan itulah akhlak. Maka, kembalinya ‘muamalat’ dalam makna sempit (perdagangan), tentu memerlukan kelengkapan banyak elemen lain, yang tak bisa dipisahkan. Agar Dinul Islam kembali. Ketika muamalat (dalam konteks itu) kembali, belum keseluruhan Dinul Islam tegak berdiri. Karena memang tak bisa dipisahkan, dan tak pernah dikotak-kotakkan. Yang diperlukan adalah kembalinya tiga pilar dalam Dinul Islam tadi. Seperti Hadist Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam yang mengatakan, “Jagalah tiga pilar Islam, maka Dinul Islam akan senantiasa berdiri. Itulah Iman-Islam-Ikhsan.” Tegasnya, bukan sebatas pada muamalat (dalam makna sempit) yang berisi perdagangan.

Mari kembali pada Sabda Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Al Din al Muamalah. Shaykh Abdalqadir as sufi, dalam ‘The Book of Amal” memberi penjelasan. ‘Al Din al Muamalah’, maka muamalah yang dimaksud adalah perilaku (behavour). Itulah makna Dinul Islam. “Din tidak lain budi pekerti yang benar dan perilaku yang benar, maka merupakan tanggungjawab setiap muslim untuk memahami tentangnya dan tentang yang diharapkan darinya,” demikian kata Shaykh Abdalqadir as sufi.

Imam Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, mengatakan ilmu muamalah mendahului ilmu mukasyafah. Namun Shaykh Abdalqadir as sufi, tanpa bermaksud menegasikan sang huzatul Islam, mengatakan bahwa ‘ilmu mukasyafah mendahului ilmu al muamalah.’ “Mengingat bahwa kita telah mengatakan bahwa Muamalah adalah Din itu sendiri, maka kita harus menjelaskan tentang muamalah,” terang Shaykh Abdalqadir as sufi.

Dari sini, dalam memberi gambaran perihal ‘muamalah’, Sang Mursyid memberikan Al Quran Surat Al Baqarah ayat 144. Isinya, “Kami telah melihat kamu menengadah ke langit, menengok ke sana dan ke mari, maka Kami akan memalingkan kamu ke Qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukami karena itu ke arah masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Orang-orang yang diberi Al Kitab mengetahui bahwa itu benar dari Tuhannya. Allah tidak lengah dari segala yang mereka kerjakan.”

Maka, dari sini, demikian sambung Shaykh Abdalqadir as sufi, kita mendapatkan perwujudan, penyingkapan soal muamalah, dan ini merupakan kemurahan hati bagi kaum muslimin. Dari ayat tadi, Shaykh Abdalqadir as sufi membawa kita pada makna ‘kebenaran.’ Karena titik tekan perihal Qiblat, yang juga telah dipahami Ahli Kitab. Tapi kebanyakan mereka tak berkata benar dan mengakui kebenaran. Sementara Qiblat itulah pondasi Din. Dan perihal perintah bagi muslimin untuk selalu menghadap ke Masjidil Haram. Inilah kebenaran yang nyata. Dari sana, Shaykh Abdalqadir as sufi memberi kita lagi pemahamahan tentang Al Quran Surat An Nisa 59. “Taatilah Allah dan Taati Rasul. Karena ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya, “Allah tidak lengah dari segala yang mereka kerjakan.” Nah, pondasi dasar muslimin dalam mentaati Allah dan RasulNya. Konteks inilah yang membawa kita pada pemahaman muamalah. Yang dimaksud tentu adalah bertindak dan berperilaku benar. Behaviour. Itulah muamalah.

“Jika dia menjalankannya, berarti ia memiliki pengetahuannya –seseorang yang penuh budi pekerti, dengan sopan dan santun, adalah orang yang berpengetahuan,” demikian Shaykh Abdalqadir as sufi menjelaskan. Dan itulah yang dimaksud dengan Amal! Jadi amal, dalam konteks ini, bukan semata melakukan tindakan ‘tijarah’ atau perdagangan. Apalagi sekedar mendistribusikan emas dan perak. Tatkala tak melakukannya, dikategorikan tak ‘ber-amal.’ Tentu ini kekeliruan. Makna ‘Amal’, bukan semata tentang itu. Dan bukan melulu tentang hal itu. Amal, dalam penjelasan Shaykh Abdalqadir as sufi, adalah pengetahuan. “Dan itu adalah Hikmah,” ujarnya.

Jadi, amal dalam perihal ini tentulah berkata dan bertindak benar. Yang merujuk pada perintah Allah dan mentaati RasulNya. Inilah amal. Kebenaran, menjadi kata kunci tentang muamalah. Tentu pondasi ‘kebenaran’ disini bukan dalam konsep rasio atau logos. Yang kini menjadi parameter sebagai ‘kebenaran.’ Melainkan berperilaku benar dan berpihak pada yang benar. Inilah yang dimaksud Sang Mursyid, sebagai pentingnya Al Mukasyafah mendahului al muamalah. Dari sanalah lahir yang disebut Adab. Karena ulama berkata, “Adab dulu sebelum ilmu.” Sementara kaitannya ilmu tentu pada amal. Dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Dari sini, Shaykh Abdalqadir as sufi memberi kita perlaku contoh. Tatkala dirinya tengah di Meknes bersama gurunya, Shaykh Muhammad ibn Al Habib. Mereka tengah di zawiyya-nya. Tampak ada seorang miskin datang dari gurun. Dia bermaksud ke Marrakech, Maroko. Tapi tak memiliki uang dan perbekalan secukupnya. Mereka kemudian datang ke zawiyya itu. Lalu Shaykh Muhammadh al Habib berkata, “Engkau harus pergi ke Marrakech.” Tapi dia tahu bahwa orang itu tak memiliki uang dan perbelakan yang memadai. Lalu Shaykh berpaling pada seorang fuqara dan berkata, “Beri ia uang untuk keperluannya ke Marrakech.” Sang Faqir itu berkata, “Bismillah,” dan mengeluarkan uang dari sakunya lalu memberikannya pada orang dari gurun itu. Sang Papa itu tampak gembira ria. Dan menangis terharu sambil berlutut menciumi kaki fuqara yang memberi tadi. Tapi Sang Faqir itu berkata, “Jangan, jangan, stop, stop!” Karena berkata begitu, Sang Faqir itu ditegur oleh Shaykh Muhammad al Habib. “Biarkan, Biarkan dia melakukannya.” Tentu ini pengajaran dari Mursyid. Selepas orang itu pergi, Mursyid itu memberi penjelasan. “Beraninya engkau lakukan itu! Tidak seharusnya engkau ambil haknya untuk menutupi rasa malunya akibat kemiskinannya.” Dari sinilah Shaykh Abdalqadir as sufi tertegun saat itu. Menyaksikan mengapa Sang Faqir itu ditegur, walau telah bertindak baik. “Adab sejati bukanlah pada titik pemberian uang itu. Melainkan mengetahui cara berperilaku benar saat engkau memberikan uang itu,” terangnya. Nah, itulah yang dimaksud ‘muamalah.’ Berperilaku dan bertindak benar.

Dalam kisah lain. Teriwayat tentang epos Imam Abu Hanifah. Seorang mujtahid dan faqih ulung. Dia juga seorang pedagang. Suatu hari, dia berdagang di Baghdad. Menjual pakaian, seperti kebiasannya. Tapi hari itu, ada satu pakaian yang dia tahu ada cacat. Alhasil dia ingat dan ditandainya pakaian cacat itu. Tapi kemudian lapaknya ramai dikunjungi pembeli. Abu Hanifah tak lagi sempat memperhatikan pakaian yang cacat tadi. Tetiba ada seorang Ibu yang membeli pakaian yang ada cacatnya itu. Abu Hanifah terlupa. Tapi beberapa saat kemudian dia ingat,pakaian yang dia jual itu ada cacatnya. Dan dia lupa memberitahuan pada Ibu yang membeli tadi. Abu Hanifah mencoba mencari-cari lagi si Ibu itu. Tak tak ketemu.

Alhasil, pada hari itu, Abu Hanifah berkata pada orang-orang di sekitaran lapak jualannya. “Saya gratiskan hari ini jualan saya,” katanya. Lantas ada yang bertanya, mengapa dia bertindak begitu. Karena dia memiliki kesalahan telah menjual selembar pakaian yang cacat.

Jadi, di pasar itu, tak sekedar epos tentang untung atau rugi. Tak ada berapa break efent point (BEP) atau persentase hasil jualan. Bukan itu semata kamus yang ada. Melainkan lebih dulu tentang Al Mukasyafah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *