oleh: Irawan Santoso Shiddiq

Ini tentang kontrak manusia dan Allah Subhanahuwataala. Dalam Al Qur’an Surat Al A’raaf: 172, Allah berfirman:

“Allastu bi rabbikum?” (“bukankah AKU Tuhanmu?”). ~ Mereka (semua manusia) menjawab: “Bala Syahidnâ..” ~ “Benar! Engkaulah Tuhan kami..”~ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”

Ayat ini berupa ketentuan mutlak. Tentang kontrak kala manusia berada di alam ruh. Memahami ini, tentu tak terjangkau dengan rasio. Karena akal terbatas kapasitasnya. Disinilah titik buntu filsafat. Karena filsafat itulah logika, rasio yang menjadi raja.

Ayat tersebut masuk wilayah aqidah. Iman. Inilah pondasi Dinul Islam. Dalam sebuah Hadist, Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam menyampaikan tentang tiga pilar dalam Dinul Islam. Itulah Iman-Islam-Ikhsan. Tatkala ketiganya tegak, disitulah Dinul Islam berjaya. Ketika salah satu pilar runtuh, maka robohnya Dinul Islam. Iman itulah aqidah. Islam itu syariat dan ikhsan itulah akhlak.

Memahami ‘Allastu bi Rabbikum” tentu tak bisa menggunakan konsep Socrates. Apalagi dengan ‘idea’nya Plato. Maupun dengan ‘substansi’-nya Aristoteles. Inilah Nash. Islam mendahulukan nash, ketimbang rasio. Karena doktrin Rene Descartes, lebih tak bisa masuk akal. Cogito ergo sum, membuat manusia seolah yang wajib mengamati. Bukan objek yang diamati. “Allastu bi Rabbikum” tegas menyatakan, manusia itulah objek yang diamati. Allah Subhanahuwataala yang mengawasi. Bukan manusia yang menilai dan mendefenisikan.

Dari sini nampaklah kelemahan filsafat. Titik buntu filsafat. Sebagaimana Nietszche berkata, “Filsafat itulah berhala.” Dan Martin Heidegger mengatakan, “Filsafat itu tak berpikir,” katanya dalam ‘Being and time.’

Ironisnya, peradaban kini merupakan buah dari filsafat. Semenjak masa rennaisance di produksi. Dari sanalah pabriknya. Rennaisance merupakan kelanjutan dari fase mu’tazilah dalam Islam. Masa mu’tazilah, cara berpikir rasionalis menjadi panduan satu-satunya. Ketika nash bertemu dengan akal, maka akal dinomorsatukan. Nash dipinggirkan. Alhasil itulah yang membuat mu’tazilah memiliki problem pada aqidah. Karena mereka menafikkan sifat-sifat Allah Subhanahuwataala. Menepikan adanya qudrah dan iradah Allah Subhanahuwataala. Karena manusia yang dianggap sentral segala perbuatan. Manusia menjadi objek yang mengamati. Dari sinilah Imam Asy’ari langsung menegaskan, mu’tazilah memiliki masalah besar pada aqidah. Imam Asy’ari memberi benteng agar umat tak terjerumus filsafat lebih dalam. Itu yang disebut aqidah Asy’ari. Maknanya, Imam Asy’ari lebih membentengi umat agar tetap merujuk pada pengajaran Rasulullah Shallahuallahi wassalam. Sejak itulah istilah ahlusunnah waljamaah menggema. aqidah yang tak terjerambab pada filsafat.

Imam Ghazali makin menggaungkan tassawuf. “Ini jalan paling aman untuk mengenal Allah Subhanahuwataala,” tegasnya. Karena antitesa filsafat itulah tassawuf. Filsafat hanya menomorsatukan akal. Al Farabi bahkan memujanya. Seorang filosof, katanya, bisa sederajat dengan Nabi. Karena filosof, menurutnya, bisa menggapai Kebenaran dengan akal (rasio). Sementara Nabi menggapai Kebenaran dengan Wahyu. Itu yang disebut teori emanasi. Kebenaran ganda. Ibnu Rusyd makin menggaungkannya. Sampai kemudian di bawa oleh Thomas Aquinas di Eropa. Dari sanalah rennaisance menggema.

Aquinas melanjutkan filsafat masuk ke wilayah Nasrani. Yang sebelumnya di-stempel bi’dah oleh Gereja Roma maupun Konstantinopel. Filsafat dianggap barang haram. Tapi semenjak Aquinas membawa masuk, disitulah tembok bid’ah berhasil dijebol. Karena mereka hendak melawan dogma Gereja. Dari Aquinas diteruskan Grotius. Dia makin membuat ‘teori’ sebagai panduan utama. Akal menjadi raja. Dalil ‘vox Rei vox Dei’ dikudeta. Karena memang sudah salah arah. Sampai kemudian datanglah Rene Descartes. Makin menggurita ‘cogito ergo sum’. Aku Bepikir maka Aku Ada. Manusia menjadi subjek yang mengamati. Bukan objek yang diamati. Manusia yang menentukan, sesuatu itu ada atau tidak. Ada (being) ditentukan oleh akal rasio manusia. Tanpa mengindahkan lagi nash yang ada di kitab suci. Murni sepenuhnya dari rasio. Manusia pun menjadikan akal sebagai raja. Inilah yang disebut filsafat modern. Rasio murni.

Dari filsafat Descartes, melahirkan Cartesius. Pengikutnya. Disitulah hukum pun diteorikan ulang. Bukan lagi kehendak Tuhan. Melainkan kehendak manusia. Ini masalah qudrah dan iradah. Karena manusia dianggap yang memiliki kehendak. Bukan Tuhan. Ingat, fase mu’tazilah saja aqidah dianggap keliru karena masalah qudrah dan iradah yang bukan terletak pada Tuhan. Filsafat hukum meletakkan kehendak membuat hukum ada pada manusia. Machiavelli memulai dengan filsafat kekuasaan. Politik dihidupkan. Teori ‘lo stato’ menggema. inilah kreasi rasio manusia yang besar. Melahirkan ‘lo stato.’ Inggris menyebutnya “state”. Belanda ‘staat’. Diterjemahkan menjadi ‘negara.’ Inilah hasil kreasi rasio manusia. Dimulai dari filsafat politiknya Machiavelli. Sampai kemudian rennaisance dan modernisme melahirkan sains dan kedokteran. Anak kandung dari filsafat. Itulah peradaban kini. Buah dari sana. Buah dari rennaisance dan modernitas. Rasionalitas menjadi raja.

Dan tentu manusia kini menjadi terjebak. Filsafat membuat tak mudah memahami “Allastu bi Rabbikum.” Karena merujuk teori Descartes, seolah itu tak bisa berlaku. Karena mesti dibuktikan secara empirisme lebih dulu. Padahal itu adalah Nash. Wajib percaya. Dan itu parameter aqidah. Dari sini nampaklah kebuntuan filsafat. Kebuntuan akal. Karena akal memiliki keterbatasan. Tak mutlak sepenuhnya bisa jadi pegangan. Karena dengan filsafat, manusia menjadi terjebak untuk mandul memahami “Allastu bi Rabbikum.” Alhasil manusia pun merubah kontrak dengan-Nya. Merubah qudrah dan iradah Tuhan. Menjadi ‘Vox Popupi vox Dei.” Tentu itu masalah besar pada Tauhid. Kemusyrikan. Karena manusia menjadikan humanisme sebagai raja. “Humanisme itu musyrik besar,” kata Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Eropa.

Dari filsafat, melahirkan reason law (hukum rasio). John Austin mengembangkan lagi menjadi positif law. Dari filsafat melahirkan politik. “Politik menghancurkan taqwa,” kata Shaykh Abdalqadir as sufi. Karena politik, adalah cara manusia memandang kekuasaan. Dan manusia menteorikan, hasil filsafat tentunya, bahwa kekuasaan adalah kehendak manusia. Bukan kehendak Tuhan.

Allastu Bi Rabbikum, tentu menjadi pegangan. Bahwa kehidupan di dunia segala sesuatunya atas kehendak Tuhan. Bukan kehendak manusia. Manusia hanya menjadi hamba Allah Subhanahuwataala. Manusia tak berhak mengubah aturan dari Tuhan. Karena dari filsafat, manusia melahirkan ‘tuhan baru.’ Tak berwujud, tapi wajib dipatuhi dan ditakuti. Itulah masa modernitas kini.

Makanya sejak mula, Imam Ghazali telah mengingatkan akan bahayanya filsafat. Tahafut al Falasifah, kitabnya yang kesohor, berisikan pesan kebuntuan filsafat sebagai jalur menemukan Kebenaran. Shaykh Abdalqadir al Jilani membuktikan bagaimana keagungan tassawuf sebagai jalur memahami Dinul Islam dan pengamalannya. Buah dari pengajaran kedua Aulia besar itu adalah kelahiran generasi Salahuddin al Ayyubi, yang memimpin penaklukkan kembali Al Quds ke tangan Islam. Karena sejak dilanda mu’tazilah, Islam kehilangan Al Quds. Kini, muslimin kembali kehilangan Al Quds sejak mengadopsi filsafat modernitas. Shaykh Abdalqadir as sufi kembali membawa muslimin pada tassawuf dan mendobrak kebobrokan berpikir filsafat rennaisance sampai modernitas.

Karena dari “Allastu bi Rabbikum’ kembali menuntut kita untuk meninggalkan filsafat dan kembali pada tassawuf. Insha Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *