Allah Subahanhuwataala berfirman:

تَبٰرَكَ الَّذِىۡ بِيَدِهِ الۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرُۙ‏

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Ini tentang dunia. Kehidupan. Orientasi manusia dalam menjalani kehidupan, disitu pula berpengaruh pada peradaban. Ketika manusia terkesima pada “segala sesuatunya adalah materi”, maka peradaban berbasis inderawi. Dan kini inilah yang terjadi. Karena basis kehidupan seolah hanya berpusat dan berputar pada ‘materi’. Filsafat yang mewadahi.

Islam memberi gambaran. Alam kehidupan itu bukan seperti yang tampak. Ada alam yang ‘tak tampak’. Bahasa lainnya, Ghaib. Kaum saintifik, menyebut ‘keghaiban’ sebagai metafisika. Dianggap suatu yang khayali. Padahal sifanya nyata. Tapi logika tak bisa menjangkaunya. Alhasil, bagi kaum saintifik, alam metafisika dianggap sebagai bahasaan kedua. Yang paling utama ialah tentang alam nyata. Bukan yang fana.

Tassawuf yang memiliki kelengkapan ilmunya. Karena di sanalah pengajaran tentang alam kehidupan, lengkap dari Rasulullah Shallahuallaihiwassalam. Tapi ini bukan bahasan semua orang. Ada tingkatan. Sebagaimana filsafat, di sana juga ada tingkatan. Filosof membagi manusia dalam tingkatan kemampuan berpikir. Tapi berpikir ala inderawi. Bukan ‘fikir’ dalam makna batiniah.

Manusia terbagi dalam tiga level tingkatan. Kaum awam, kaum khawas dan kaum khawasul khawas. Shaykh Abdalqadir al Jilani mengagungkannya. Imam al Ghazali juga telah membedahnya. Ini pengajaran tassawuf, yang diwariskan turun temurun. Dari sanad yang sahih. Kaum awam inilah jamak yang masih terjebak pada “segala sesuatunya materi.” Fase setelah rennaisance, filsafat menyeruak di Eropa. Hingga puncaknya pada masa modern, maka aliran “segala sesuatunya adalah materi” makin menjadi. Selepas “cogito ergo sum”nya Descartes, dan “empiris”-nya Kant, maka keyakinan pada alam ini hanya hanya yang bersifat materi, makin menjadi-jadi. Metafisika dianggap bukan suatu yang lumrah. Inilah pembalikan atas realitas alam. Walau realitas tak berubah. Tapi penyesatan atas opini. Karena manusia jamak terjebak pada alam mulk. Inilah alam dunia yang nyata. Yang sifatnya berupa bentuk, padat dan wahm. Alam ini berupa jebakan. Kaum beriman memahaminya. Karena, saintisme seolah hanya berorientasi pada alam ini. Tak ada alam lanjutan.

Filsafat mengajarkan bahwa manusia harus menggali segala sesuatunya dalam aqli. Akal hanya mampu meraih alam mulk semata. Padahal tingkatan alam bertingkat. Alam mulki inilah alam yang paling bawah. Ketika manusia diberikan jasad, setelah kehadiran roh lebih dahulu. Ini hanya bisa dipahami dengan naqli, bukan aqli. Jika melulu merujuk filsafat, maka disanalah akan terhenti. Wajar Martin Heidegger berkata, “Filsafat telah mati.” Karena, kata Heidegger, filsafat tak bisa menjadikan rujukan Kebenaran. Selain hanya membawa jebakan manusia hanya sebatas pemahaman alam mulki semata, filsafat tak memiliki referensi tentang bagaimana alam setelah mulki. Karena landasan alam mulk, dipenuhi nafsyu syahwati.

Shaykh Abdalqadir as sufi menjelaskan, “keberadaan alam mulki itu kini dikonfirmasi oleh sains kafir. Jalinan keterlihatan unsur-unsur pembentuk mulk yang menakjubkan itu, menghijab banyak orang dari alam ma’na yang dengannya nalar (rasio) dibangkitkan, sehingga mulk dijadikan sebagai alam tujuan karena ia ada di alam yang nyata dan seakan-akan paripurna pada dirinya sendiri. Ia tidak nyata, tapi dibentuk oleh al Haqq, seperti dinyatakan dalam Al-Quran. Sehingga untuk memahaminya kita harus menembus kepadatan yang meng-hijab-nya. Karena kita berada padanya dan bagian darinya, maka dapat dimengerti bahwa dengan hancurnya batas mulk, maka lokus yang mengalami pada diri juga akan hancur.”

Pembatas alam mulk ini adalah nafsu syahwati. Kaum yang terkesima pada alam mulk, jamak karena terjebak pada nafsu syahwatinya. Inilah keduniawian. Seolah kehidupan hanya berhenti disini. Sayidinna Ali bin Abi Thalib berkata, “Ketika kita mati, maka kita terbangun.” Ini tentu suatu kebalikan. Tapi suatu pengajaran mendalam. Bahwa kehidupan bukan sebatas alam dunia ini semata. kehidupan tak semata terdiri dari “segala sesuatunya adalah materi”, sebagaimana Newton sampai Marx teorikan.

Tingkat keyakinan dan pemahaman terhadap susunan alam, ini mempengaruhi bagaimana hukum dibuat. Bagaimana kehidupan dilakukan, tergantung orientasi pada pemahaman tentang kedudukan alam. Tatkala manusia terjebak pada alam mulk semata, maka seolah “Tuhan hanya sebatas pembuat jam, ketika jam selesai dibuat, maka jam berjalan dengan sendirinya.” Disinilah “cogito ergo sum”-nya Descartes bekerja. Disitu pula ‘empirisme’-nya Kant mendominasi. Maka jebakan pada titik akhir sebatas alam mulk, makin menjadi. Manusia pun terkesima, bahwa seolah alam nyata ini adalah segala-galanya. Tiada lagi alam yang fana.

Maka diperlukan lagi “penyingkapan.” Emanasi. Tapi filsafat dan tassawuf memiliki makna berbeda tentang “emanasi”. Al Farabi, filosof yang dijuluki kedua setelah Aristoteles, memaknai “emanasi” sebagai penyingkapan akal. Sementara tassawuf memberi pengajaran lengkap. Emanasi itulah penyingkapan qalbu. Ketika nafsu syahwati berhasil dikandangkan, bukan dibunuh, maka penyingkapan terjadi. Alam Malakut pun akan tampak. Nyata. Bagi filosof, buah dari “penyingkapan” akal itu yang oleh Plato disebut “idea”. Teori. Aristoteles mengistilahkannya dengan “substansi”. Tassawuf berbeda lagi. Penyingkapan dalam ma’nawi dari alam mulk itulah berbuah “malakut”. Level lanjutan dari tingkatan alam. Dan ini hanya bisa diakeses dengan ‘dhawq’. Rasa.

Shaykh Abdalqadir as sufi mengutip ungkapan Rabia al-Adawiyya.Dia berkata, “Jangan mencari tamannya, tapi cari pemilik tamannya.” Inilah metode “penyikapan”. Dari alam mulk ke alam Malakut. Karena mulk, membuat orang terkesima dengan keindahannya. Padahal Allah Subhanahuwataala mulanya menjadikan dunia ini gersang. Tapi kemudian diberikan segala pernak pernik keindangan duniawi, yang banyak manusia terkesima. Dan ingin berlama-lama di dalamnya. Bah sebuah taman, terkesima dengan keindahan tamannya, tapi lupa mencaritahu siapa sang pemilik taman. Padahal sejatinya sejak mula, manusia diberikan titah untuk mengenali siapa pemilik taman. Karena itulah kontrak awal mulanya, “Allastu bi Rabbikum!!”.

Tapi Shaykh Abdalqadir as sufi mewanti, jangan terkesima dengan ketakjuban alam malakut. “Begitu malakut membuka khazanahnya bagi si Faqir, ia harus waspada agar tidak menjadi seorang kanak-kanak yang terpesona pada kehebatan malakut, seperti si kafir yang tetap menjadi seorang kanak-kanak yang terpesona kehebatan mulk.”

Disinilah harus pandai-pandai meniti buih. Karena kehidupan ini tak sendiri. Penyingkapan itu perlu bimbingan. Dari orang yang telah melewati. Merekalah para Suyukh sejati. Yang membawa jalan sampai pada tujuan. Wushul. Disitu pula ada mekanisme, yang dilewati dengan adab. Sembari ilmu dan amal sebagai benteng untuk ‘wushul’. Shaykh Muhammad Nafis menggambarkan, orientasi manusia itulah Marifatullah. Mengenali Allah Subhanahuwataala. Menggapai Ma’rifatullah mesti melewati Rasulullah. Marifatu-Shaykh. Untuk wushul sampai Rasulullah, disitulah perlu lebih dahulu ‘Marifatu-Shaykh’. Memahami Mursyid, yang telah memahami tingkatan alam. Tak lagi terpesona pada mulk, tapi telah sampai pada Jabarut dan Lahut. Dan memberi gambaran tentang Haqiqatul Muhammadiyya. Tentu ini tak bisa diraih dengan gambaran filsafat. Karena di sana manusia hanya terjebak pada tingkatan mulk semata. Imam Ghazali telah mewanti, “Akal bisa saja salah, tak bisa mengambil hakekat ajaran agama darinya.”

Sementara peradaban dunia kini terkungkung jebakan inderawi semata. Terpesona pada alam mulki dan seisinya. Nafsu syawati telah menjadi sandaran sana sini. Bahkan menjadi sistem yang menjebak manusia modern. Ian Dallas menyebutnya, “peradaban psikosis”. Peradaban yang sakit. Disinilah diperlukan jalan keluar. Sebagaimana Rasulullah Shallahuallaihiwassalam memberi pesan, untuk keluar dari lubang biyawak. Keluar dari lubang biyawak itu, tentu dengan keluar dari jebakan mulk. Dengan menapaki level kaum khawas (the elit). Kaum inilah yang paripurna dalam memimpin sebuah peradaban. Laiknya Madinah al Munawarah. Karena disana, bertebaran bintang gemintang. Karena Rasulullah Shallahuallaihiwassalam mengatakan, Sahabatku ibarat bintang yang menerangi. Itulah yang menyusun peradaban Madinah. Dan dilanjutkan dengan kejayaan peradaban Islam. Karena mukminun melewati penyingkapan alam. Tak sekedar terpesona pada alam mulk semata. melainkan berwujud pada level “khawas” sampai “khawasul khawas”. Inilah yang menjadi penerang bagi kota. Peradaban. Kaum Khawas inilah yang membimbing tegaknya syariat. Hukum Allah. Yang bukan semata muamalah. Imam Ghazali berkata, ilmu terbagi dalam muamalah dan mukasyafah. Muamalah itulah tentang syariat. Dan mukasyafah tentang hakekat.

Peradaban modernitas kini, jamak yang mengakali “muamalah”. Bak kawin kontrak. Secara syariat dianggap benar. Karena pernikahan memenuhi kaedah syariat, ada wali, ada saksi dan ada mempelai. Tapi dilihat secara mukasyafah, maka hal itu tentu menyalahi. Karena hanya bertujuan mengakali syariat. Disitulah bisa dirasakan tentang penyimpangan. Dari situlah Shaykh Abdalqadir as sufi memberi pesan, “Mukasyafah harus mendahului muamalah.” Ini kata kunci. Agar tak terjerambab pada orientasi nafsu syahwati belaka. Karena Dinul Islam harus dibangun kembali. Oleh kaum khawas (the elit), yang membangun kesempurnaan kota. The Entire City.

Sebuah peradaban yang sempurna, bukan dikendalikan kaum filosof, sebagaimana Plato dan Aristoteles mengajarkan. Apalagi kaum yang mengikuti nafsu syahwati keduniawian, seperti peradaban kini. Melainkan ideal dikendalikan kaum sufi. Mereka yang telah mahfum akan jebakan alam mulki. Saatnya sufi kembali memimpin peradaban. Di sanalah kejayaan Utsmani berada. Tentu, tassawuf mutlak diperlukan. Karena, Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan, tassawuf adalah  ilmu suluk untuk sampai kepada Raja al-Malik.

Irawan Santoso Shiddiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *