oleh: SHAYKH ABDALQADIR AS SUFI *

Seiring perubahan dunia dengan kecepatan yang mengherankan dan dunia Barat tidak dapat mengenali krisis strukturalnya, menjadi penting bagi kaum muslim untuk mengetahui dimana mereka berada, dan tentu (juga) dimana mereka tidak berada, dan melihat dengan mata baru atas segala sesuatunya.

Di Barat krisis besar – besaran terjadi di bawah pengaruh agama budak yang melihat sebuah transformasi, melibatkan keruntuhannya selama ratusan tahun, pertama menjadi dua dan kemudian menjadi bagian – bagian, secara berangsur – angsur menyebarluaskan tentakelnya di Eropa. Begitu kuatnya agama baru menjanjikan kebangkitan lahiriah semata, krisis struktural itu telah melanda dalam kerusakan dinamis dari visi utama yang memecah belah Romawi kuno. Ide dari demokrasi, di dalamnya sendiri tidak ada lagi metafora filosof, secepatnya dibanjiri dengan peristiwa – peristiwa yang melihat kemunculan dari sebuah gaya pemerintahan baru. Sebagaimana (Adam) Ferguson mengatakan:

“Pemerintahan, dengan revolusi ini, dikembangkan diatas senat dan para bangsawan.”

“Pemerintahan Roma, sebagaimana ini direpresentasikan setelah pengusiran paksa sang raja, telah menjadi aristrokratik secara menyeluruh”

Perampasan hak – hak mayoritas terus tumbuh seiring ekspansi Roma menjadi kekaisaran (empire). Gaius Marius ‘Jenderal rakyat (the peoples general)’ mentransfer kekuasaan kepada tentara Romawi. Pada perang sipil berdarah kita melihat pergolakan sebagai transfer kekuasaan kepada kediktatoran brutal dari aristokrat Sulla. Di bawah kediktatorannya, Sulla merevitalisasi republik, akan tetapi Marius lah yang telah membuat transformasi struktural – kekuasaan sekarang ada di tangan tentara. Jadi ketika keponakannya muncul dari senat yang direformasi yang ia ambil alih. Inilah Julius Caesar.

Jadi itulah negara Eropa, terjebak dalam keadaan sangat tertekan oleh kekayaan gereja, menemukan dirinya sendiri tak terselamatkan sampai kemunculan dari sebuah revisi radikal dari doktrin Katolik. Pada titik itu para intelektual Perancis mengarah pada sejarah dan diantara banyaknya dokumen – dokumen keluarlah ‘Vindiciae Contra Tyrannos’  yang terkenal dimana sang penulis menandatanginya sendiri sebagai Brutus. Ini merupakan poin kedua pada transformasi politik yang berakhir dengan kegagalan dari Gereja Roma untuk menghentikan cara berpikir baru (yakni filsafat—edt.)  yang mendominasi sebuah etos berpikir-bebas.

Peristiwa utama selanjutnya dalam Sejarah Barat datang ketika sekelompok penduduk yang menetap memberontak melawan pemaksaan pajak dari Britania. Dalam semangat persekusi kristen yang sebenarnya mereka menaklukkan bangsa – bangsa besar kemudian mendirikan pemerintahan di seluruh daratan Amerika. Sesudah benua itu dicaplok, mereka menyebutnya California ‘Perbatasan Terakhir (Last Frontier)’. Negeri telah ditemukan, bertentangan dengan sumpah jabatannya, dengan seorang jenderal pemberontak dan segelintir para pengacara (sang jenderal menyembah Caesar, sebuah permulaan yang tidak menyenangkan). Kemudian ia meneruskan untuk melakukan pembantaian besar – besaran pada semua kecuali segelintir dari orang-orang hebat  Amerika dalam apa yang tetap menjadi genosida terbesar suatu bangsa, yang tak ada bandingannya sepanjang sejarah hingga munculnya kasus persekusi Jerman terhadap Yahudi. Tidak ada pembicaraan saat itu atau nantinya tentang doktrin Wilson “hak untuk menentukan nasib sendiri.”

Jadi disinilah kita berada pada tahapan ketiga dari evolusi dunia. Kesalahan tentang konsep (ide) bahwa sejarah akan ber-ulang dengan sendirinya, yang justru tidaklah demikian, untuk menutupi kegagalan yang sangat buruk dalam mengkonfrontasi pemberontakan tak terelakan dari pasukan Saddam, menamakan ulang mereka dengan ISIS, telah berakhir pada kekacauan dan membuat kediktatoran Mesir sebagai sekutu. Pembicaraan ketiga tentang sebuah koalisi tidak masuk akal bagi para  intelektual barat. Orang – orang Kurdi tidak bisa menjadi keduanya sekutu dan teroris, dan mereka tahu betul bahwa merekalah satu-satunya kekuatan yang memerangi serangan Saddami (eks tentara Saddam Husein, Presiden Irak –edt.) ke Suriah.

Sementara semua kekacauan ini telah terkuak menjadi penting bagi kaum Muslim untuk tidak gagal dalam mengenali perubahan besar yang terjadi dengan kematian Raja di Arab.Warisan (pemimpin) yang dilakukan untuk terakhir kalinya berdasarkan garis hubungan persaudaraan. Dalam ledakan inspirasi dan semangat, Raja baru menyatakan putranya sebagai Putra Mahkota (Crown Prince). Itu adalah akhir dari sebuah zaman dan sebuah awal yang baru. Didukung oleh seorang menteri luar negeri baru, berbicara bahasa Inggris dengan sempurna, dan berpikir dengan ideologi yang cukup baru, hal-hal berikut telah terjadi:

  • Menteri luar negeri mengumumkan bahwa dia siap untuk menurunkan tentara untuk melawan apa yang kita sebut khawarij.
  • Mencabut hak menangkap bagi ‘Polisi ibadah (prayer police)’, teror mall.
  • Kemudian menyusul pengumuman bahwa Saudi akan ‘mendiversifikasi’ ekonomi mereka.

Yang harus kita sadari adalah ini adalah tatanan baru di Arabia yang harus didukung oleh umat Islam. Dan juga harus diapresiasi bahwa kita bergantung pada rezim ini untuk penyelenggaraan haji yang sempurna dan tanpa cela. Penting bagi Indonesia untuk menempatkan dirinya di bawah bimbingan Putra Mahkota dan kita semua mengharapkan pembaruan dan revitalisasi Dien di zaman kita ini.

*Penulis adalah Mursyid tariqah Qadiriyya Shadziliyya Dharqawiyya. Kini menetap di Cape Town, Afrika Selatan. Artikel ini dipublikasikan tahun 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *