Penerbit MAHKAMAH merilis buku baru berjudul “Bahaya Filsafat Terhadap Aqidah” karya Irawan Santoso Shiddiq. Inilah buku perkata di era modern, yang mengulas secara tuntas tentang bagaimana berbahayanya filsafat terhadap Aqidah. Karena filsafat-lah yang kini melandasi segala lini kehidupan yang telah menjadi sistem. Filsafat yang membuat hukum positif, demokrasi sampai “banking system.” Simak bagaimana penuturan sang penulis, Irawan Santoso Shiddiq, dalam penjabaran tentag isi bukunya tersebut.

Suatu malam ba’da Magrib. Saya menghadiri suatu majelis pengajian. Kala itu materi membahas tentang Aqidah. Sang pemateri fasih membahas tentang sifat 20. Materi aqidah yang diajarkan Imam Asy’ari dulu. Satu persatu materi sifat 20 tentang memahami Allah Subhanahuwataala itu bisa diurainya. Saya pun mengerti. Mahfum mendengarkan penjelasannya. Sang penceramah juga lihai menjabarkan tentang bagaimana korelasi pengajaran Imam Asy’ari itu dengan masa mu’tazilah. ketika filsafat melanda dunia Islam, masa Abbasiyya dulu. Itu kisaran sejak abad 8 hingga 12 Masehi lalu.

Tapi pada suatu titik, saya agak terjerambab. Pemateri itu menyampaikan, “Kita harus mematuhi hukum-hukum negara, undang-undang dan produk hukum lainnya.” Kemudian dia menyinggung perihal kondisi sekarang, yang semuanya kita harus ikut aturan yang berlaku. Disitu saya terdiam. Mengapa dia berkata demikian, padahal dia fasih menjelaskan antara Sifat 20 ajaran Imam Asy’ari dan mu’tazilah dulu.

Saya berbasis jurist. Fasih belajar tentang hukum positive. Kita tahu, positivisme ini buah dari filsafat. Anak kandung dari rasionalitas. Disitu saya berdiam, ini masalah banyak orang kini. Ketika membicarakan fase mu’tazilah, maka banyak yang fasih mengucapkan. Banyak yang bisa menjabarkan dimana kesesatannya. Tentang melencengnya filsafat mu’tazilah. Tapi tatkala menjabarkan tentang filsafat materialisme, yang justru kini berlaku, disitu ulama ahli kalam itu seolah ‘lumpuh.’

Padahal filsafat hanya berganti tempat. Masa Islam, barangnya disebut ‘mutazilah’. Lalu filsafat menyeberang ke Eropa. Disitulah berkumandang rennaisance. Yang kemudian melahirkan modernisme. Jaman inilah modernisme itu mewujud. Jaman yang harusnya kita head to head secara langsung dengan filsafat.

Fase mu’tazilah dulu, filsafat banyak diadopsi muslimin. Tapi tak sampai mengeluarkan muslimin meninggalkan syariat. Tapi sejak modernitas, filsafat membuat umat manusia keluar dari aturan Tuhan. Malah berubah membuat aturan sendiri. Disinilah korelasinya terjadi.

Saya berusaha mencari referensi. Tentang ulama mutakallimun yang bisa menjabarkan tentang filsafat rennaisance sampai filsafat modernitas. Hingga kini berubah menjadi post-modernitas. Tapi, entah saya yang belum ketemu, tapi memang saya tak menemukannya. Predikat mutakallimun kini jamak hanya terhenti mampu menjabarkan tentang kesesatan dan kekeliruan filsafat mu’tazilah. Dia mampu menjabarkan tentang Sifat 20, sifat 50, tapi agak kurang up to date perihal filsafat yang telah berganti baju. Tak lagi bersarang di mu’tazilah. Tapi telah berkembang biak sejak rennsaince sampai melahirkan positivisme.

Referensi ternyata didapat tak jauh-jauh. Dari para Suyukh yang berasal dari kalangan kaum Eropa. Kaum Barat. Mereka rata-rata bule, berkulit putih dan berbahasa Inggris asli. Dari Shaykh Abdalqadir as sufi, referensi dan penjabaran tentang kesesatan filsafat era kini bisa didapat. Hampir seluruh kitab yang ditulisnya, berkonsentrasi tentang bagaimana filsafat telah merusak tatanan dunia, dan kemudian merusak Islam. Dia pula yang memberi jalan keluar bagi muslimin, untuk keluar dari jerat filsafat ini, dan kembali pada Islam yang Sahihan. Islam yang merujuk pada tiga generasi awal, masa Amal ahlul Madinah. Inilah era tatkala Islam menjadi rule model. Yang bisa dijalankan di setiap jaman.

Sejarah memang menceritakan. Ketika Yunani berhadapan dengan filsafat, dan Romawi memerlukan filsafat. Dan kemudian Islam bertemu dengan filsafat, disitulah mu’tazilah tertera. Kemudian barat yang tengah dalam kegelapan, kemudian meng-Kristen-kan filsafat, mereka pun seolah ‘bangkit’. Tapi makin menuju kegelapan. Karena modernitas di Eropa memang mewabah yang kini melanda seantero dunia. Tapi membawa manusia pada ateisme. Bukan pada cahaya benderang.

Hingga periode kelam masa Islam pun terjadi. Ketika fase mu’tazilah dulu, sains Islam memang tinggi sekali. Megahnya Al Hambra, cantiknya istana Cordoba, sampai perpustakaan dahsyat di Baghdad dan Cordoba, ternyata itu semua tak berbanding lurus dengan kejayaan Islam. Kaum modernis Islam malah terkesima dengan buaian, bahwa seolah era mu’tazilah itu masa keemasan Islam. Padahal bukan. Karena dibalik kejayaan Islam pada sains, disitu pula periode runtuhnya Islam dari sisi kekuatan. Karena di fase mu’tazilah itulah Al Quds lepas dari pangkuan Islam. Sebelum kemudian diambil kembali oleh Sultan Salahuddin al Ayyubi dan kaum muslimin. Tentu Sultan Salahuddin bukanlah produk dari mu’tazilah. Melainkan dia bertassawuf dan kembali pada aqidah ahlul sunnah waljamaah. Fase mu’tazilah itulah muslimin kehilangan Cordoba dan puncaknya terusir dari Granada. Itulah buah dari adopsi filsafat dalam Islam, masa dulu itu.

Kemudian filsafat menyeberang ke Eropa. Terjadi rennaisance hingga modernitas kini. Sejak abad 18, modernis Islam mencuat. Mereka mengadopsi lagi filsafat. Lalu melahirkan beberapa pertemuan. Di Arabia, filsafat bertemu dengan ajaran Abdul Wahab, yang kemudian melahirkan ‘wahabbisme’. Di Mesir dan lainnya, Jalaluddin al Afghani, Rasyid Ridha, Muhammad Abduh menghidupkan lagi filsafat, dengan berguru pada modernitas. Apa hasilnya? Telah 200 tahun ajaran itu kembali disuguhi kepada muslimin, dan hasilnya muslimin kehilangan seluruh negeri-negeri muslim! Tak ada lagi syariat, tak ada lagi jizya apalagi jihad. Semuanya lumpuh. Karena dengan pengajaran itu, aqidah muslimin menjadi tergadaikan, terjebak pada modernitas. Disitulah proses Islamisasi yang menyedihkan. Bahkan membuat kelumpuhan pada muslimin.

Jebakan rasionalitas yang diadopsi, membuat kelemahan muslimin. Inilah yang berujung, sebagaimana istilah yang disebut Shaykh Abdalqadir as sufi, muslimin disuguhi pengajaran Tauhid yang ‘mengerikan.’ Karena jauh dari Tauhid yang benar. Melainkan Tauhid yang telah diramu dengan  rasionalitas. Filsafat itu sendiri.

Inilah yang membuat kemunduran Islam. Dan kelumpuhannya, tak jamak yang mampu bagaimana bentuk filsafat era kini. Bagaimana anak kandung bahkan cicit yang dihasilkan dari filsafat itu, hingga membuat keruntuhan pada aqidah muslimin. Karena filsafat kini telah menyeruak ke berbagai sisi. Dari sisi kekuasaan, filsafat melahirkan ‘modern state’ yang kini seolah menjadi dogma. Dan mutakallimun era sekarang seolah lumpuh dalam membaca hal ini. Dari sisi uang, filsafat telah melahirkan banking system, yang melegalisasi segala bentuk riba. Dari sisi hukum, filsafat telah melahirkan konstitusi, yang jelas berasal dari filsafat hukum. Inilah wujud filsafat sekarang, yang berada di depan mata kita semua. Yang masuk menyeruak sampai tempat tidur kita. Dan, dulu kala masa mu’tazilah, ulama telah mewanti tentang bahayanya. Tentang kesesatan filsafat sampai perlunya kembali pada aqidah yang benar. Itulah aqidah ahlul sunnah waljamaah. Yang istilah itu sendiri muncul karena adanya ancaman dari filsafat mu’tazilah.

Kini ancaman itu justru lebih dahsyat ketimbang filsafat mu’tazilah. Karena fase mu’tazilah dulu, Kebenaran ala Wahyu masih diakui. Rennaisance juga demikian. Kebenaran ala Wahyu masih disandingkan dengan Kebenaran ala rasio. Tapi sejak era modernitas, ‘Kebenaran’ yang diakui hanya bersumber dari satu: kebenaran ala rasio. Hanya aqli semata. Modernitas tak lagi mengakui naqli, sebagai jalan menuju Kebenaran. Inilah kesesatan yang nyata dan bahaya yang membahayakan umat manusia. Karena alhasil ‘qudrah’ dan ‘iradah’ Tuhan menjadi hilang dimana-mana. Digantikan ‘berhala’ rasionalitas, yang mewujud pada sistem yang seolah semuanya merujuk pada ‘kehendak manusia’ semata. Disinilah letak bom dinamit dari virus filsafat itu.

Buku ini hanya pengantar untuk memahami kembali aqidah. Tentu aqidah ahlul sunnah waljamaah. Karena kini pengajaran ‘aqidah’ seolah hanya dimonopoli oleh suatu kelompok, wahhabisme dan modernisme Islam. Mereka mengajarkan lagi aqidah yang berdampingan dengan rasionalitas, filsafat itu. Disitulah letak kejumudannya. Karena alhasil tak pernah membawa umat keluar dari lubang biawak.

Buku ini sejatinya hanyalah kumpulan tulisan yang penulis utarakan saban hari melalui laman facebook. Tapi kemudian dirasa penting untuk dikodifikasi demi referensi. Ini sebagai pengantar untuk memberikan background tentang korelasi filsafat mu’tazilah dan filsafat materialisme yang kini menyeruak.

Semoga dengan buku ini, kita mahfum akan bahaya filsafat. Semoga kita bisa meraih kembali Tauhid yang benar, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallahuallaihiwassalam. Tauhid yang lurus, tak terpengaruh filsafat. Insha Allah.

Irawan Santoso Shiddiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *