Ini berita yang muncul dari Istanbul. Seorang fuqara dari Turki, Eren Yesilyurt, menuliskan wawancaranya dengan Dr. Ali Azzali yang berada di Cape Town, Afrika Selatan. Ali Azzali merupakan seorang muslim asal Italia. Beliau kini menjabat sebagai Direktur Dallas College di Cape Town. Dallas College merupakan pendidikan non formal yang didirikan di Cape Town atas titah dari Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar yang menetap di Cape Town, Afrika Selatan. Sosok dan kisahnya yang luar biasa sebagai ulama di barat, yang menegakkan kembali pilar-pilar Islam yang runtuh dalam ajaran dan amalannya. Shaykh Abdalqadir as sufi merupakan mursyid tariqah Qadiriyya Shadziliyya Dharqawiyya. Beliau berguru pada Shaykh Muhammad Ibn al Habib dari Meknes, Maroko dan mendapat ijin kemursyidan dari Shaykh Al Fayturi Hamuda dari Libya, yang juga dari Dharqawiyya. Dakwah Shaykh Abdalqadir as sufi berfokus pada muslimin di Barat dan telah meng-Islam-kan ratusan kaum muslimin di Barat. Murid-muridnya tersebar di berbagai belahan dunia. Di Spanyol, telah mendirikan Masjid Raya Granada, yang bersebelahan dengan Istana Al Hambra, istana Andalusia terakhir. Di Inggris, murid-murid Shaykh Abdalqadir mendirikan Masjid Raya di Norwich. Dan di Mexico, telah berdiri pula suatu perkampungan muslim di Ciapaz, Mexico, buah dari dakwah para murid Shaykh Abdalqadir as sufi.

Eren Yesilyurt, fuqara di Istanbul, Turki

Pengajaran yang menarik dari Shaykh Abdalqadir as sufi ialah jalan kembalinya Khilafah yang harus kembali dilakukan oleh kaum sufi. Sebagaimana dulunya Kekhilafahan merupakan bagian dari amalan tassawuf. Hanya saja kini pengamalan tassawuf, seolah “lepas” dari tujuan kekhilafahan, yang berakibat belum tegaknya Dinul Islam secara sempurna. Berikut ini wawancara panjang Sidi Eren Yesilyurt dari Istanbul, Turki kepada Dr. Ali Azzali di Cape Town.

Mahkamah mendapat kuasa dari Sidi Eren untuk menterjemahkan hasil wawancara ini dan menerbitkannya di Indonesia. Petikan wawancara ini sangat penting dipahami kaum muslimin di Indonesia, karena sangat berkaitan erat dengan situasi dan kondisi yang juga dialami oleh kaum muslimin di Indonesia. Simak petikannya.  

Salam, Dokter Ali Azzali. Apa kabar? Terima kasih telah menerima wawancara kami. Mari mulai dengan mengenal Anda? Bisakah Anda berbagi cerita dengan kami? Terutama kisah Anda menjadi seorang Muslim. Bagaimana perjalanan yang dimulai dari Italia sampai di Cape Town?

Assalamu alaykum wa rahmatullah. Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih karena telah mengundang saya. Adapun cerita saya, saya lahir di Parma dari sebuah keluarga Katolik pada tahun 1971. Pertemuan pertama saya dengan Islam terjadi ketika bertemu dengan seorang intelektual Italia yang hebat, Prof. Claudio Umar Amin Mutti. Saya ingat bahwa hati saya berbicara kepada saya ketika saya pertama kali bertemu dengannya; Saya entah bagaimana mengerti bahwa dia memiliki apa yang saya cari. Darinya, saya menerima Islam dan menjadi murid tariqah Shadhili Darqawi pada usia 20 tahun. Dia kemudian memperkenalkan saya pada ajaran spiritual Shaykh Abdaqadir as-Sufi yang, pada saat itu, melakukan pekerjaan dakwah yang menakjubkan di Barat. Setelah menyelesaikan studi saya di Universitas Parma, saya terlibat dalam berbagai proyek di banyak bagian dunia, dari Albania, hingga Bosnia, Malaysia, Skotlandia, Maroko, Turki, Spanyol, dan kemudian Afrika Selatan, tempat saya kini menetap sejak 2005 .

Anda telah bersama Abdulkadir Sufi selama bertahun-tahun. Kurun waktu tahun 1990 dan 2000 karyanya populer di Turki. Dia adalah Shaykh Sufi yang sangat istimewa dan sangat tidak biasa. Namun, ada banyak teori konspirasi tentangnya. Dan kami ingin mendengarkan tentang Shaykh Abdulqadir dari Anda.

Shaykh Abdalqadir adalah seorang guru dan sarjana yang hebat; Saya tidak akan mendefinisikannya sebagai seorang Shaykh yang biasa. Silsilahnya tak terbantahkan dan mengikuti garis tarekat Shadhili-Darqawi. Ketika Syekh Mahmud Efendi bertemu dengannya pada tahun 1995, ia langsung mengundang empat puluh muridnya untuk ditempatkan di zawiyya-nya yang berada (Masjid) Fatih dan saya adalah salah satunya. Kami tinggal selama dua minggu di mana kami berdoa dan makan dengan guru besar (tariqah) Naqsybandi itu.

Shaykh Abdalqadir as sufi (kiri), bersama Dr. Ali Azzali (kanan).

Pada saat itu, Shaykh Abdalqadir mengunjungi Istanbul atas undangan Dr Erbakan yang dia dukung penuh. Apa yang terjadi di Turki luar biasa. Kami bertemu dengan semua Suyyukh besar kota; antara lain saya harus menyebutkan Shaykh Mahmud Esad Coşan. Peristiwa yang paling berkesan adalah pertemuan publik dimana Shaykh membahas masalah Khilafah di auditorium yang sangat padat. Pembicara lain pada acara tersebut adalah filosof Muslim Prancis, Roger Garaudy.

Keunikan Shaykh Abdalqadir dapat diidentifikasi dalam pengetahuannya yang mendalam tentang tradisi Barat dan pemahamannya tentang situasi politik kontemporer dan bagaimana lembaga keuangan berperan. Saya ingat salah satu pertama kali saya bertemu dengannya dia mengatakan kepada saya bahwa “Maschere Nude” (Topeng Telanjang) dari Luigi Pirandello seperti risalah tentang nafs. Ajarannya bisa tampak “tidak biasa” karena murid-muridnya kebanyakan dari Barat, di mana kecenderungan untuk mengurangi setiap jalan spiritual yang sah menjadi semacam “spiritualisme yang tidak berbahaya” sangat penting, oleh karena itu ajarannya sering kali tampak kasar dan tidak biasa dalam arti tertentu. Dia selalu menekankan pentingnya Syariat, Tariqat dan Haqiqat di saat tasawuf di Barat sering terputus dari Syariat. Dia mengajari kita bahwa Islam didasarkan pada model Madinah, oleh karena itu komunitas yang sempurna telah menjadi inti ajarannya sejak awal. Bahkan, ia banyak dikritik karena keterlibatannya dalam politik. Pada saat yang sama, dia menulis dan menugaskan penerjemahan karya klasik yang sangat penting tentang DIN dan tasawwuf, teks yang membawa ribuan orang memeluk Islam di seluruh dunia. Saya ingin menyebutkan, di antara banyak lainnya, terjemahan Al Muwatta’ karya Imam Malik dan Ash-Shifa oleh Qadi Iyad.

Mengenai teori konspirasi, Shaykh Abdalqadir berkata: “Kami melempar kacang ke monyet” …

Yang bisa saya katakan adalah, ketika saya pertama kali bertemu dengannya, dia mendesak saya untuk mengabaikan ajaran René Guénon (‘Abd al-Wahid Yahya) karena afiliasinya dengan freemasonry. Ketika kami mengunjungi Istanbul pada tahun 1996, kami mengadakan Moussem di Halveti Jerrahi dergah di Fatih. Inti dari ceramah Shaykh Abdalqadir, setelah malam zikir, adalah peran Masonry dan Emmanuel Carasso dalam plot melawan Sultan Abdul Hamid Khan (Sultan Utsmaniyya-red). Pada saat itu dia juga menerbitkan sebuah esai yang sangat berarti berjudul: “Kembalinya Kekhalifahan”, di mana dia mengungkap penyebab sebenarnya yang menyebabkan penggulingan Sultan besar terakhir itu.

Shaykh Abdalqadir as sufi ketika di Istanbul, Turki, tahun 1995, atas undangan Dr. Erbakan. Kemudian berbicara di depan ratusan pejabat dan Suyukh di Turki dengan memaparkan artikel panjang: “Kembalinya Khilafah” (The Return of the Chaliphate”).

Anda adalah seorang sejarawan yang mempelajari Roma kuno sebagai akademisi. Karya terbaru Shaykh Abdalqadir Sufi dengan menggunakan nama Ian Dallas, “The Entire City” dan “The Engine of The Broken World” didasarkan pada Roma Kuno dan penekanan merujuk pada Roma untuk memahami kondisi hari ini dapat dimengerti dalam perspektif Eropa dan Amerika tetapi mengapa Roma kuno penting bagi orang yang tinggal di negeri Muslim?

Memahami Roma (kuno) berarti memahami dasar-dasar sistem politik modern. Republik Romawi telah menjadi model penciptaan Negara (modern state) dan Konstitusi modern. “Gestalt” (bentuk) seperti itu dapat ditelusuri di hampir setiap struktur politik modern, dari Timur hingga Barat. Lebih lanjut, sebagaimana yang diajarkan Niccolò Machiavelli, studi Sejarah Roma merupakan paradigma siklus sejarah sebagaimana dijelaskan juga oleh Ibn Khaldun dalam Muqaddima-nya.

Oleh karena itu, di masa lalu para elit politik dunia menerima pendidikan berdasarkan studi bahasa Latin dan sejarah Roma. Sultan Mehmet Fatih juga sama, ketika ia menyampaikan ceramahnya setelah penaklukan Konstantinopel, mengklaim gelar Kaisar Romawi dan mengungkapkan pengetahuannya yang mendalam tentang sejarah Roma. Pada akhirnya, tindakan manusia ber-ulang kembali, oleh karena itu ungkapan: “Nihil novi sub sole” (tidak ada yang baru di bawah matahari) dapat menjadi contoh alasan mengapa studi klasik begitu fundamental untuk memahami situasi politik di mana kita berada.

Merupakan tanggung jawab kita sebagai Muslim untuk dapat memahami situasi dunia dalam rangka memperluas dien Allah dan melindungi saudara-saudara kita. Dengan mempelajari Sejarah Roma kita dapat memahami arcana imperii (rahasia Negara) dan karena itu dapat bertindak secara efektif, menghindari semua jebakan yang dipasang oleh propaganda media Barat.

Kita berada di dunia yang berubah sangat cepat. Sekarang Anda memiliki kecerdasan buatan yang memengaruhi sistem dan politik dunia, dan ada banyak perubahan teknologi seperti media sosial. Ketika Anda melihat dunia, masalah apa yang tidak dapat kita identifikasi dan selesaikan sebagai Muslim?

Resiko utama yang dihadapi umat manusia secara global harus direduksi menjadi semacam bukit semut, seperti yang diramalkan Ernst Jünger pada abad terakhir. Akselerasi pesatnya kemajuan teknologi dalam beberapa dekade terakhir telah meningkatkan tingkat kendali baik pada tingkat individu maupun sosial. Prinsip utama pendidikan kontemporer adalah efisiensi. Generasi baru dilatih untuk memberikan jawaban cepat, tetapi mereka tidak dapat mengajukan pertanyaan penting tentang kehidupan. Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Surah at-Takwir, mengingatkan kita: “Jadi kemana, lalu kamu akan pergi?” (81, 26).

Konsekuensinya adalah munculnya tentara budak yang tidak sadar, tidak mampu mempertanyakan situasi. Dalam film terbarunya, Blade Runner 2049, sutradaranya menggambarkan masyarakat distopia yang sepenuhnya dibentuk dan diatur oleh teknik. Dalam skenario suram ini, di mana bahkan identitas pribadi individu dipertanyakan sebagai artefak teknis, keajaiban menyulut kebangkitan dalam karakter utama. Kepercayaan pada Yang Tak Terlihat (Ghaib-red) itulah yang membuat kita tetap manusia bahkan dalam situasi tergelap.

Anda mengajar di Dallas College. Sebagai contoh penting dalam bidang pendidikan bagi umat Islam di dunia dapatkah Anda memberi kami beberapa informasi tentang Dallas College di Cape Town itu? Bagaimana proses kelahirannya? Apa yang telah Anda capai?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perkenankan saya meminjam kata-kata salah satu dosen terbaik kami, Haji Abdullah Luongo, yang meninggal dunia pada tahun 2012:

“Pada tahun 2004 sebuah perguruan tinggi swasta kecil didirikan di Cape Town, Afrika Selatan. Itu akan menjadi perguruan tinggi kepemimpinan, tempat di mana orang-orang muda dari semua ras yang memiliki kapasitas yang memadai dan keinginan bawaan untuk unggul, untuk benar-benar membuat perbedaan dan mengambil tanggung jawab untuk menciptakan dunia jenis baru, dapat datang untuk dididik. Bukan untuk massa yang sangat besar yang hanya melihat pendidikan sebagai tiket untuk mendapatkan pekerjaan, belum lagi terlalu sering di dunia saat ini malah tiket itu mungkin tidak membuat Anda masuk.

Perguruan tinggi ini dimaksudkan untuk mengembalikan tujuan awal pendidikan seni liberal: mempersiapkan pemuda menjadi pemimpin masa depan. Di era dominasi dunia di mana kapitalisme berbasis kredit, yang beroperasi di balik tabir demokrasi liberal, telah membawa semua orang, dari Negara-negara Maju hingga negara-negara Dunia Ketiga, ke jurang kehancuran total, sebuah nomos baru sangat dibutuhkan. Dan, selain itu, pria dan wanita yang mampu mengambil kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menyelamatkan orang-orang dan ekosistem yang kita semua tinggali ”.

Saat ini model kognitif yang dominan dibebaskan oleh dimensi etika apa pun, yang ditujukan secara eksklusif untuk memperkuat keterampilan dan pemecahan masalah. Itu tidak memusatkan perhatian pada pembentukan karakter dan pertanyaan fundamental kehidupan. Proses pembelajaran telah menjadi “loading of files” menurut prinsip utilitarian dengan hasil yang maksimal tapi dengan usaha yang sedikit (minimal). Yang hilang dalam proses ini adalah hubungan antara pengetahuan dan kehidupan. Prinsip kinerja telah mereduksi proses pembelajaran menjadi kompetisi yang tidak menyisakan cukup waktu untuk refleksi kritis.

Dallas College, perguruan tinggi di Cape Town, Afrika Selatan. Mempersiapkan para pemimpin, bukan ‘pekerja’. Karena saatnya sufi kembali memimpin peradaban.

Oleh karena itu, subjek menjadi wadah pasif untuk diisi dengan konten anonim. Pemisahan total dimensi etika dari proses pembelajaran telah menumbuhkan kultus kebahagiaan yang sama sekali terpisah dari pencarian makna hidup. “Kenapa tidak?” adalah pertanyaan yang dibisikkan oleh sistem neoliberal melalui organ propagandanya. “Mengapa tidak bahagia sampai mati?” – Itu hukum baru.

Pengalaman tentang batas, fondasi yang diperlukan untuk pengetahuan nyata apa pun, telah kehilangan maknanya. Dalam menghadapi pertanyaan ini, penting untuk tetap menghidupkan pertanyaan lain: “Bagaimana cara memperkenalkan kembali dalam proses pendidikan pengalaman traumatis tetapi positif tentang batas, dari bentuknya?”

Nietzsche memperingatkan:

“Gurun tumbuh, dan celakalah orang yang menyembunyikan gurun di dalam dirinya”.

Jaman kita kini ialah buah dari kolusi yang mengerikan antara gerakan revolusioner-libertarian kisaran tahun 60-an dan kapitalisme keuangan yang bertanggung jawab atas krisis yang sebenarnya. Menghadapi situasi seperti itu, sekolah harus tetap pada intinya pada sentralitas pendidikan sebagai proses transformatif dan melawan hukum sesat dari “Why Not?”

Apa yang harus dilakukan? Pengetahuan apa yang kita butuhkan?

Pengetahuan tentang transformasi manusia. Semua budaya telah mengetahui transformasi manusia; semua tradisi memiliki mitos, yang intinya adalah proses metamorfosis manusia. Transformasi seperti itu melewati tahapan yang berbeda dan itu intrinsik dari sifat manusia. Fakta ini tidak diakui oleh psikologi modern. Psikologi berfokus pada tahap pra-falus (lihat Freud), genital. Itu dapat dianggap sebagai tahap larva, yaitu pra-transformatif.

Pendidikan kita didasarkan pada tahapan ulat dan mengabaikan tahapan kupu-kupu. Pengetahuan sebenarnya menyiratkan bahwa ada inkubasi kehidupan lain (kupu-kupu) dari tahap perkembangan larva. Budaya resmi tidak mengenali dorongan mencari ini dan tidak tahu bagaimana menanggapinya dan oleh karena itu kami memiliki budaya cacing, ulat: budaya larva. Kami tidak memiliki cukup kepercayaan pada transformasi itu. Tidak ada dalam budaya kita yang memvalidasi itu, terlepas dari aspirasi ensiklopedi.

Pendidikan nyata selalu terjadi dengan bergerak melawan arus. Sekolah harus menjadi tempat yang masih memungkinkan untuk berpikir kritis. Ia harus bertindak sebagai tempat perlawanan terhadap wacana sosial yang bertujuan menghasilkan konformisme, adaptasi pasif dan pembungkaman pemikiran kritis. Pencegahan terbaik adalah bahwa budaya dan budaya humanistik menawarkan suatu titik perlawanan. Itulah inti dari pekerjaan kami di Dallas College.

Shaykh Abdalqadir as sufi

Bagaimana Anda menghubungkan seni liberal dengan pendidikan Islam klasik? Apakah ada perbedaan atau tumpang tindih?

Ketika kita berbicara tentang Liberal Arts College, kita mengacu pada model pendidikan dengan penekanan pada studi sarjana dalam seni dan sains liberal. Perguruan tinggi seni liberal dibedakan dari jenis pendidikan tinggi lainnya terutama berdasarkan kurikulum generalis dan ukurannya yang kecil.

Kita harus ingat bahwa pendidikan bukanlah proses yang netral. Berbicara tentang pedagog hebat Paulo Freire, Richard Shaull menulis:

“Tidak ada yang namanya proses pendidikan netral. Pendidikan bisa berfungsi sebagai instrumen yang digunakan untuk memfasilitasi integrasi generasi ke dalam logika sistem saat ini dan membawa kesesuaian dengannya, atau menjadi praktik kebebasan, sarana yang dengannya laki-laki dan perempuan menghadapi realitas secara kritis dan menemukan bagaimana berpartisipasi dalam transformasi dunia mereka. “

Tujuan lembaga kami bukan untuk membentuk Imam, tetapi untuk menghasilkan generasi baru umat Islam yang siap memimpin di tingkat nasional dan internasional yang dilengkapi dengan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang DIN, serta dunia. Kami percaya bahwa tujuan pendidikan, pertama dan terutama, terletak pada pembentukan karakter.

Dalam hal ini, Syekh Abdalqadir dalam pidatonya di Dallas College berbicara tentang futuwwa sebagai prinsip dasarnya:

“Futuwwa, yang didefinisikan sebagai pemuda dan kesatria, sebenarnya adalah gabungan dari kebajikan seperti kemurahan hati, kesopanan, kesucian, kepercayaan, kesetiaan, belas kasihan, pengetahuan, kerendahan hati, dan Iman. Itu adalah stasiun di jalan menuju Allah, dan juga menandakan bahwa seseorang telah membuat altruisme dan membantu kodrat kedua orang lain. Ini adalah dimensi perilaku baik yang penting dan sangat diperlukan dan aspek penting kemanusiaan. Berasal dari kata “fata” (pemuda), futuwwa telah menjadi simbol pemberontakan melawan semua kejahatan dan berjuang untuk mengabdi dengan tulus kepada Allah.”

Kami telah mengirimkan lulusan kami ke dunia, tidak hanya diperlengkapi sepenuhnya untuk memahami hubungan sosial baru yang berkembang dan instrumen politik yang berkembang pada zaman mereka, tetapi juga dengan kefasihan untuk mengekspresikan diri mereka dalam kepemimpinan serta keahlian komunikasi yang cukup global. Tujuan ini dicapai dengan menggunakan kombinasi Politik, Bahasa dan Media dan Pengetahuan Islam.

Ketika Anda menyebutkan “pengalaman batas” apakah Anda menggunakannya dalam konteks tasawwuf? Bagaimana itu bisa menjadi bagian dari pendidikan dengan cara yang positif?

Ketika kita berbicara tentang “pengalaman batas”, kita merujuk pada reaksi terhadap kecenderungan aktual untuk melanggar setiap tabu (mitos) dalam konteks masyarakat yang sangat kapitalistik.

Krisis sekolah dewasa ini mengungkapkan krisis dari proses pembentukan yang kita sebut “pendidikan”. Sekolah berisiko menjadi bukan tempat umum dimana individu dibentuk dalam hal karakter dan visi dunia, tempat tersebut saat ini telah banyak diambil alih oleh televisi dan internet, di luar bidang budaya, dengan cara yang sepenuhnya didominasi oleh hedonistik. Dorongan kapitalisme.

Justru melalui media, wacana kapitalis menyebarkan ilusinya.

Totalitarianisme baru ini diekspresikan melalui rayuan hipnotis terhadap objek kenikmatan yang ditawarkan pasar secara tak terbatas.

Kita hidup di masa fetishisme komoditas. Menurut wacana Kapitalis, kehidupan manusia akan menemukan kepuasan, kebahagiaan dan keselamatan dalam perolehan barang dalam jumlah yang terus meningkat. Item konsumen baru disajikan oleh pasar sebagai solusi untuk masalah keberadaan, untuk rasa sakit yang melekat padanya.

Barang-barang tersebut, dalam primis narkotika, yang ditawarkan pasar tanpa batas, tidak akan pernah bisa memberikan kepuasan yang nyata, melainkan menciptakan kekosongan dan kecanduan baru.

Apa yang didefenisikan oleh para ekonom sebagai keusangan yang dipercepat dari gadget telah menjadi aturan dalam hubungan antarmanusia. Bahkan cinta pun dibentuk pada model lemari es atau iphone. Kultus baru telah menjadi aturan.

Kelesuan pemuda tidak disebabkan, seperti di masa lalu, oleh pertentangan antara mimpi dan kenyataan, tetapi harus diidentifikasi tanpa adanya mimpi.

Patologi penyakit ini terbukti dalam masyarakat kita: depresi, apatis, kecanduan obat, kecanduan teknologi, anoreksia, bulimia, pornografi, dll. Anti-cinta untuk gadget telah menggantikan cinta untuk yang lain. Hanya tubuh yang tersisa, tersesat dalam pencarian soliternya untuk kenikmatan yang merusak dan autis.

Anda memiliki perhatian yang kuat terhadap Turki. Saya tahu Anda datang ke Turki beberapa kali dan Anda menyukainya. Kami ingin mendengar pengamatan dan kenangan Anda di Istanbul dan Turki, terutama dengan Sheikh Abdülkadir ketika Anda berkumpul pada tahun 1996.

Saya telah ke Turki beberapa kali dan saya selalu merasa sangat terhubung dengan negara dan rakyatnya. Sultan Mehmet Fatih, dalam pidatonya yang terkenal di atas menyatakan bahwa penaklukan Konstantinopel oleh pasukan Utsmaniyya adalah pembalasan Troya atas Yunani, karena menurut tradisi, keturunan Aeneas adalah pendiri Roma. Dan baru-baru ini seorang Shaykh Qadiry-Rifa’i dari Tarsus, yang sedang mengunjungi Afrika Selatan, mengatakan kepada saya bahwa serigala Turan dan serigala Romulus adalah hewan yang sama, menekankan kedekatan antara kedua bangsa tersebut. Di Ankara, mausoleum Hacı Bayram-ı Veli dibangun secara signifikan di samping Kuil Augustus, Kaisar Roma yang pertama.

Hubungan saya dengan Turki diperkuat pada Laylatu’l Miraj tahun 2012 ketika saya bertemu dengan Syaykh Ömer Efendi ar-Rifa di Ankara. Pengetahuannya yang mendalam tentang Jalan tasawwuf, adab dan cintanya kepada Nabi (saw) dan keluarganya membuat kesan yang sangat besar bagi saya. Kemurnian ajarannya dan penularannya seperti obat. Kualitas murid-muridnya juga menjadi bukti validitas karyanya di zaman kita. Selama kudeta yang gagal baru-baru ini, dia memanggil semua muridnya di Ankara untuk berbaris menuju kota, mereka mengadakan zikir publik pada malam hari untuk mendukung pemerintah yang sah. Dia berkata kepada murid-muridnya: “Jangan takut, kita mati hanya sekali”. Itu, menurut saya, adalah tasawwuf yang asli.

Minoritas Muslim Eropa, terutama minoritas mualaf, menghadapi banyak masalah. Dalam masyarakat non-Muslim, ada masalah serius seperti penindasan liberal yang disamarkan dengan nama integrasi. Apakah menurut Anda Muslim akan dapat melindungi diri mereka sendiri dengan tetap menjadi minoritas? Bagaimana mereka bisa berkontribusi bagi ummah?

 Ketika saya masuk Islam pada tahun 1992, di kota saya hanya ada mushola kecil di daerah yang miskin. Para jamaah kebanyakan adalah pelajar dari negara-negara Arab dan beberapa pekerja dari Afrika Utara. Nah, kalau saya tidak salah, ada tiga masjid di Parma. Islam telah menyebar di Eropa dengan pertumbuhan pesat yang sangat mengesankan.

Kami menghadapi banyak kesulitan pada awalnya. Saya ingat bahwa setiap kali saya pergi ke masjid untuk Jumat, polisi Italia akan menghentikan saya mencoba menghalangi saya dengan cara yang sangat tidak liberal.

Masalah integrasi sangat kompleks dan ambivalen dan seharusnya tidak berlaku untuk Muslim pribumi. Islam adalah filter yang memurnikan peradaban dari apa yang bertentangan dengan hukum yang diturunkan. Utsmaniyya menyadarinya, karena alasan itu, ketika mereka menaklukkan sebuah negara, mereka akan meninggalkan hukum lokal (Qanun) yang tidak bertentangan dengan Syariat.

Di Eropa, Muslim pribumi harus menjaga identitas mereka dan tidak menggunakan identitas orang lain. Islam bukanlah musuh Barat; kita tidak boleh jatuh ke dalam perangkap Amerika dan menerima gagasan “Clash of Civilizations”, tetapi lebih baik mencoba berbicara dalam bahasa rakyat. Salah satu nubuatan tentang hari kiamat adalah bahwa sebelum akhir dunia, matahari akan terbit di Barat dan ada dua makna di dalamnya.

Kita juga harus mengingat hadits yang terkenal:

“Tidak ada yang lahir tanpa dilahirkan menurut fitrah Islam yang primordial. Kemudian orang tuanya menjadikannya seorang Yahudi, Kristen dan Mazdian ”.

Jika kita bisa menyampaikan pesan Islam dalam bahasa rakyat, dan bahasa yang saya maksud bukan hanya terjemahan literal tetapi menurut Weltanschauung dari negara tertentu itu, akan ada Islam Eropa seperti di Bosnia atau Albania.

Adapun gagasan integrasi modern yang dipromosikan oleh dermawan/pemodal seperti George Soros secara global, harus ditolak karena didasarkan pada gagasan “ekumenisme” yang menyatukan semua agama di bawah payung umum cara hidup kapitalistik. Doktrin universal Hak Asasi Manusia diatur di atas dan bertentangan dengan validitas agama. Tapi bagi kita: “Satu-satunya DIN dengan Allah adalah Islam” (QS 3:19)

Sebelum mengakhiri, apakah ada hal lain yang ingin Anda tambahkan atau katakan?

Saya ingin menyimpulkan bahwa Turki akan memainkan peran besar dalam pembentukan Islam di Eropa. Bagi kami Turki seperti mercusuar di malam yang paling gelap. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *