Apa itu takdir? Ini perbedaan filsafat dan sufi. Manusia kerap jamak terjebak. Siapa yang membuat tragedi? Tuhan ataukah manusia? Disinilah diuji. Dan jika keliru, manusia jatuh pada kemusyrikan. Makanya manusia diberikan akal. Tapi bukan untuk menjadi akal-akalan.

Filosof, kaum yang mengagungkan akal. Rasio. Metode ini jamak telah lama. Termasuk ilmu kuno. Karena sebelum Socrates pun, metode ini telah turun temurun. Tapi kerap menjadi momok bagi peradaban. Begitulah filsafat. Tak selalu dipuja.

Era modern inilah filsafat menjadi bencana. Manusia terjebak pada penjaranya. Dulu, ada fase filsafat itu membebaskan manusia. Tapi kini, era filsafat itulah penjara. Manusia terjebak pada saintifik. Modernitas terpengaruh “cogito ergo sum”-nya Rene Descartes. Dia yang memulai, mengeliminasi kebenaran ala Naqli. Sepenuhnya aqli. Akal saja. Tak ada lagi kebenaran ‘emanasi’ ala Thomas Aquinas. Karena Aquinas masih mengacu pada Ibnu Rusyd hingga Al Farabi. Kaum mu’tazilah dulu. Kala filsafat di-Islam-kan. Rennaisance, kemudian filsafat di-Kristen-kan. Tapi filsafat kemudian mengeliminasi kebenaran agama. Kebenaran Naqli dieliminasi. Cogito ergo sum menjadi bukti. Cartesius dipuja.

Ini buah dari pengajaran Plato. Tentang ‘idea’. Bahwa Tuhan memberikan ‘ide bawaan’. Aristoteles menyebutnya ‘akal bawaan.’ Buah pengungkapan akal itulah, yang dianggap ‘idea’. Filosof menganggap, itulah Kebenaran. Aristoteles menyebutnya ‘substansi’. Cartesius mempertajamnya. Penyingkapan oleh akal itu bersifat mutlak, katanya. Tak perlu bimbingan Wahyu lagi. Makanya lahir, “Aku berpikir (thinking) maka Aku Ada (being)”. Dari sana, tragedi dianggap buah dari ‘perbuatan manusia.’ Bukan perbuatan Tuhan. Karena Cartesius menganggap, Tuhan sebagai penyebab sekunder. Bukan primer. Prima causa setiap perbuatan, buah dari perbuatan manusia. Tuhan hanya dianggap bak pembuat jam. Ketika jam selesai dibuat, maka jam berjalan sendirinya.

Apa dampak dari teori ini? Manusia seolah berhak membuat hukum sendiri. Manusia pun mendefenisikan tentang manusia. Lahirlah yang namanya Hak Azasi Manusia. Dan manusia pun menteorikan tentang Tuhan. Lahirlah: Ketuhanan. Itulah buah rasionalisasi manusia, terhadap alam, manusia dan Tuhan. Karena Descartes menganggap, filsafat itulah ajang dimana manusia, alam, hingga Tuhan sebagai bagian dari penyelidikan akal manusia.

Ditambah Francis Bacon pun telah merusak cara berpikir. Diktum populernya, ‘Tuhan bekerja di alam semesta melalui penyebab-sekunde.’ Inilah yang jadi pakem modernitas. Isaac Newton makin membuat akrobat. Dia menelorkan teori tentang hukum gerak ketiga, “untuk setiap usaha terdapat reaksi yang setara dan berlawanan.” Dari sinilah dasar eksprimen dan penemuan ilmiah setelahnya, yang terang mengeliminasi keterlibatan Ilahi dalam urusan ‘tragedi’ sampai ‘being’. Immanuel Kant telah mendahului dengan teori empirisme-nya. Makanya suatu tragedi, dianggap mutlak sebagai buah ‘perbuatan manusia.’ Dan inilah yang jadi jebakan dari saintifik. Manusia berpikir, setiap ruang, gerak sampai kejadian, merupakan buah dari prima kausa yang berasal dari manusia. Bukan lagi dari Tuhan. Disinilah kemusyrikan terpampang. Karena Marx makin mendefenisikan, bahwa segala seuatunya adalah materi. Manusia dipaksa, dengan logika materialisme, bahwa kehidupan ini hanya yang bersifat materi belaka. Tiada lagi ke-Ghaib-an. Perbuatan manusia menjadi mutlak.

Hingga kala wabah mendera, manusia modern pun terjebak pada saintifik semata. seolah itu buah dari “perbuatan manusia.” Buah dari kinerja manusia, dengan menafikkan kehadiran Ilahi. Prima kausa ada pada manusia. Virus dan antivirus, seolah hanya bekerja karena ‘perbuatan manusia.’ Bukan ‘perbuatan Tuhan.’

Disinilah Imam Ghazali sejak dulu telah mewanti. Akan bahayanya filsafat. Ghazali membantah filsafat-nya mutazilah. Yang telah membahayakan aqidah. Setelah Imam Asyari meluruskan aqidah, Imam Ghazali makin menegaskan. “Akal tak sepenuhnya benar, akal bisa saja salah,” katanya. Dari ulama ahlul sunnah waljamaah itulah, aqidah muslimin bisa terselamatkan.

Tapi setelah filsafat rennaisance mendera, modernitas menyapa. Filsafat telah membabi buta. Manusia terjebak pada “segala sesuatunya adalah materi belaka.” Hingga seolah “Perbuatan Tuhan” dianggap tiada.

Nietszche memberi gambaran dan bantahan. “Filsafat itulah berhala,” katanya memberi cahaya terang. Nietszche tentu “anak kandung” dari Goethe. Karena kala modernitas merebak, Goethe membantah. Tak setuju dengan filosof yang mewabah Eropa. Goethe berkata, “Mustahil alam dipikirkan sebagai sistem, karena alam adalah kehidupan.” Goethe membantah teori saintifik, bahwa alam dianggap sebagai mesin. Dan modernitas telah melahirkan mesin kehidupan. Semua dihitung berlandas rasionalitas. Makanya manusia disodori 15 tahun untuk bisa membeli rumah. Buah perhitungan rasionalitas, yang hanya menguntungkan kinerja bankir. Inilah perbudakan, buah dari rasionalitas. Dan menyingkirkan kinerja ‘Perbuatan Tuhan.’ Seolah, being, lahir dari buah ‘perbuatan manusia.’ Sebuah perbuatan pidana misalnya, hanya dilihat dari “dolus dan culpa” belaka. Tak ada lagi kamus: “takdir”. Karena hanya disebabkan “perbuatan manusia.”

Padahal Nietszche telah membantah Plato. Nietszche menilai, filosof itulah telah merusak ‘realitas.’ “Kita telah mengintervensi (realitas) dan menatanya lewat konsep pemikiran yang kita punyai,” katanya. Dan itulah chaos, kekacauan, menurutnya. Idea, konsep, menurut Nietszche, merupakan upaya indentifikasi terhadap sesuatu, tapi justru tidak identik. “Semacam suatu pemaksaan terhadap realitas,” ujarnya lagi.

Nietszche mengajak manusia untuk menerima nasibnya. “Amor fati!!”, katanya. Terima ‘takdir’. Walau Nietszche tak menyebutnya sebagai ‘takdir.’ Bukan bersifat fatalistik, melainkan menerima ‘tragedi’ secara polos dan jernih, dan penuh keingintahuan terhadap realitas yang terjadi. Nietszche menegaskan, ‘tragedi’ sebagai sebuah seni kehidupan yang tak bisa dinafikkan begitu saja. Tentu dia mengikuti apa kata Goethe.

Dari Nietszche kita mendapatkan, manusia tak bisa memaksakan ‘kehendak’ pada realitas. Karena realitas pasti terjadi. “Tapi manusia mengintervensi dengan pemikirannya sendiri,” ujarnya. Setelah Nietszche, kita mendapati Martin Heidegger. Ini yang menutup “kedai filsafat”. Heidegger menegaskan ketidakbenaran filsafat. “Filsafat bisa dibuat memadai dan tak memadai,” katanya. Heidegger menampik, filsafat sebagai pondasi Kebenaran. “Karena filsafat telah mencerabut Kebenaran dari akarnya,” terangnya. Heidegger membantah filsafat, karena filsafat dianggap bukan lagi mencari realitas, tapi bersifat khayali. ‘Being and Time’-nya Heidegger membawa kita kembali ke pintu gerbang Kebenaran. Apa itu? generasi barat setelah Nietszche dan Heidegger menjawabnya. Dan dia telah menemukan Kebenaran itu. Dialah Ian Dallas, yang telah memberikan jawaban. Kebenarannya tak lagi kembali pada Islam.

Tapi Dallas bukan merujuk Islam versi wahabbi, yang sepenuhnya inderawi (rasionalitas) apalagi modernis Islam, yang ikut-ikutan memaksa berfilsafat. Melainkan kembali memahami Tauhid Qurani. Memberikan jawaban. Dari Dallas, kita mahfum mengapa Asyari, Imam Ghazali sampai Ibnu Khaldun membantah filsafat mutazilah. Karena filsafat telah mengubah penilaian tentang ‘takdir’.

Dallas seorang sufi. Dia berkata, “Bukan buah yang menghasilkan pohon, melainkan pohon yang merindukan datangnya buah,” katanya. Ini menunjukkan tentang penggambaran “perbuatan manusia” dan “Perbuatan Tuhan.”

Imam Ghazali juga merinci. Kertas bisa terbakar oleh api, bukanlah buah “perbuatan manusia.” Melainkan tetap sebagai “perbuatan Tuhan.” Filsafat mematok bahwa kertas itu terbakar karena manusia yang membakarnya. Padahal bukan. Realitas tak berubah. Hanya pendapat manusia yang berubah. “Hati-hati dengan pendapat, karena itu memberimu derajat,” kata Shaykh Abdalqadir as sufi (Ian Dallas). Derajat itu, maksudnya, manusia seolah “menjadi” Tuhan. Dan itulah penyakit sindrom ‘Oedipus’, digambarkan Dallas. Dalam kisah Oedipus versi Nietszche, anak ingin menjadi ayah. Dalam kisah Oedipus versi Dallas, manusia ingin “menjadi” Tuhan. Itulah dengan menetapkan ‘tragedi’ oleh manusia. Seolah kertas itu terbakar karena “perbuatan manusia.” Padahal bukan.

Imam Ghazali menjelaskan, Tuhan menciptakan kayu berikut dengan sifat-sifat kayu. Berikut juga menciptakan kertas, berikut dengan sifat-sifatnya. Menciptakan api, dengan sifatnya yang membakar, benda yang bisa terbakar. Manusia hanya menggabungkan sifat api dan sifat kertas. Air dipanaskan bisa mendidih, bukan buah kinerja “perbuatan manusia.” Melainkan karena Tuhan menciptakan air dan api, berikut dengan sifat-sifat api dan air itu. jadi prima causa tak bergeser, bukan sebagai “perbuatan manusia.” Melainkan sebagai “perbuatan Tuhan.”

Sementara filosof menganggap, terbakarnya kertas oleh api, buah “perbuatan manusia.” Karena manusia, kata filosof, seolah menggali “idea”, substansi, berkat cara kerja akalnya. Padahal bukan. Manusia hanya menemukan sifat-sifat dalam benda yang merupakan ciptaan Tuhan sepenuhnya. Manusia tetap berada dalam “rububiyya”nya Allah Subhanahuwataala. Dan alam ini, kata Shaykh Abdalqadir as sufi, memiliki rububiyya, yang mutlak merupakan domain Tuhan.

Dari situlah, tragedi kecelakaan, virus sampai urusan daun yang jatuh, semua telah berada dalam ‘ketetapan.’ Itulah makna Qada dan Qadar. Nasi yang kita makan, bukanlah buah “kita membeli beras dan memasaknya.” Melainkan karena telah ditakdirkan sejak dulu, nasi itu akan kita makan di hari itu. Tentu ini mengubah cara berpikir, agar kita mampu menyerap realitas sesuai dengan realitas. Bukan sesuai dengan ‘qudrah dan iradah’ manusia. Karena Qudrah dan Iradah sepenunya berada pada domain Tuhan.

Karena ketika manusia berhasil membuat mesin uap, misalnya, maka seolah itu buah “perbuatan manusia.” Alhasil memunculkan copyright, dan berbuah pada kapitalistik. Inilah buah dari saintifik. Manusia berpikir bak mesin, yang menganggap causa prima ada pada manusia. Alhasil terjadilah penindasan, karena “penyingkapan akal” seolah melahirkan “perbuatan manusia” yang berujung pada “ke-aku-an”, dan tentu menafikkan ke-Ilahi-an. Manusia melupakan tentang penghambaan.

Dari buah “perbuatan manusia” itu, manusia seolah mampu menghadirkan saintifisme. Terlena pada alam mulk semata. Padahal ini hanyalah alam materi, yang alam paling bawah. Sejatinya ada alam lain yang harus juga ditelurusi manusia, tapi bukan dengan akal.

Melainkan dengan qalbu dan menghidupkan ruhaninya. Alam malakut, jabarut hingga Lahut. Sebuah realitas juga, tapi tak tertembus rasionalitas. Disinilah jebakan filsafat.

Wajar jika kemudian Nietszche memberi vonis, filsafat itu berhala. Karena manusia menjadi keasyikan pada alam mulk semata. melupakan realitas Ilahiah, yang sejatinya itulah tujuan manusia di dunia. Bukan sibuk dengan “segala sesuatunya adalah materi.” Alam materi ada batasnya. Alam Ghaib itu juga realitas, yang harus ditelusuri. Disitulah keindahan alam semesta. Disitulah Kebenaran bersarang. Karena manusia jamak terjerambab pada rasionalitas belaka itulah, Nabi-Nabi Allah kerap diturunkan. Isra Mi’raj, semata untuk merontokkan manusia dari berhalanya: rasionalitas itu. Karena manusia kerap terjerambab: segala sesuatunya hanyalah materi. Itulah kemusyrikan.

(Irawan Santoso Shiddiq)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *