oleh: SHAYKH ABDALQADIR AS SUFI

Ibn al-‘Arabi memulai dengan mengutip sebuah hadits Rasul, sallallahu ‘alayhi wa sallam yang sangat terkenal, “Allah telah Ada dan saat itu tidak ada apapun selain Allah”, kemudian beliau beranjak untuk merujuk kepada sebuah tanggapan terkenal mengenai pernyaatan tersebut. Seorang sufi agung, Imam al-Junayd dari Baghdad, dan suatu hari beliau (Imam Junayd) duduk di dalam masjid dan seseorang mengutip Hadits itu “Allah telah ada dan saat itu tidak ada apapun selain Allah”. Dan Imam al-Junayd mengatakan: “Ada-Nya Dia sekarang sebagaimana Ada-Nya dahulu”. Tidak ada apapun yang bersama-Nya.

Shaykh al-Akbar mengatakan: “Tidak ada Sifat yang mengacu pada-Nya yang  mana Dia belum memilikinya dari faktanya bahwa Dia membawa dunia kepada eksistensi. Dia mendeskripsikan diri-Nya sendiri dihadapan ciptaan-Nya dan menamakannya dengan nama-nama, yang dengan itu  para ciptaan-Nya memanggil-Nya. Ketika Dia berkehendak dunia untuk eksis, sesuai batasannya Dia Maha Mengetahui dengan Ilmu-Nya sendiri, ini terjadi oleh keinginan murni dengan semacam ‘tajalli’” —itu kata yang beliau gunakan—. Saya akan menjelaskan tentang makna kata tersebut. Karena hal itu merupakan kata kunci pada Ibn al-‘Arabi. Itu adalah sesuatu yang harus digunakan karena muncul lagi dan lagi. Sebagai contoh, hal tersebut diterjemahkan di sini sebagai manifestasi, tetapi bukanlah manifestasi. Jadi saya harus menyisihkan sedikit waktu pada kata ini (tajjali-edt) jika anda tidak keberatan.

“Tajalli” berasal dari akar kata ‘jalal-keagungan.’ Tajalli seperti sebuah emanasi, seperti sesuatu yang muncul dari sumber tersembunyi dan ini tidak terkandung dalam kata ‘manifestasi’, karena terdapat banyak manifestasi yang berasal dari sumber jelas-nyata yang dapat dikenali. Penjabaran Ibn al-‘Arabi bergulat dengan proses tersebut, yang dengannya kita menjumpai eksistensi. Beliau mengenali kemunculan primal tertentu, yang memberi pengaruh terhadap realitas semesta yang kita ketahui sekarang. Beliau mengatakan bahwa dunia didatangkan ke dalam eksistensi dengan sebuah ‘tajalli,’ dengan menampilkan– seterusnya.

Kemudian beliau mengatakan bahwa sebuah realitas telah diakibatkan dari menampilkan —seterusnya ini, tajalliyat-tajalliyat ini–,  dari diskoneksi terhadap realitas semesta yang disebut debu atau nebula. Nebula layaknya sebuah gips yang mana tukangnya men-cetak sehingga kemudian ia dapat membuat apapun bentuk dan rupa yang diinginkannya. Beliau mengatakan inilah eksistensi pertama dalam semesta, oleh ‘Ali ibn Abu Talib, Keponakan Nabi, Sallallahu ‘alayhi wa sallam, dan sang sufi besar Sahl at-Tustari,  diantara orang-orang yang merealisasi dan orang-orang yang menyingkap selubung semesta.

Kemudian Allah dengan Cahaya-Nya hadir pada debu ini, untuk kemudian menyeru, Dia menunjukkan diri-Nya pada debu ini. Keseluruhan semesta ini dengan potensialitas dan kapasitas. Lalu segala sesuatu dalam debu ini membenarkan-Nya menurut pada potensial dan kecendrungannya sebagai sudut-sudut dari sebuah ruangan yang menerima cahaya dari sebuah lampu. Dan intensitas dari iluminasi dan penerimaannya tergantung pada kedekatan terhadap cahaya. Jadi beliau mengatakan bahwa semesta memiliki bagian-bagian yang teriluminasi dan bagian-bagian yang terdapat dalam kegelapaan yang amat sangat. Beliau mengutip ayat Qur’an “Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti misykat yang di dalamnya ada pelita besar.”

Yang harus anda pahami dari kosmogoni dari Shaykh adalah pemahamannya bahwa semua yang-diketahui itu hadir sejak mula, meskipun itu semua belumlah dimunculkan. Seperti huruf-huruf yang akan kemudian menjadi kata-kata. Seperti kata-kata yang kemudian menjadi frasa-frasa. Seperti terdapat sebuah makna yang akan muncul dalam kemunculan kalimat. Tetapi kalimat itu terdapat awalan pada kemunculannya saat dimana itu semua masih hanya berupa huruf-huruf. Jadi beliau mengatakan tiada apapun yang lebih dekat terhadap cahaya dalam menerima cahaya di dalam debu tersebut kecuali realitas Muhammad, sallallahu ‘alayhi wa sallam, yang kita sebut sebagai nalar. Realitas dari Nabi adalah logika. Logika menjadi fakultas dari pemikiran yang melihat secara langsung. Logika berasal dari kata Latin untuk kata cahaya, tapi bukan dari proses pemikiran logis (seperti yang dimaksud dalam filsafat-edt).

Jadi itulah yang menjadi lembaran induk keseluruhan semesta dan hal pertama yang muncul dalam eksistensi. Eksistensi ini berasal dari cahaya ilahi tersebut dan dari debu dan dari realistas semesta. Sumber itu mengeksis di dalam debu tersebut. Sumber dari semesta berasal dari tajalli-Nya. Dengan kata lain: makna merupakan yang terakhir untuk muncul tetapi pada faktanya memanifestasi sejak permulaannya. Makna dari lebah adalah madu, tetapi pertama-tama pastilah ada lebah, pastilah ada sarang berbentuk segi enam, pastilah ada ratu lebah, pastilah bertelur dan pada titik tertentu munculah madu. Meskipun begitu ini merupakan akibat, hasil. Beliau menghubungkan Rasul dengan logika itu sendiri dikarenakan perwujudan pengetahuannya yang paling lengkap terhadap kehidupan dalam eksistensi.

Sementara para saintifik dimana keseluruhan semesta mengeksis tanpa pemisahan, ini pengetahuan yang bersandar pada Yang Maha Benar (Nyata), bersandarkan pada Esensi-Nya. Beliau (Shaykh al Akbar-red) mencopot total ide, bahwa kita dalam ketidaktahuan dan kita harus menemukan hal-hal. Beliau mengatakan yang-diketahui adalah semua yang sudah siap untuk diketahui. Allah mengetahui kita dengan Ilmu-Nya dari Diri-Nya Sendiri dan membawa kita ke dalam eksistensi menurut apa yang Dia ajarkan pada kita. Kita memiliki bentuk spesifik dalam Ilmu-Nya. Jika kejadiannya tidaklah demikian, bentuk ini akan datang kepada kita dengan kecelakaan bukan dengan maksud karena Dia tidak akan mengetahuinya. “Tidaklah mungkin bahwa kemunculan ‘bentuk’ ke dalam eksistensi dengan kecelakaan.” Ini merupakan kalimat yang sangat  penting dikarenakan yang membuat garis  pemisah antara keseluruhan prosedur dari filsafat sains. Jadi sangat tidak mungkin bahwa terbit-edarnya ‘bentuk’ ke dalam eksistensi, dengan kebetulan.

Teori tentang peluang merupakan sebuah penipuan linguistik bukanlah sebuah realitas saintifik. Saya mengatakan demikian untuk menggolongkan subjek utama kita. Jika anda lihat semua definisi dari peluang dan mempertanyakan itu semua, ketimbang menerimanya dengan kerendahan hati, anda akan melihat itu semua bukanlah definisi dari peluang, (tetapi) itu semua adalah definisi dari determinisme absolut. Dan penipuan itu dengan cara percobaan untuk mencapai pemahaman dengan angka kesalahan anda, karena ketika kemudian anda harus mengatakannya dalam kata-kata, kemudian harus mengatakan sebuah kebohongan. Contoh besarnya ialah dalam perkataan di luar dari kabut kosmik, bloop!-kehidupan alam hadir secara kebetulan. Tetapi metafora yang diberikan seperti roda rolet yang berputar dan bolanya secara peluang mendarat pada angka. Dan anda kehilangan uang anda, karena semua pada angka-angka lainnya. Dan, bloop!-pada angka-angka tersebut anda memiliki gabungan asam amino yang membentuk kehidupan.

Teori ‘peluang’ merupakan sebuah proses determinasi tanpa sebuah observasi pemahaman. Jika roda rolet berputar dengan jauhnya dalam satu jam dalam pengurangan kecepatan melebihi satu periode dari banyaknya menit, jika bidangnya, bolanya yang mana harus diletakkan dalam yang memiliki berat dan dimensi tertentu dan ini berputar dengan arah yang berlawanan dengan kecepatan tertentu yang berkurang dengan waktu tertentu dan kedua prosedur ini ditetapkan dalam gerakan, secara absolut tak dapat terhindarkan bahwa bolanya akan mendarat pada angka dimana bola itu mendarat.

Secara matematis ini tak dapat terhindarkan! Itu tidaklah bisa dilakukan! Saya, sebagai yang mengobservasi, tidak dapat membuatnya terjadi, jadi saya menyebutnya peluang. Jadi seseorang yang memasang uangnya pada angka adalah seorang idiot. Itu adalah contoh dari saintis materialis modern. Mari kita kembali pada Shaykh (Ibnu Arabi).

Beliau mengatakan: “Jika itu belum terjadi bahwa bentuk spesifik ini diketahui Allah dan dikehendaki-Nya, Dia tidak akan membawa kita ke dalam eksistensi atasnya.” Dan bentuk ini tidak dapat diambil dari lainnya karena telah dikonfirmasi bahwa Allah telah ada dan tidak ada sesuatu selain Dia. Jadi yang hanya tersisa ialah bentuk-bentuk itu (yang) Dia bawa oleh diri-Nya sendiri, Dia mengetahuinya dengan diri-Nya sendiri, Dia mengetahui kita sebelum waktu, bukan setelah non-eksistensi. Itulah bagaimana ilmu-Nya terhadap kita. Model dari kita yang mana sama dengan ilmu-Nya terhadap kita adalah di luar dari waktu dengan diluar-dari-kewaktuan (timeness) Allah karena itu merupakan sifat-Nya dan dalam-kewaktuan tidaklah terkait dengan-Nya. Allah Maha Agung dari semua itu.

Ada kalimat terkenal lainnya dari Shaykh, “Allah berkuasa atas semesta dari dalam semesta.” Ini merupakan sebuah proses kekuasaan-pribadi tetapi makhluk dapat menyetel pengetahuan mereka untuk mengenali sumber. Jika mereka mengenali sumber mereka akan memahami, dan untuk melakukan itu mereka harus mengenali sumbernya sendiri. Pengetahuan semesta apapun melibatkan pengetahuan tentang diri anda.

Mengapa semesta dibawa ke dalam eksistensi, apa tujuannya? Jawabannya ialah di mana Allah berfirman di dalam Qur’an “Aku hanya ciptakan manusia dan jinn untuk menyembah-Ku.” Dengan kata lain makhluk dalam dunia cerapan inderawi dan makhluk dalam dunia tersembunyi. Dia membuat sebuah pernyataan yang jelas mengenai alasan untuk apa Dia membawa kita ke dalam eksistensi dan sama halnya dengan keseluruhan semesta, saat Allah menyebutkan kita dan jinn secara khusus. Di sini jinn merupakan setiap sesuatu yang dinamis yang tersembunyi, malaikat atau yang lainnya.

Juga, makhluk diciptakan untuk mengenal Allah dan pengenalan menyerukan penyembahan, ritual penyembahan dalam Islam adalah untuk semua orang, untuk orang-orang awam yang tidak berpikir dan memeriksa tetapi juga untuk para elit (khawas), yang berpikir dan memeriksa. Dan bagi yang terpilih yang mempersepsikan hal-hal spiritual secara langsung. Jadi ritual penyembahan yakni Shalat lima waktu dalam sehari semalam, membayarkan sebagian kekayaan anda untuk menolong yang lain (Zakat), menjalani siang hari tanpa makanan untuk sebulan (Shaum), sekali dalam seumur hidup mengambil perjalanan untuk menziarahi Mekkah (Haji)-semua ini diberikan oleh Allah untuk memfasilitasi prosedur total dari pemahaman.

Sebagai contoh, terdapat banyak shalat yang bisa ditunaikan selain dari shalat lima waktu. Seorang Badui yang tidak terjamah pendidikan, tidak membaca-tulis, melihat para Sahabat bersinggahan, menunaikan shalat tambahan ini, dan dia menghampiri mereka dan berkata “Saya tidak mengerjakan itu semua! Anda mengatakan lima, dan saya mengerjakan yang lima, apakah saya akan masuk surga?” semua orang merasa terganggu tetapi Nabi, sallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda “Ya! Itu sudah cukup.” karena Rasul berbicara tentang shalat dengan sujud, dan sujud telah dilakukan dengan pemahaman. Yang lebih baik memahami, perlunya akan shalat berlebih (sholah Sunnat). Mereka bertanya kepada Imam al-Junayd, Imam besarnya para sufi,  dikutip dalam kitab ini “Apa yang anda dapatkan dari semua ini?” dan beliau mengatakan, “Shalat di bawah tangga selama tigapuluh tahun.” Dan Aisya, istri Rasul, sallallahu ‘alayhi wa sallam, berkata padanya (Rasul Shallahuallaihiwassalam), “Walaupun Engkau telah dijanjikan Taman (surga), mengapa kamu tetap mengerjakan shalat?” Dan beliau mengatakan “Apa aku bukan hamba yang bersyukur?”

Kemudian beliau beranjak ke poin selanjutnya yaitu bahwa diantara manusia terdapat para filosof dari diantara orang-orang yang menginvestigasi dan membuktikan, dan mereka terjebak pada rasa, keterpaksaan dan pembuktian. Mereka mengatakan seseorang harus memiliki nalar untuk memahami apa yang mereka katakan, dan dalam persoalan itu mereka mengatakan kebenaran. Urusan kita seperti hal itu, tetapi kita mengatakan bahwa keseluruhan semesta adalah intelejen, hidup dan terjelaskan. Ini dikonfirmasi dengan pengalaman pembukaan selubung. Dengan merusak norma-norma, yang kadangkala terjadi, ketika rupanya hukum-hukum fisik biasa digantikan dalam sebuah peristiwa.

Ketika mereka mengatakan ini tidak bisa dipahami, benda mati, tidak memiliki intelegensi dan tidak memiliki kehidupan, mereka menghentikan apa yang mata mereka katakan pada mereka. Apa yang menjadi urusan kita tidaklah seperti demikian. Inilah bahwa rahasia hidup itu mengalir melalui keseluruhan semesta. Dan beliau merujuk kepada Rasul yang mengatakan bahwa ketika seseorang menyerukan panggilan untuk shalat, segala sesuatunya dimana saat  panggilan untuk shalat dikumandangkan, yang basah atau kering, akan menjadi saksi baginya di akhirat. Ini dikonfirmasi dengan pembukaan selubung, bukan dengan deduksi seseorang yang melihat kepada informasi yang menunjukkan dengan jelas.

Barangsiapa yang ingin memahami ini haruslah mengambil perjalanan dari jalannya para lelaki Allah (Rijallalah), haruslah masuk ke dalam tempat pengasingan diri (khalwa) dan berdzikir dan berdoa. Kemudian Allah akan memperkenalkan kepadanya dengan semua itu secara langsung dan ia akan melihat bahwa orang-orang buta terhadap persepsi dari realitas-realitas ini. Inilah rekomendasi pertamanya ke tempat pengasingan (khalwa), menarik diri dari orang-orang. Jika anda menarik diri dari dunia fenomenal ini seperti seseorang yang menyelam ke dalam samudera. Pertama-tama semuanya hitam. Kemudian seiring dia sudah terbiasa di dalam airnya, bentuk-bentuk muncul dan mereka mengambil cahaya mereka dari kegelapan-ikan bercahaya bersinar dari bagian dalam bentuknya, mereka mendapatkan cahaya mereka dari kegelapan, mereka tercahayakan di dalam kegelapan-dan seiring anda menjadi terbiasa padanya kemudian anda mulai untuk mengidentifikasi semua makhluk dari lautan.

Menarik diri dari dunia fenomenal di bawah instruksi-karena anda memiliki proses yang sama dengan dunia yang tampak seperti yang anda miliki pada dunia yang tak tampak, anda tidak pergi dan tinggal sendirian di dalam sebuah goa untuk memahami menjadi seorang manusia, anda mengambil instruksi-instruksi dari semua yang di sekitar anda-hasil utamanya hanyalah dalam kegelapan, tidak ada apa-apa di sini. Kemudian makna-makna mulai muncul dapat dilihat pada tingkatan itu. Untuk menuju kepada sebuah pengenalan sederhana dari semua yang anda miliki: jika anda mengambil sebuah rumah, ini layaknya sebuah alat perekam yang hebat. Ini magnetik, layaknya instrumen magnetik, dan semua yang telah terjadi ada pada perekamnya. Dan anda memasukinya dan anda menyadari sesuatu darinya. Bahkan orang-orang yang mengambil obat-obatan psikotropika, dan menjadi lebih sensitif, berbicara tentang getaran yang bagus. Ini merupakan sebuah pembacaan terhadap sesuatu yang tak tampak. Itu merupakan sebuah contoh sederhana dari fakta bahwa fakultas manusianya dimatikan. Anda harus ingat bahwa kita mungkin dalam permulaan sejarah di mana manusia hidup tanpa menyortir gambaran terstruktur dari dunia yang tak-tampak (Ghaib). Kita memiliki banyak kaitan dengan orang-orang Indian Amerika dan mereka memandang mereka hidup di antara sebuah spesies sub-manusia, karena mereka memiliki secuil pengajaran profetik mereka dari masa lalunya. Mereka tidak meragukan bahwa dunia yang tak tampak ada (ghaib) di sekitar mereka, dan bahwa binatang-binatang dan bebatuan semuanya berbicara.

Allah membawa semesta ke dalam eksistensi dalam rangka untuk memanifestasi kekuasaan dari nama-nama-Nya. Kekuasaan tanpa objek kekuasaan. Kedermawanan tanpa hadiah. Menyediakan tanpa peruntukkannya. Penolong tanpa yang ditolong. Maha Pemurah tanpa sebuah objek yang dimurahatikan. Realitas kita sama sekali tidak ada pengaruhnya. Beliau juga merujuk pada ciptaan dari makhluk manusia sebagai sebuah debu campuran dalam bahasa metafora. Beliau mengatakan bahwa manusia telah diberikan dua dimensi: pertama, ialah keasadaran pada kematian dan yang lainnya adalah kesadaran pada keabadian. Inilah yang merupakan elemen-elemen dasar dalam debu makhluk manusia.

Bukan sebagai sebuah ide (teori/gagasan), tetapi ini adalah pengalaman dari eksistensi. Bahkan para saintis mewaktui permulaan dari spesies manusia oleh ujung waktu di mana kita menguburkan kematian. Dan tanda dari peradaban yang mana terhubung dengan penguburan kematian adalah indikasi-indikasi dari sebuah pengenalan bahwa seseorang sedang dalam sebuah perjalanan. Penolakan untuk mengenali bahwa anda akan mengalami kematian, menjalani kehidupan  seolah-olah akan hidup selamanya, yang menjadi filosofi zaman modern, bermakna bahwa anda hidup di dalam penyangkalan bahwa anda akan hidup setelah mati. Adalah hidup dalam ilusi bahwa anda akan hidup untuk selamanya yang merupakan (keadaan) keracunan dan segala kebahagiaan telah diambil oleh penyangkalan eksistensial dari keabadian anda.

Permulaan kesadaran dari proses total semesta dimulai dengan mengenali dua dimensi ini dalam diri anda. Anda adalah makhluk dalam-waktu. Itulah mengapa kita menunaikan shalat lima waktu dalam sehari. Itulah mengapa kita berpuasa, karena ini mengingatkan seseorang terhadap tubuh yang berketergantungan. Dan membayar Zakat, pungutan untuk membantu yang lain, di dalam kesadaran sebuah kehidupan-selanjutnya karena kita menginginkan sebuah rekaman kedermawanan. Kita menunaikan Haji dengan jutaan lainnya karena setiap orang ketika menunaikan Haji itu mengenakan dua lembaran putih layaknya seseorang yang siap dikubur. Ketika mereka menuju padang ‘Arafat dan mereka melihat jutaan orang semuanya putih mereka memahami makna dari kebangkitan setelah kematian.

Kita akan mengakhiri ini dengan dengan mereferensi pada manusia. Kita telah mengatakan: Yang Maha Benar (Nyata), realitas semesta, keseluruhan dunia, manusia. Keberadaan yang diketahui. Beliau mengatakan bidang makrokosma dari alam semesta dan mikrokosma dari manusia adalah hubungan timbal-balik. Seseorang dapat berdiri untuk yang lainnya. Makrokosma seperti seorang manusia besar. Dan manusia seperti semesta kecil. Anda adalah kumpulan dari itu semua. Ini merupakan pemisahan dari anda semua. Material dasar anda adalah formasi bebatuan, yakni mineral, fosfor, elemen-elemen dasar-panas, dingin, basah dan kering ada di dalam anda. Dan sebagaimana kesadaran ada di dalam diri anda ini juga ada di dalam semesta. Semua makhluk adalah dari anda.

Hanya untuk mengambil ini secara metafora: usus-usus adalah seekor ular, mencerna dengan gerak peristaltik, jadi ular ada di dalam diri anda. Paru-paru layaknya burung. Burung itu 80% paru-paru. Simpul saraf perut adalah sarang laba-laba. Ini ada di sana dan menit dimana makanan datang keseluruhannya bergerak dan makanan diambil. Mata layaknya tiram, ini seperti moluska di dalamnya lautan. Mata merupakan organ dominan bagi manusia berakal. Dan seperti yang anda ketahui, hal pertama yang muncul di dalam samudera ialah moluska, adalah bentuk organisme pengamat yang melihat dan mengambil makanannya seperti tiram dan ini sesuatu. Ada pernyataan terkenal dari Darwin yang agak menyenangkan, dia mengatakan: “Ini semua masuk akal jika bukan karena mata terkutuk itu,” karena inilah organ yang paling kompleks yang kita miliki.

Tetapi hal pertama yang muncul di dalam lautan adalah yang paling kompleks dan sesuatu yang canggih yakni penglihatan moluska. Yang mana anda berakhir dengan mata malah anda bermula dengan mata. Ini juga bukan untuk menyanggah Darwin karena dengan sebuah cara mekanistis dia melihat sebuah pola menyeluruh seperti banyaknya dilakukan penulis sebelumnya. Tetapi mata seperti sebuah akhir dan begitu juga ada saat permulaan, yang mana sudah kita indikasikan. Kata mata dalam bahasa Arab juga merupakan kata untuk sumber anda. Dan penglihatan dari mata ialah sesuatu yang mengizinkan pengetahuan dan kemudian kita akan tiba pada peran penglihatan dalam perjalanan spiritual bagi seseorang yang menginginkan pengetahuan. Saya akan melompat sedikit ke depan. Anda lihat, sebagai contoh, Ibn al-‘Arabi mengatakan bahkan  pengetahuan kita tentang waktu, segala sesuatu, semua hal-hal besar  yang kita ketahui ini tidak datang dari jalan yang besar, itu semua datang secara langsung dalam sebuah jalan eksistensial. Jadi kita mengambil kata realitas sepanjang waktu. Jika saya menolehkan kepala saya di saat yang bersamaan saya menggerakkan lengan saya, saya mengalami langsung proses dari waktu dalam pergerakan tubuh saya sendiri. Begitu juga ketika itu tiba kepada refleksi, refleksi mendalam. Refleksi juga merupakan fungsi mata-seperti halnya para saintis fisika materialis yang berdebat tak berujung tentang melihat itu dengan mata atau dengan otak tetapi fakultas dari penglihatan itu mendahului tindakan melihat. Allah berfirman dalam Qur’an: “Bukanlah mata yang di kepala yang buta tetapi mata yang di hati yang buta.”

Kemudian kita bertolak dari tindakan kepada sifat, dan sifat-sifat itu mununjukkan Esensi tetapi ini tidaklah terkoneksi dengan semesta. Adalah pemahaman terbatas ini yang meminta negasi yang membuat ketegangan tinggi, intensitas yang tinggi di dalam manusia-sesosok makhluk dalam-waktu, tuannya alam semesta, menyadari bahwa semua sifatnya adalah sifat yang dipinjamkan dengan kontrak dalam-waktu, mengetahui bahwa ini memiliki sumber di dalam non-waktu, dan berkeinginan untuk terkoneksi kepada apa yang tidak bisa terkoneksikan. Inilah yang mengendalikan manusia, inilah sumber dari segala peluncuran manusia, dan juga mengapanya dimanapun mereka diluncurkan, apapun yang mereka buru-buru bawa semua itu mereka tinggalkan di belakang. Untuk alasan inilah shalat ditetapkan, puasa ditetapkan, untuk menyetujui sebuah bingkai dimana refleksi yang sangat kecil nan sedikit dapat bermula. Jadi itulah pendahuluannya.

Jika anda tetap bersabar dengan saya kita akan melanjutkannya. Jika siang ini sudah terlalu banyak kita akan mulai lagi besok atau kapanpun orang-orang menginginkannya. Aturlah ini untuk orang-orang. Saya sedang melayani anda. Setelah minum teh? Sangatlah dekat waktunya! Ini bukanlah marathon. Makanlah dan cernalah ini! Besok kita akan lakukan yang lebih. Setelah makan siang tidak satupun yang berpikir. Itulah ketika mereka menandatangani perjanjian damai orang-orang Bosnia. Jam sepuluh besok! Terimakasih banyak atas perhatian dan rasa hormat kalian yang luar biasa.

(Bersambung)

*Ceramah disampaikan di Weimar, Swiss, pada tanggal 16 Desember 1995. Beliau adalah Mursyid tariqah Qadiriyya Shadziliyya Dharqawiyya. Pemimpin kaum muslimin di Eropa dan kini menetap di Cape Town, Afrika Selatan.

Penerjemah: Sidi Mizar Neta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *